bukamata.id – Dunia sepak bola Indonesia kembali diguncang oleh sebuah insiden panas yang melibatkan pejabat klub di pinggir lapangan hijau. Kali ini, nama Achmad Resal Octavian, Direktur Teknik Java United FC, mendadak menjadi pusat perhatian publik sekaligus menuai kecaman luas. Aksinya yang melontarkan kalimat bernada diskriminatif kepada pelatih kepala Persija Jakarta, Shin Tae-yong (STY), menambah panjang deretan kontroversi yang pernah menyelimuti perjalanan karier pria kelahiran Semarang tersebut.
Bagi pencinta sepak bola nasional, nama Achmad Resal sebenarnya bukanlah sosok yang asing. Perjalanan kariernya, mulai dari masa-masa menjadi pemain, asisten pelatih, hingga menduduki jabatan strategis sebagai direktur teknik dan anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri), kerap diiringi oleh berbagai peristiwa kontroversial. Artikel ini akan mengupas secara mendalam rekam jejak kontroversi Achmad Resal Octavian serta gelombang reaksi keras dari masyarakat luas yang kian mencoreng sportivitas di kancah sepak bola tanah air.
1. Insiden Pemukulan Panitia Pelaksana (November 2025)
Jauh sebelum perseteruannya dengan Shin Tae-yong mencuat ke permukaan, Achmad Resal pernah tersandung kasus kekerasan fisik yang berujung pada sanksi resmi dari otoritas sepak bola nasional. Insiden tersebut terjadi pada bulan November 2025, ketika klub yang ia naungi masih bernama Malut United FC dan bermarkas di Ternate, Maluku Utara.
Dalam sebuah pertandingan ketat antara Persita Tangerang melawan Malut United FC, situasi memanas berujung pada tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh Resal. Ia kedapatan melakukan pemukulan terhadap panitia pelaksana (panpel) pertandingan. Tindakan main hakim sendiri ini langsung memicu kecaman keras dari berbagai kalangan karena mencoreng keamanan serta kenyamanan penyelenggaraan pertandingan.
Akibat tindakan brutal tersebut, Komite Disiplin (Komdis) PSSI tidak tinggal diam. Resal dijatuhi sanksi tegas berupa larangan mendampingi tim dalam empat pertandingan serta kewajiban membayar denda sebesar Rp50 juta. Ironisnya, alih-alih meredam perangai temperamentalnya, sanksi tersebut seolah dilupakan begitu saja ketika ia justru mendapat promosi jabatan sebagai Direktur Teknik Java United FC pada 20 Agustus 2026.
2. Dugaan Ucapan Rasis dan Xenofobik kepada Shin Tae-yong (September 2026)
Puncak dari segala sorotan negatif terhadap Achmad Resal terjadi pada Sabtu, 19 September 2026. Dalam lanjutan kompetisi Super League musim 2026/2027 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Persija Jakarta sukses mengamankan kemenangan tipis 1-0 atas Java United FC berkat gol semata wayang dari Arlyansyah Abdulmanan.
Namun, drama di lapangan hijau justru kalah menarik dibandingkan ketegangan yang meletup di area bangku cadangan (bench) kedua tim. Di tengah panasnya atmosfer pertandingan, kamera dan video amatir menangkap momen ketika Achmad Resal berteriak ke arah pelatih Persija, Shin Tae-yong. Dengan nada merendahkan, Resal melontarkan kalimat provokatif:
“Heii..heei. Kamu di sini itu pendatang! Ini daerah saya.”
Pernyataan tersebut sontak memantik amarah publik sepak bola Indonesia. Kalimat yang mengkotak-kotakkan status kewarganegaraan di ruang lingkup olahraga profesional dinilai sangat tidak pantas, terlekat unsur diskriminasi, xenofobia, dan rasisme.
Kecaman Keras dari Suporter dan Respons Manajemen
Reaksi keras langsung berdatangan dari berbagai pihak, salah satunya dari Ketua Umum The Jakmania, Diky Soemarno. Melalui akun media sosial pribadinya, Diky menyayangkan sikap ofisial Java United tersebut dan mempertanyakan apakah mereka merasa paling berkuasa di Indonesia.
Menurut Diky, tensi tinggi di lapangan merupakan hal yang lumrah dalam sepak bola, tetapi membawa-bawa asal negara seseorang untuk merendahkan martabat sama sekali tidak bisa dibenarkan. Ia menegaskan bahwa meskipun Shin Tae-yong bukan warga negara Indonesia, pelatih asal Korea Selatan tersebut tetap berhak mendapatkan penghormatan penuh selama bekerja dan mengabdi di tanah air.
