bukamata.id – Kawasan hutan memegang peranan krusial sebagai penyeimbang ekosistem global. Selain menampung keanekaragaman hayati dan menyerap emisi karbon, tutupan hijau ini mengatur siklus hidrologi bumi dengan menyaring air hujan sebelum mengalir ke kawasan sungai maupun waduk.
Merujuk laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), total penutupan hutan bumi membentang sejauh 4,1 miliar hektare atau mencakup 31 persen area daratan planet ini. Kendati demikian, distribusinya terbagi tidak merata di berbagai belahan dunia.
Rusia Mendominasi Hutan Global
Rusia mengukuhkan posisinya di peringkat pertama sebagai negara pemilik wilayah hutan paling lapang di dunia. Data FAO mencatat luas tutupan hijau Rusia menembus 833 juta hektare—menyumbang hampir seperlima (20 persen) dari total ketersediaan hutan di seluruh daratan bumi.
Brasil menyusul pada urutan kedua dengan bentangan hutan seluas 486 juta hektare, disusul Kanada yang mengantongi 369 juta hektare.
Sementara itu, Indonesia berhasil bertahan di peringkat kedelapan dunia. Luas wilayah hutan Tanah Air terdeteksi mencapai kisaran 96 juta hektare.
Daftar 10 Negara dengan Tutupan Hutan Terluas
Berikut pemetaan 10 negara pemilik kawasan hutan paling membentang berdasarkan data statistik FAO:
- Rusia: 833 juta hektare
- Brasil: 486 juta hektare
- Kanada: 369 juta hektare
- Amerika Serikat: 309 juta hektare
- China: 227 juta hektare
- Republik Demokratik Kongo: 139 juta hektare
- Australia: 134 juta hektare
- Indonesia: 96 juta hektare
- India: 73 juta hektare
- Peru: 67 juta hektare
Ancaman Bencana Karhutla Mengintai Ekosistem
Di balik bentangan vegetasi yang amat luas, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus membayangi berbagai negara. Fenomena ini memicu krisis ekologi serius, merusak habitat satwa liar, hingga mengganggu kestabilan pemukiman warga sekitar.
Garis pemantauan Global Wildfire Information System (GWIS) mencatat amukan karhutla secara global telah mengusung kerusakan hingga 112,3 juta hektare lahan—wilayah yang secara kuantitas setara dengan total daratan Afrika Selatan.
Republik Demokratik Kongo mencatatkan deforestasi akibat api tertinggi yakni mencapai 13,6 juta hektare, diikuti Australia yang mencatatkan dampak kerusakan seluas 11,8 juta hektare.
Di dalam negeri, rekapitulasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi luasan karhutla di Indonesia telah menembus angka 72.798 hektare—sebuah cakupan area yang sudah melampaui total luas wilayah Provinsi DKI Jakarta. Kondisi ini menegaskan pentingnya langkah proteksi aktif guna menjaga fungsi ekologis hutan secara berkelanjutan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










