Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bangunan Six Nine Padel Tetap Beroperasi, Satpol PP Tegaskan yang Disegel Hanya Videotron Tak Berizin

Rabu, 5 Agustus 2026 15:35 WIB

Laga Hidup Mati Timnas Indonesia Kontra Singapura: Skenario Penentuan Tiket Semifinal Piala AFF 2026

Rabu, 5 Agustus 2026 15:31 WIB

Debut Singkat! Mariano Peralta Siap Jadi Senjata Persib di Final Piala Presiden 2026

Rabu, 5 Agustus 2026 15:16 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bangunan Six Nine Padel Tetap Beroperasi, Satpol PP Tegaskan yang Disegel Hanya Videotron Tak Berizin
  • Laga Hidup Mati Timnas Indonesia Kontra Singapura: Skenario Penentuan Tiket Semifinal Piala AFF 2026
  • Debut Singkat! Mariano Peralta Siap Jadi Senjata Persib di Final Piala Presiden 2026
  • Videotron Six Nine Padel di Jalan Riau Disegel, Satpol PP: Izin Reklame Belum Terbit
  • Kasus Penebangan Pohon di Jalan Riau Masuk Ranah Pidana, Polrestabes Bandung Dalami Unsur Perusakan
  • Badai Jadwal Piala Presiden 2026: Pelatih Persib Keluhkan Fisik Pemain Jelang Play-off Asia
  • BOCOR KE PUBLIK! Parodi Pedas dan Rekaman Kamera Raksasa Dedi Mulyadi Meledak di Medsos!
  • Maung Bandung vs Bajol Ijo: Siapa Rajanya? Prediksi Final Piala Presiden 2026
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 5 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

140 Hektare Kebun Teh Hilang, Menguak Penjarahan Pangalengan dan Ancaman Banjir Bandang yang Mengintai

By SusanaSenin, 8 Desember 2025 09:00 WIB4 Mins Read
Polresta Bandung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) terkait perusakan tanaman teh di area Perkebunan PTPN I Regional II Malabar, Kecamatan Pangalengan, Kamis (27/11). Foto Dok Humas Polresta Bandung.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pangalengan, Kabupaten Bandung, kembali menjadi pusat perhatian nasional. Hamparan kebun teh yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan ribuan warga mendadak berubah menjadi ladang sayuran.

Perubahan itu tidak sekadar pergantian komoditas, tetapi membuka pintu pada persoalan serius: penyerobotan lahan, dugaan praktik ilegal, ketidakpatuhan tata ruang, hingga ancaman bencana alam yang berulang.

Tragedi lingkungan ini mulai mengemuka setelah video pekerja kebun teh memprotes pengrusakan tanaman di kawasan PTPN I Regional II Malabar viral di media sosial. Dalam video itu terlihat para pekerja memotong tanaman teh yang sudah ditebang pihak tak dikenal, sebagai bentuk perlawanan terhadap tindakan yang dianggap sebagai perusakan kolektif.

Awal Krisis: Hamparan Kebun Teh Berganti Kentang dan Sayuran

Fenomena alih fungsi lahan sebenarnya bukan isu baru bagi warga Pangalengan. Selama bertahun-tahun, perkebunan teh kerap menjadi sasaran pihak yang ingin mengubah fungsinya menjadi ladang kentang dan sayuran. Namun kali ini skalanya jauh lebih besar.

Polresta Bandung mengonfirmasi bahwa kerusakan telah terjadi di tiga blok utama: Blok Bojongwaru, Cipicung I, dan Cipicung II. Sekitar 14 hektare tanaman teh ditemukan ditebang dari pangkal batang, dibiarkan mengering, bahkan diduga akan dibakar. Polisi menyebut bahwa aksi ini berlangsung sejak awal Oktober 2025 dan dilakukan secara tersembunyi pada malam hari.

Kasatreskrim Polresta Bandung, Kompol Luthfi Olot Gigantara, menegaskan penyelidikan berjalan cepat. Pihaknya telah memanggil PTPN VIII, Kementerian BUMN, dan mengumpulkan bukti lapangan dari tumpukan tanaman yang dipotong rapi.

“Kami akan mengungkap pelaku dan motif di balik perusakan ini secara profesional dan transparan,” ujarnya.

Sorotan publik semakin besar setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meninjau langsung lokasi dan menyebut kerusakan ini sebagai praktik ugal-ugalan dalam pengelolaan lahan negara.

Walhi: Kerusakan Tak Hanya Merusak Ekonomi, Tapi Mengancam Keselamatan Warga

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat memandang alih fungsi kebun teh bukan sekadar pelanggaran administrasi, melainkan ancaman ekologis serius. Hilangnya vegetasi teh yang memiliki kemampuan menyerap air tinggi mengakibatkan limpasan air berlebihan saat hujan turun.

“Run off yang tinggi akan menggerus tanah, menaikkan sedimentasi sungai, dan berpotensi memicu banjir bandang,” terang Direktur Walhi Jabar, Wahyudin Iwang.

Menurutnya, praktik kerja sama PTPN dengan pihak berkapital besar untuk mengalihfungsikan lahan menjadi pertanian kentang telah terjadi selama dua dekade. Ia bahkan meragukan klaim PTPN bahwa kerusakan hanya 150 hektare, karena pengecekan lapangan menunjukkan angka yang jauh lebih besar.

