Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Real Madrid Kembali ‘Menggoda’, Man City Langsung Bentengi Haaland dengan Pagar Rp4,5 Triliun

Kamis, 13 Agustus 2026 10:08 WIB

TC Persib di Bali Dimulai, Danijel Loncar Langsung Berlatih dan 3 Pemain Masih Cedera

Kamis, 13 Agustus 2026 10:02 WIB
Pramuka

Panduan Chord Gitar dan Lirik Hymne dan Mars Pramuka: Resonansi Janji Pandu Menuju Indonesia Emas

Kamis, 13 Agustus 2026 10:01 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Real Madrid Kembali ‘Menggoda’, Man City Langsung Bentengi Haaland dengan Pagar Rp4,5 Triliun
  • TC Persib di Bali Dimulai, Danijel Loncar Langsung Berlatih dan 3 Pemain Masih Cedera
  • Panduan Chord Gitar dan Lirik Hymne dan Mars Pramuka: Resonansi Janji Pandu Menuju Indonesia Emas
  • Harga Emas Hari Ini Stabil! Cek Harga Galeri 24, Antam dan UBS di Pegadaian
  • Ini Rapat Apa Tempat Curhat? Dosa-dosa Politik Bupati Gowa yang Bikin 45 Anggota Dewan Kompak Mendepaknya!
  • PKH dan BPNT Agustus 2026 Cair Bertahap, Segera Cek Status Penerima dan Saldo
  • Gila! Gemini Resmi Tembus 1 Miliar Pengguna, Persaingan dengan ChatGPT Makin Panas
  • Bansos Beras 30 Kg Cair Lagi, Benarkah Bisa Diambil di Kopdes Merah Putih? Cek Caranya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 13 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Alam Indonesia di Ambang Kiamat? Satwa Langka Menjerit, Surga Wisata Dunia Kini Rata dengan Tanah!

By SusanaSelasa, 26 Mei 2026 20:00 WIB4 Mins Read
Kerusakan lingkungan di Indonesia semakin meluas, mulai dari Pantai Kartika di Konawe Selatan, Pulau Senja, hingga hutan Papua Selatan. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Deretan video yang viral di media sosial dalam beberapa waktu terakhir memunculkan satu benang merah yang mengkhawatirkan: kerusakan lingkungan yang semakin meluas di berbagai wilayah Indonesia.

Dari pesisir Sulawesi Tenggara, hutan Papua Selatan, hingga kawasan yang diduga di Pulau Kalimantan, alam yang dulu menjadi sumber kehidupan dan pariwisata kini berubah drastis akibat tekanan aktivitas manusia.

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada hilangnya keindahan alam, tetapi juga memicu krisis ekologis yang lebih luas: satwa liar kehilangan habitat dan mulai masuk ke wilayah pemukiman warga.

Pantai Kartika dan Pulau Senja: Dari Surga Wisata Jadi Area Terancam Tambang

Di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, kawasan wisata Pantai Kartika di Kecamatan Moramo Utara dulunya dikenal sebagai destinasi unggulan dengan panorama tebing karst dan air laut jernih yang tenang.

Namun, kondisi itu berubah cepat seiring meningkatnya aktivitas pertambangan batu gamping di kawasan pesisir tersebut. Bukit-bukit karst yang dahulu menjadi ikon wisata kini dilaporkan mulai terkupas, vegetasi menghilang, dan sebagian area bahkan berubah menjadi lahan terbuka.

Pulau Senja yang sebelumnya dikenal sebagai spot wisata alternatif kini disebut telah mengalami kerusakan parah hingga nyaris rata dengan aktivitas pengerukan.

Dampaknya tidak berhenti di daratan. Saat hujan turun, material tanah dan lumpur dari area tambang terbawa ke laut, menyebabkan air yang dulunya jernih berubah keruh dan memicu sedimentasi di kawasan pesisir.

Terumbu karang tertutup endapan, ekosistem laut terganggu, dan aktivitas wisata bahari perlahan berhenti.

Satwa Masuk Permukiman: Tanda Habitat Mulai Hilang

Krisis lingkungan tidak hanya terjadi di Sulawesi. Dari kawasan timur Indonesia, sebuah video viral dari Papua Selatan memperlihatkan momen memilukan: pohon yang menjadi habitat satwa liar ditumbangkan alat berat.

Dalam video tersebut, beberapa ekor Kuskus Waigeo terlihat bertahan di atas pohon yang ditebang, sebelum akhirnya kehilangan tempat berlindung.

Satwa endemik Papua ini dikenal sangat bergantung pada hutan sebagai sumber makanan dan tempat hidup. Ketika hutan dibuka, mereka kehilangan arah dan ruang hidup, yang pada akhirnya meningkatkan potensi konflik dengan manusia.