Menanggapi polemik ini, manajemen Persija Jakarta memilih untuk tidak mengambil tindakan emosional atau sepihak. Pada Selasa, 22 September 2026, Macan Kemayoran secara resmi menyerahkan penyelesaian dugaan tindakan diskriminatif tersebut kepada Komdis PSSI agar diperiksa secara objektif berdasarkan bukti dan fakta di lapangan. Di sisi lain, manajemen Java United FC turut merilis pernyataan resmi yang menyayangkan kericuhan tersebut dan memilih menyerahkan seluruh proses penyelesaian serta penjatuhan sanksi sepenuhnya kepada Komdis PSSI.
3. Reaksi Geram Netizen di Ruang Publik Digital
Insiden yang melibatkan Achmad Resal ini langsung memicu gelombang reaksi pedas dari para pencinta sepak bola di berbagai platform media sosial. Banyak warganet yang merasa malu sekaligus geram melihat sikap seorang pejabat klub profesional yang justru melontarkan kalimat bernada merendahkan di ruang publik.
Beberapa komentar menyoroti kontras antara latar belakang pendidikannya yang tinggi—termasuk keikutsertaannya dalam program lisensi kepelatihan—dengan perangai buruk yang ditampilkan di pinggir lapangan:
“Kocak, bisa-bisanya di Liga 1 ucapannya segitu nya. Emang kalau pribumi kenapa…? Malu-maluin ambil license tapi attitude-nya bad sangat 😢. Mirisss. Bentar juga klarifikasi…,” tulis salah satu netizen.
Warganet lainnya juga menyoroti efektivitas penegakan regulasi oleh federasi sepak bola nasional, sambil menyindir nyali pihak berwenang dalam menindak oknum yang berulah:
“Kalo niat dan berani tegas sebenarnya @pssi bisa banget menindak orang seperti ini. Tapi ingat…. KLO NIAT dan BERANI lho ya,” ujar netizen lainnya menyuarakan keraguan sekaligus harapan agar ada tindakan tegas tanpa pandang bulu.
Kritik yang lebih menohok juga datang dari warganet yang mengingatkan soal sejarah migrasi manusia, menilai bahwa klaim kepemilikan wilayah secara sempit dalam konteks sepak bola modern adalah hal yang tidak berdasar:
“Padahal sama-sama pendatang semua mau itu Jawa, Batak, Sunda, dll. Nenek moyang kita migrasi dari Yunan, Cina ke Taiwan ke Filipina lalu tiba di Nusantara. Kakek nenek si dirtek ini juga pendatang yang tiba lebih awal dari STY ratusan tahun,” timpal netizen lain.
4. Profil Singkat dan Rekam Jejak Karier Achmad Resal
Lahir di Semarang pada 6 Oktober 1993, Achmad Resal Octavian mengawali impiannya di dunia si kulit bundar melalui jalur pembinaan usia muda yang cukup bergengsi. Ia merupakan salah satu jebolan program SAD Indonesia di Uruguay dan sempat menimba ilmu bersama pemain-pemain muda berbakat lainnya seperti Alfin Tuasalamony.
Sebagai pemain profesional, Resal berkarier sebagai seorang striker dan pernah memperkuat PSIS Semarang dari musim 2010/2011 hingga 2017. Sayangnya, kariernya di atas lapangan sebagai pemain Laskar Mahesa Jenar kurang begitu bersinar. Hal ini mendorongnya untuk gantung sepatu lebih cepat dan beralih profesi ke dunia kepelatihan di klub yang sama mulai tahun 2018.
Ia sempat mencicipi peran sebagai asisten pelatih mendampingi sejumlah juru taktik berpengalaman seperti Alberto Annese dan Dragan Djukanovic. Pada Agustus 2022, Resal bahkan sempat dipercaya mengemban tugas sebagai pelatih interim (sementara) PSIS Semarang saat menghadapi Dewa United.
Kariernya kemudian berlanjut ke Malut United pada tahun 2023 sebagai asisten pelatih mendampingi Imran Nahumarury, sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Direktur Teknik klub yang kini bertransformasi menjadi Java United FC pada musim 2026/2027. Di luar kesibukannya di dunia sepak bola, Resal juga tercatat sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri) serta baru saja terpilih sebagai salah satu peserta termuda (usia 32 tahun) dalam program Kursus Lisensi AFC Pro 2026.
Catatan Hitam yang Harus Segera Dibenahi
Deretan kontroversi yang melibatkan Achmad Resal Octavian—mulai dari tindakan kekerasan fisik terhadap panitia pelaksana hingga lontaran kata-kata berbau xenofobik kepada pelatih sekelas Shin Tae-yong—memberikan preseden buruk bagi dunia sepak bola profesional Indonesia.
Di saat sepak bola nasional sedang gencar berbenah untuk meningkatkan kualitas kompetisi, integritas, serta sportivitas, tindakan oknum ofisial klub yang tidak mampu meredam emosi justru mencederai nilai-nilai fair play. Kini, publik menanti ketegasan Komdis PSSI dalam memberikan sanksi yang adil dan berefek jera agar insiden serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










