Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bukan Cuma Soto Mie, Ini 5 Restoran Baru di Bogor yang Wajib Dicoba

Senin, 26 Oktober 2026 03:00 WIB

Jangan Ketipu! BLT Kesra Rp900 Ribu Oktober 2026 Belum Ada Jadwal Cair

Senin, 26 Oktober 2026 01:00 WIB

Drama Pakansari! Gol Adam Alis di Menit 90+1 Selamatkan Persib dari Hasil Imbang

Minggu, 25 Oktober 2026 21:26 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bukan Cuma Soto Mie, Ini 5 Restoran Baru di Bogor yang Wajib Dicoba
  • Jangan Ketipu! BLT Kesra Rp900 Ribu Oktober 2026 Belum Ada Jadwal Cair
  • Drama Pakansari! Gol Adam Alis di Menit 90+1 Selamatkan Persib dari Hasil Imbang
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Dibuang ke Panti tapi Public Speaking-nya Bikin Kagum, Ini Sosok Mbah Suharyono
  • Nyawa Melayang Usai Bela Rekan, Kisah Pilu FR Korban Pengeroyokan Pasar Caringin
  • Cuma Butuh 15 Menit, Peralta Bikin Garudayaksa Tertunduk
  • Klok dan Thom Haye Dicadangkan! Ini Line Up Mengejutkan Persib vs Garudayaksa
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 26 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Angka Kemiskinan Jabar Turun, Tapi Ketimpangan Kota Justru Meningkat Tajam!

By Putra JuangJumat, 25 Juli 2025 13:50 WIB3 Mins Read
Plt. Kepala BPS Jabar, Darwis Sitorus. Foto: Ist,
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 mencapai 3,65 juta jiwa, atau mengalami penurunan tipis sebesar 0,06 persen dibandingkan September 2024. Namun, penurunan ini tidak berlaku merata antara wilayah perdesaan dan perkotaan.

“Penurunan ini banyak disumbang oleh perbaikan karakteristik sosial ekonomi masyarakat desa. Tapi di kota, kondisinya justru memburuk,” ujar Plt. Kepala BPS Jabar, Darwis Sitorus, dalam rilis resmi yang disampaikan di Aula BPS Jawa Barat, Jumat (25/7/2025).

Kemiskinan di Kota Meningkat, Ketimpangan Ekonomi Makin Lebar

Secara rinci, angka kemiskinan di perdesaan menurun 0,70 persen poin, namun di perkotaan justru naik 0,11 persen poin. Kondisi ini mengindikasikan tantangan besar yang dihadapi wilayah urban seperti Bandung, Bekasi, dan kota lainnya.

“Di kota, pengangguran bertambah, harga kebutuhan pokok makin tinggi, dan biaya pendidikan semakin mahal,” jelas Darwis.

Dalam periode yang sama, jumlah pengangguran di Jawa Barat meningkat dari 1,77 juta menjadi 1,81 juta orang, meskipun secara persentase Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sedikit menurun. Mayoritas pengangguran berada di wilayah perkotaan.

“Bukan soal urbanisasi. Memang struktur kota di Jabar lebih besar dari desa, tapi tetap saja, angka pengangguran kota naik dan jadi tekanan baru,” ujarnya.

Gini Ratio Perkotaan Capai 0,426, Kesenjangan Kaya-Miskin Meningkat

Gini Ratio, indikator ketimpangan ekonomi di kawasan perkotaan Jawa Barat tercatat 0,426, menandakan kesenjangan yang signifikan antara kelompok kaya dan miskin. Selain itu, indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan juga mengalami peningkatan, menunjukkan bahwa warga miskin kota hidup semakin jauh dari standar hidup layak.

Darwis menyoroti konsumsi beras premium dan isu oplosan harga sebagai faktor penyumbang beban pengeluaran rumah tangga miskin di kota.

“Orang kota cenderung membeli beras premium, dan ini memengaruhi pengeluaran. Isu harga oplosan juga memperberat beban masyarakat miskin,” tambahnya.

Biaya pendidikan yang tinggi turut menjadi penyumbang naiknya garis kemiskinan.

“Semakin tinggi biaya pendidikan, maka garis kemiskinan juga naik. Kalau bisa ditekan, angka kemiskinan bisa ditekan lagi,” ujarnya.

Strategi Pemprov Jabar: Aplikasi GRIP untuk Tekan Pengangguran

Menjawab persoalan pengangguran, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan meluncurkan aplikasi GRIP (Gerai Layanan Informasi tentang Pekerjaan) pada Agustus 2025. Aplikasi ini dirancang untuk mempertemukan pencari kerja dengan peluang kerja secara digital.

“Tujuannya agar kebutuhan industri cocok dengan potensi tenaga kerja. Harapannya, GRIP bisa menekan angka pengangguran, terutama di kota,” jelas Fungsional Madya Diskominfo Jabar, Encep Wagan.

Kemiskinan Menurun, Tapi Kualitas Hidup Belum Membaik

Di akhir rilis, Darwis mengingatkan bahwa meskipun jumlah penduduk miskin menurun secara statistik, kualitas hidup mereka belum tentu membaik.

“Indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan justru naik. Artinya, mereka yang miskin, hidupnya makin berat,” tutupnya.

Jawa Barat masih memiliki pekerjaan rumah besar, terutama dalam mengatasi ketimpangan ekonomi, pengangguran kota, dan akses terhadap kebutuhan dasar yang terjangkau.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Jangan Ketipu! BLT Kesra Rp900 Ribu Oktober 2026 Belum Ada Jadwal Cair

Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar

PENUSUKAN

Nyawa Melayang Usai Bela Rekan, Kisah Pilu FR Korban Pengeroyokan Pasar Caringin

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

7 Langkah Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu, Cukup dari HP

PENUSUKAN

Petang Berdarah di Pasar Induk Caringin! Polisi Buru 30 Penyerang

Cuma Gara-gara Dikira Melirik Pacar, Remaja di Garut Todongkan Golok!

Terpopuler
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Delapan Mahasiswa di Bandung Diamankan Polisi Usai Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
  • Pentingnya Modernisasi Pesantren: Alumni Cipasung Ungkap Strategi Jaga Tradisi di Era Digital
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.