bukamata.id – Pemerintah Kota Bandung terus memperkuat komitmennya dalam membangun kota yang inklusif, aman, dan ramah bagi penyandang disabilitas melalui penguatan program Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM).
Komitmen tersebut ditegaskan dalam pelantikan pengurus RBM Kota Bandung periode 2026-2030 yang digelar pada Rabu, 13 Mei 2026.
Ketua RBM Kota Bandung periode 2026-2030, Aryatri Benarto Farhan, menegaskan pentingnya menghadirkan lingkungan yang suportif bagi penyandang disabilitas dan individu berkebutuhan khusus di Kota Bandung.
Aryatri Ingin Bandung Bebas Stigma dan Diskriminasi
Aryatri mengaku, pemahamannya mengenai pentingnya inklusi semakin mendalam setelah menjadi orang tua dari anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, proses adaptasi penyandang disabilitas di tengah masyarakat bukan perkara mudah.
“Mereka membutuhkan lingkungan yang suportif, aman, nyaman, dan memiliki aksesibilitas yang baik,” ujar Aryatri.
Ia menilai, salah satu ketakutan terbesar para orang tua penyandang disabilitas adalah masa depan anak-anak mereka ketika tidak lagi dapat mendampingi secara langsung.
Karena itu, Aryatri berharap Kota Bandung dapat menjadi wilayah yang benar-benar bebas stigma dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas.
“Saya ingin suatu hari nanti tempat kita tinggal benar-benar aman dan nyaman bagi anak-anak disabilitas dan individu berkebutuhan khusus. Tidak ada lagi stigma dan diskriminasi,” katanya.
RBM Kota Bandung Jadi Wadah Kolaborasi Masyarakat
Aryatri menegaskan, mewujudkan kota inklusif tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat harus terlibat aktif dalam membangun ekosistem ramah disabilitas.
Mulai dari komunitas, organisasi masyarakat, akademisi, hingga perangkat pemerintah perlu bergerak bersama untuk menciptakan ruang yang setara bagi seluruh warga.
“Ini bukan perjuangan satu sektor atau satu dinas, tapi perjuangan bersama seluruh masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menilai RBM harus menjadi wadah kolaborasi lintas sektor dalam memberdayakan kelompok disabilitas di Kota Bandung.
Menurut Farhan, keterlibatan akademisi, komunitas olahraga, seniman, budayawan, pelaku usaha, hingga masyarakat sipil menjadi kekuatan penting dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.
“RBM harus menjadi melting pot berbagai ide dan kolaborasi demi pemberdayaan kelompok disabilitas,” ujar Farhan.
Pemkot Bandung Soroti Aksesibilitas Ruang Publik
Farhan juga menyoroti pentingnya aksesibilitas di berbagai fasilitas publik, mulai dari layanan pemerintahan, ruang publik, sarana olahraga, hingga tempat ibadah.
Ia mengakui, tantangan membangun kota yang sepenuhnya inklusif masih cukup besar, terutama dalam penataan infrastruktur publik yang ramah bagi seluruh kelompok masyarakat.
“Setiap pembangunan fisik harus memperhatikan kepentingan extreme user termasuk penyandang disabilitas,” tuturnya.
Tak hanya itu, Pemkot Bandung juga mendorong dunia usaha untuk membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.
Pemerintah, kata Farhan, perlu menyiapkan skema insentif bagi perusahaan yang memberikan ruang kerja serta kesempatan berkarya bagi kelompok disabilitas.
Bandung Siap Jadi Tuan Rumah Peparda 2026
Di bidang olahraga, Farhan memastikan Kota Bandung siap menjadi tuan rumah Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) 2026.
Menurutnya, olahraga bukan hanya menjadi sarana prestasi, tetapi juga mampu membangun rasa percaya diri bagi penyandang disabilitas.
“Olahraga bukan hanya soal ekonomi dan event tapi juga membangun mindset untuk berprestasi,” ujarnya.
Farhan berharap RBM Kota Bandung mampu menjadi advokat aktif dalam menjawab berbagai persoalan disabilitas yang terus berkembang di tengah masyarakat.
“Bekerja di RBM bukan untuk mencari keuntungan atau popularitas tetapi bentuk nyata kerelawanan untuk memberdayakan sesama,” tutupnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










