Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Anti-Ribet! 3 Rekomendasi Wisata Ramah Keluarga di Cimahi & Bandung Barat Gratis

Jumat, 29 Mei 2026 21:43 WIB

Rumor Transfer Persib Bandung: Siapkan Rp20 Miliar demi Bintang Eropa!

Jumat, 29 Mei 2026 21:20 WIB

Guncang Super League! Garudayaksa FC Siap Bajak Bintang Timnas Jadi ‘Miniatur Garuda’

Jumat, 29 Mei 2026 21:06 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Anti-Ribet! 3 Rekomendasi Wisata Ramah Keluarga di Cimahi & Bandung Barat Gratis
  • Rumor Transfer Persib Bandung: Siapkan Rp20 Miliar demi Bintang Eropa!
  • Guncang Super League! Garudayaksa FC Siap Bajak Bintang Timnas Jadi ‘Miniatur Garuda’
  • Strategi ‘Minimalis’ Persib Bandung: Pertahankan Fondasi Juara, Tidak Ada Revolusi Besar?
  • Duka Haji 2026! Dua Jamaah Tasikmalaya Wafat di Tanah Suci
  • Masa Depan di Persib Terancam, Andrew Jung Jadi Incaran Klub Top Thailand?
  • Ganti Nahkoda, Bojan Hodak Beri Pesan Tegas untuk Pelatih Baru Persib Bandung
  • Sapi Kurban Prabowo Bikin Melongo: Niat Berbagi atau ‘Pencitraan’ Pakai Uang Pajak?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 29 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Aplikasinya Dihapus Pemerintah, Mata Elang Ngeluh Sulit Cari Nafkah!

By Aga GustianaSabtu, 27 Desember 2025 16:11 WIB5 Mins Read
Ilustrasi, pemerintah hapus 8 aplikasi matel. (Foto: Hasil ChatGPT)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di sudut-sudut perkotaan, tepat di mana klakson kendaraan bersahut-sahutan dan deru knalpot tak pernah benar-benar padam, para mata elang—atau matel, sebutan bagi para debt collector lapangan—biasanya menjalankan tugas dengan kecekatan hampir menyerupai naluri. Ponsel menjadi kompas digital mereka, panduan untuk menelusuri kendaraan yang macet kreditnya. Satu ketikan nomor polisi pada aplikasi mata elang, dan jaringan data membuka jalan ke target.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir, pemandangan itu berubah drastis. Tidak ada lagi jari-jari yang sibuk mengetik, tidak ada pencarian kendaraan dengan napas tertahan, dan yang paling terasa: tidak ada pemasukan. Aplikasi yang menjadi jantung pekerjaan mereka dihapus pemerintah, menyisakan keheningan yang justru lebih bising bagi para pencari nafkah ini.

Aplikasi Hilang, Hidup pun Seakan Berhenti

Alex, matel berusia 35 tahun, kini lebih sering menghabiskan waktu nongkrong di pos kecil tempat biasanya ia memantau lalu lintas. Ponsel yang dulu menjadi alat kerja kini hanya berfungsi sebagai jam tangan dan alat komunikasi sederhana.

“Dari Jumat itu enggak bisa dibuka. Kita enggak bisa kerja lagi. Semua matel berhenti sementara,” keluh Alex.

Selama ini, aplikasi seperti BestMatel menjadi papan navigasi bagi ribuan matel di seluruh Indonesia. Melalui aplikasi itu, mereka dapat memeriksa status kredit kendaraan yang melintas hanya dengan mengetik nopol. Tanpa alat itu, pekerjaan mereka bukan hanya sulit—hampir mustahil.

“Kalau aplikasi enggak ada, kita enggak tahu kendaraan mana yang nunggak. Data itu kan dari leasing, bukan kami yang kumpulkan,” ujar Alex lagi, suaranya terdengar seperti menahan frustrasi.

Baca Juga:  VIRAL! Ngaku Anak Propam Bawa Mobil Barang Bukti, Ternyata Lagi Dikejar-kejar Debt Collector

Untuk Alex dan banyak matel lain, aplikasi bukan sekadar alat—melainkan penghubung antara keterampilan dan nafkah.

Harapan di Tengah Kabut Legalitas

Penghapusan delapan aplikasi mata elang oleh pemerintah memicu keresahan besar, terutama karena matel merasa tidak punya kuasa untuk mengontrol arus informasi yang selama ini mereka manfaatkan.

Alex berharap solusi pemerintah bukan hanya pemutusan akses, tetapi juga pembenahan yang menyeluruh sehingga mata elang dapat bekerja tanpa dibayangi ilegalitas.

“Kalau memang harus ada izin, ya kita ikut. Asal bisa kerja lagi. Jangan sampai berlarut-larut. Kita juga butuh makan,” ujar Alex.

Harapan itu sederhana: legalisasi, bukan penghapusan total. Sebab bagi mereka, hilangnya aplikasi berarti hilangnya arah—dan tanpa arah, bagaimana mereka menghidupi keluarga?

Dari Pelindung Data ke Luka Ekonomi: Dampak Tak Terlihat

Bagi pemerintah, penghapusan aplikasi dilakukan untuk melindungi data pribadi nasabah yang bocor dan rawan disalahgunakan. Namun di lapangan, ada lapisan lain yang ikut terluka: ekonomi ribuan pekerja informal yang tak punya pilihan selain bertahan dengan profesi yang sering disalahpahami.

Keputusan itu juga menyingkap ironi: keamanan data terjaga, tapi perut matel menjerit.

Ketika Penarikan Kendaraan Menyalahi Aturan

Pekerjaan mata elang tidak pernah luput dari sorotan. Banyak laporan dan kesaksian publik menunjukkan bahwa penarikan kendaraan sering kali dilakukan secara keliru, bahkan melampaui batas hukum.