Walhi juga menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah.

“Tidak pernah ada audit menyeluruh terhadap PTPN. Jadi tidak heran alih fungsi lahan berlangsung terus,” kata Wahyudin.

Gubernur Jabar Turun Tangan: “Kembalikan Semua ke Tanaman Teh!”

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyoroti akar persoalan: praktik penyewaan lahan oleh PTPN yang membuka celah penyerobotan.

“Kalau ruang itu tidak dibuka, tidak akan ada pihak-pihak yang berani mengubah kebun teh menjadi kebun sayur,” tegasnya.

Ia memastikan proses hukum sedang berjalan dan pelaku besar maupun kecil akan segera ditahan.

Dedi juga menekankan bahwa PTPN harus kembali pada jati diri bisnisnya: mengelola perkebunan, bukan properti atau model bisnis serupa yang membuka peluang konflik tata ruang.

Ia bahkan sudah meninjau kebutuhan dana untuk menanam ulang 160 hektare kebun teh yang rusak.

“Untuk rehabilitasi, butuh Rp35 miliar. Tapi kalau PTPN kesulitan, Pemprov Jabar siap turun tangan,” ujar Dedi.

Menurutnya, perubahan tata ruang yang tidak terkendali di dataran tinggi Bandung Selatan dapat menimbulkan bencana besar bagi masyarakat.

PTPN Membantah Tuduhan: “Itu Bukan Lahan Kerja Sama”

Di tengah tekanan publik, PTPN I Regional 2 melalui Manajer Kebun Malabar, Heru Supriadi, menepis tudingan bahwa kebun teh yang rusak adalah bagian dari lahan kerja sama.

“Itu kebun teh produktif, bukan lahan yang dialihkan,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa kerja sama hanya dilakukan di lahan nonproduktif seperti bekas kebun kina yang lama dibiarkan kosong. Ia juga memastikan sejumlah HGU yang masa berlakunya hampir habis sudah dalam proses perpanjangan, sehingga tidak menghilangkan hak kelola PTPN.

Dampak Serius: Ancaman Banjir Bandang Ketiga di Pangalengan

Kerusakan sekitar 140 hektare lahan teh Cinyiruan membuat warga Pangalengan ketakutan. Traumatika dua bencana banjir bandang pada 2019 dan 2021 masih membekas. Air dari kawasan hulu yang kehilangan vegetasi penahan akhirnya meluncur deras ke pemukiman.

Banjir bandang sebelumnya merendam Desa Margamukti dan Banjarsari, menelan kerugian material besar, dan memaksa warga mengungsi.

Kini, dengan curah hujan tinggi diprediksi datang pada Desember 2025, potensi bencana serupa semakin mengkhawatirkan.

Bupati Bandung Dadang Supriatna memperingatkan warga saat meninjau kebun teh yang hancur:

“Kalau ini terus terjadi, Pangalengan bisa tenggelam. Tanaman teh adalah penyangga air, bukan sekadar komoditas.”

Sebanyak empat blok perkebunan di Cinyiruan telah hancur, termasuk Bojongwaru dan Pahlawan. Bahkan bibit teh yang ditanam ulang oleh PTPN dan pegiat lingkungan dicabuti lagi oleh para penjarah.

Penutup

Kasus Pangalengan bukan sekadar konflik lahan biasa. Ini adalah peringatan keras tentang betapa rapuhnya ekosistem dataran tinggi ketika tata kelola perkebunan gagal dijaga.

Di balik hamparan kebun teh yang indah, tersimpan potensi bencana yang sewaktu-waktu bisa mengancam ribuan warga. Dan jika pembiaran terus terjadi, bukan tidak mungkin Pangalengan akan kehilangan identitasnya sebagai kawasan perkebunan teh, berganti menjadi zona merah bencana ekologis.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi HL konflik lahan PTPN Pangalengan pangalengan perusakan kebun teh Bandung Walhi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bangunan Six Nine Padel Tetap Beroperasi, Satpol PP Tegaskan yang Disegel Hanya Videotron Tak Berizin

Videotron Six Nine Padel di Jalan Riau Disegel, Satpol PP: Izin Reklame Belum Terbit

Kasus Penebangan Pohon di Jalan Riau Masuk Ranah Pidana, Polrestabes Bandung Dalami Unsur Perusakan

BOCOR KE PUBLIK! Parodi Pedas dan Rekaman Kamera Raksasa Dedi Mulyadi Meledak di Medsos!

Aksi Nekat di Andir Bandung, Bendera Merah Putih Dibakar, Pelaku Masih Diburu Polisi

Konvoi Pendukung Persib dan Persija Nyaris Terlibat Bentrok Fisik di Sukabumi

Terpopuler
  • Rindang Jadi Beton! 9 Pohon di Cihapit Ditebang Demi Lapangan Padel?
  • FOTO: Dedikasi Tanpa Batas Tim Medis Mengawal Keselamatan Laga Piala Presiden 2026
  • Pengelola Harian SixNine Buka Suara soal Dugaan Penebangan Pohon di Jalan Riau: Kami Hanya Jalankan Operasional
  • Cara Nonton Link Live Streaming Persib vs Tampines Rovers Malam Ini di Piala Presiden 2026
  • Gebrakan atau Kontroversi? Polemik Hadiah Tangkap Begal ala Dedi Mulyadi di Tengah Resah Warga Jabar
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.