bukamata.id – Warga di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya belakangan mengeluhkan cuaca yang terasa lebih panas dan gerah dibandingkan biasanya.
Meski suhu udara tidak menunjukkan angka yang ekstrem, kondisi yang dirasakan tubuh masyarakat justru terasa lebih panas dan lembap. BMKG Stasiun Geofisika Bandung menjelaskan, fenomena tersebut dipengaruhi oleh kombinasi kondisi suhu, kelembapan, dan pertumbuhan awan di atmosfer.
Prakirawan BMKG Bandung, Edi Wibowo, mengatakan terdapat tiga faktor utama yang membuat udara di Bandung terasa lebih gerah, yakni suhu minimum yang relatif hangat, kelembapan udara tinggi, serta pertumbuhan awan konvektif lokal.
Suhu Minimum Bandung Mencapai 21-22 Derajat Celsius
Berdasarkan data BMKG, suhu udara minimum di Bandung berada di kisaran 21 hingga 22 derajat Celsius dalam dua hari terakhir.
Angka tersebut tergolong cukup hangat untuk suhu minimum. Kondisi ini kemudian diperkuat dengan tingkat kelembapan udara yang berada pada kisaran 55 hingga 80 persen.
Perpaduan suhu yang hangat dengan kelembapan tinggi membuat udara terasa lebih panas dan lembap. Dalam kondisi tersebut, proses penguapan keringat dari permukaan kulit menjadi lebih lambat karena udara sudah mengandung banyak uap air.
Akibatnya, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk melepaskan panas melalui penguapan keringat. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan sensasi gerah yang dirasakan masyarakat.
Mengapa Suhu Bandung Terasa Lebih Panas?
BMKG menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan indeks panas atau heat index.
Heat index merupakan ukuran yang menggambarkan bagaimana suhu udara dirasakan oleh tubuh setelah memperhitungkan faktor kelembapan.
Artinya, angka yang terlihat pada termometer tidak selalu sama dengan suhu yang dirasakan tubuh.
“Suhu yang dirasakan tubuh dapat terasa lebih tinggi dibandingkan suhu yang tercatat pada termometer,” ungkap pihak BMKG.
Karena itu, meskipun suhu udara Bandung tidak berada pada level ekstrem, kelembapan yang tinggi dapat membuat tubuh merasakan kondisi yang jauh lebih panas dan tidak nyaman.
Awan Konvektif Juga Pengaruhi Cuaca Bandung
Selain suhu dan kelembapan, pertumbuhan awan konvektif lokal di wilayah Jawa Barat juga turut memengaruhi kondisi atmosfer.
Awan konvektif terbentuk akibat adanya pergerakan udara hangat dan lembap menuju lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Pertumbuhan awan jenis ini dapat menyebabkan perubahan kondisi cuaca dalam waktu relatif cepat. Udara di suatu wilayah terkadang terasa panas, lembap, dan menyesakkan sebelum kemudian terjadi hujan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa cuaca di Bandung Raya dapat terasa sangat gerah meski pada waktu tertentu terdapat potensi pertumbuhan awan dan hujan.
BMKG Imbau Warga Bandung Waspada
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kondisi tubuh selama cuaca terasa panas dan lembap.
Warga disarankan memperbanyak konsumsi air putih untuk menjaga kebutuhan cairan tubuh dan mengurangi risiko dehidrasi akibat produksi keringat yang meningkat.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan juga diminta lebih waspada, terutama ketika melihat pertumbuhan awan yang semakin tebal.
Pasalnya, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah.
Selain itu, masyarakat diimbau terus memantau informasi dan prakiraan cuaca Bandung terbaru dari BMKG untuk mengantisipasi perubahan cuaca secara tiba-tiba.
Dengan memahami faktor penyebabnya, rasa gerah yang dirasakan warga Bandung Raya bukan semata-mata karena suhu udara yang meningkat, tetapi merupakan hasil interaksi antara suhu, kelembapan, dan dinamika atmosfer di wilayah Jawa Barat.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