Baca Juga:  Momen Wisuda Berubah Chaos: Viral Aksi Debt Collector Cegat Mobil Sewaan di Tengah Jalan!

Di sejumlah kasus, kendaraan ditarik di tengah jalan raya tanpa pemberitahuan, atau pemilik kendaraan dipaksa menyerahkan kunci meski belum ada putusan pengadilan. Ada matel yang menyergap pemilik di parkiran minimarket, bahkan ada yang mengejar sampai ke halaman rumah, padahal penarikan semacam itu hanya bisa dilakukan jika ada surat kuasa resmi dan tidak melanggar privasi.

Tak sedikit pemilik kendaraan yang mengaku dicegat secara tiba-tiba, dikelilingi beberapa matel, hingga ditekan secara psikologis untuk menyerahkan kendaraan. Meski tidak semua matel melakukannya, praktik-praktik ini menimbulkan stigma yang kuat: bahwa mata elang bekerja seperti pemburu yang siap memangsa kapan saja.

Ada pula kasus ketika matel yang melakukan penarikan tidak membawa dokumen kuasa leasing, hanya bermodalkan data dari aplikasi. Bagi masyarakat, hal ini menimbulkan kecemasan: mana matel resmi, mana penipu yang sekadar membawa data bocor?

Di sinilah dilema muncul: tanpa regulasi jelas, data yang seharusnya membantu justru memperbesar risiko pelanggaran. Penarikan di jalan kerap menjadi arena abu-abu antara hak kreditur dan hak konsumen—dan dalam kekacauan itu, para matel sering menjadi pihak yang paling disorot negatif, meski tidak semuanya melakukan pelanggaran.

Alex tak menampik fenomena itu. “Yang nakal pasti ada. Kita juga enggak mau semua matel dicap sama. Makanya legalisasi penting. Biar ada aturan jelas,” katanya pelan.

Mata Elang di Persimpangan Jalan

Penghapusan aplikasi tidak hanya menahan rekam jejak digital, tetapi juga menahan laju hidup para matel. Tanpa data, mereka seperti burung pemburu dengan mata tertutup—tidak bisa terbang, tidak bisa mengincar, tidak bisa bertahan.

Baca Juga:  Gak Ada Akhlak! Cara Licik DC Pinjol Pakai Fasilitas Negara Buat Teror Nasabah Macet!

Pemerintah menyebut ini langkah awal perlindungan data. Para matel menyebutnya hentakan keras yang memutus urat nadi ekonomi.

Sementara itu, kriminolog seperti Haniva Hasna menilai bahwa penghapusan aplikasi hanyalah permukaan. Persoalan sebenarnya ada pada bocornya data internal leasing dan kurangnya penegakan hukum terhadap pelanggaran penarikan.

“Tanpa data, mata elang kehilangan ‘mata’. Tapi tanpa pengawasan, kebocoran data tidak akan pernah berhenti,” tegasnya.

Alfons Tanujaya pun mengingatkan bahwa data yang bocor sekali tidak pernah sepenuhnya kembali.

Mencari Jalan Tengah: Regulasi, Bukan Penghapusan Total

Bagi para matel, penghapusan aplikasi seperti menutup jalan tanpa memberi alternatif.
Bagi korban penarikan sewenang-wenang, aplikasi seperti itu adalah sumber ketakutan baru. Bagi pemerintah, ini masalah perlindungan data dan regulasi digital.

Namun satu hal pasti: jika persoalan ini tidak diselesaikan secara struktural, mata elang bisa saja muncul kembali dengan wajah berbeda, platform baru, dan risiko yang sama.

Di pos kecilnya, Alex masih duduk, memperhatikan arus kendaraan seperti biasa. Yang berbeda hanyalah ekspresi matanya—bukan lagi mata pemburu, tetapi mata seseorang yang sedang mencari kepastian.

“Kami bukan mau melanggar hukum. Kami cuma mau kerja,” katanya lirih.

Mata elang masih melihat jalan, tapi tanpa aplikasi, tanpa legalitas, tanpa kepastian, pandangan mereka kabur, dan masa depan ikut samar.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

aplikasi matel data bocor debt collector Kredit Macet Mata Elang penarikan kendaraan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Duka Haji 2026! Dua Jamaah Tasikmalaya Wafat di Tanah Suci

sapi

Sapi Kurban Prabowo Bikin Melongo: Niat Berbagi atau ‘Pencitraan’ Pakai Uang Pajak?

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

PKH BPNT 2026 Mulai Cair, Nama Anda Masih Terdaftar? Cek di Sini

Bus dari Cicaheum Mulai Beroperasi di Leuwipanjang, Penumpang Mengaku Lebih Nyaman

Terminal Cicaheum Bandung Belum Sepenuhnya Kosong, Ini Penyebabnya

Momen Wisuda Berubah Chaos: Viral Aksi Debt Collector Cegat Mobil Sewaan di Tengah Jalan!

Terpopuler
  • Tebing Keraton
    Menjelajahi Pesona “Swiss van Java”: 5 Destinasi Unggulan di Bandung Barat yang Wajib Dikunjungi
  • Viral Video ‘3 vs 1’ TKW Taiwan: Jebakan Link Phishing di Balik Konten Sensasional
  • Video Viral TKW Taiwan ‘3 vs 1’ Heboh di Medsos, Ini Fakta dan Klarifikasinya
  • Pengusaha Tasikmalaya Bawa Rp1,3 Miliar Cash, Nekat Tawar Ikan Koi Irfan Hakim dan Bos Hartono tapi Ditolak!
  • Bandung Siap-siap Macet Total! Ini Skema Pengalihan Jalan dan Rute Konvoi Juara Persib
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.