Fenomena serupa juga mulai sering dilaporkan di berbagai wilayah Indonesia, di mana satwa liar seperti primata besar terlihat memasuki area jalan raya dan permukiman warga.

Orangutan Tersesat di Jalan: Hutan yang Menyempit

Di tempat lain, sebuah video yang juga viral memperlihatkan seekor orangutan berada di pinggir jalan raya saat hujan gerimis. Hewan dilindungi itu tampak berjalan di dekat permukiman dan area kios kecil, membuat warga dan pengendara terkejut.

Kemunculan orangutan di luar habitat aslinya diduga kuat akibat menyempitnya kawasan hutan serta hilangnya sumber makanan alami. Kondisi ini membuat satwa liar terpaksa keluar dari habitatnya dan mendekati wilayah manusia untuk bertahan hidup.

Para pemerhati lingkungan menilai, fenomena ini bukan kejadian terisolasi, melainkan gejala umum dari kerusakan ekosistem yang terus berlanjut.

Dampak Ekonomi: Wisata Hilang, Warga Kehilangan Sumber Hidup

Kerusakan lingkungan juga berdampak langsung pada ekonomi masyarakat lokal. Di kawasan Pantai Kartika, warga yang sebelumnya menggantungkan hidup dari sektor wisata seperti penyewaan perahu, kuliner, hingga jasa wisata bahari kini kehilangan sumber pendapatan.

Sektor pertambangan memang menghadirkan aktivitas ekonomi, namun banyak warga menilai dampaknya tidak seimbang dengan kerugian ekologis jangka panjang.

Warganet: “Kalau Hutan Hilang, Kita Mau Tinggal di Mana?”

Berbagai reaksi bermunculan di media sosial. Banyak warganet menyoroti hubungan langsung antara kerusakan alam dan munculnya satwa di pemukiman warga, seperti dikutip dari kolom komentar Instagram @sumatraze_***

“Dia tidak nyasar, manusia saja yang mengambil rumahnya,” tulis akun @far***

“Giliran dilindungi, tapi habitatnya sudah tidak ada lagi,” tulis akun @muh***

“Sedih lihat orangutan kehilangan rumahnya,” tulis akun @rul***

“Rumah manusia dibangun di atas penderitaan satwa liar,” tulis akun @maz***

Komentar-komentar tersebut mencerminkan meningkatnya kesadaran publik bahwa krisis lingkungan bukan lagi isu jauh, tetapi sudah terjadi di sekitar kehidupan sehari-hari.

Alarm Ekologis: Saat Alam Tak Lagi Seimbang

Rangkaian peristiwa dari Sulawesi hingga Papua menunjukkan pola yang sama: pembukaan lahan, eksploitasi sumber daya alam, dan hilangnya habitat satwa liar.

Pantai yang dulu menjadi destinasi wisata, hutan yang menjadi rumah satwa, hingga ekosistem laut yang menopang kehidupan kini berada dalam tekanan besar.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa ketika alam rusak, dampaknya tidak berhenti di satu titik, ia merambat ke manusia, satwa, ekonomi, hingga masa depan generasi berikutnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

deforestasi Papua Selatan kerusakan lingkungan Indonesia 2026 Kuskus Waigeo Papua orangutan masuk jalan raya Pantai Kartika Konawe Selatan rusak Pulau Senja Wawatu tambang satwa masuk pemukiman Indonesia tambang batu gamping Sulawesi Tenggara
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ini Rapat Apa Tempat Curhat? Dosa-dosa Politik Bupati Gowa yang Bikin 45 Anggota Dewan Kompak Mendepaknya!

Bansos

PKH dan BPNT Agustus 2026 Cair Bertahap, Segera Cek Status Penerima dan Saldo

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bansos Beras 30 Kg Cair Lagi, Benarkah Bisa Diambil di Kopdes Merah Putih? Cek Caranya

Hilang 12 Hari, Warga Tasikmalaya Ditemukan Meninggal di Sumur Tua yang Dihuni King Kobra

Goreng Saham Pakai Uang Umat? Polemik Panas Wakaf Istiqlal Masuk Bursa

gempa

Bukan Sekali! Dua Gempa Dangkal Guncang Bandung, Getarannya Dirasakan Warga Pangalengan

Terpopuler
  • Genap 1 Tahun, PRI Jawa Barat Tegaskan Komitmen Jadi Rumah Rakyat
  • MUSWIL VII KAHMI Jabar Tuntas, 7 Presidium Terpilih Bawa Mandat Baru
  • Teti Ratnasih Terpilih Pimpin FORHATI Jabar, Bawa Misi Besar Transformasi Keumatan
  • 10 Pohon Hilang di Jalan Riau Bandung, Pemkot Kecolongan? Pengamat Bongkar Lemahnya Pengawasan
  • FOTO: Lebih dari Sepak Bola: Momen Hangat Penuh Respek di Final Piala Presiden 2026
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.