bukamata.id – Perumahan subsidi Green Lavender Sukamekar di Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, kembali dilanda banjir parah sejak Kamis malam, 22 Januari 2026. Tinggi air terus bertambah, bahkan mencapai 180–200 sentimeter pada Jumat sore, (23/1/2026).
Banjir mulai menggenangi perumahan sekitar pukul 19.30 WIB. Sejak itu, air tidak kunjung surut, bahkan semakin meninggi hingga menenggelamkan rumah warga sampai ke atap. Pada Jumat sore, ratusan rumah tampak tenggelam dalam genangan luas, menyatu dengan air keruh yang menghampar sejauh mata memandang. Perumahan kini tampak seperti danau, sementara aktivitas warga nyaris berhenti.
Warga yang mampu, mulai meninggalkan rumah setelah mengamankan barang berharga mereka. Dengan hati-hati, mereka menuju lokasi pengungsian di tepi Jalan Kampung Pulo Daun. Ember, jeriken, dan alat apung sederhana digunakan untuk memindahkan barang maupun membantu warga keluar dari kawasan yang hampir sepenuhnya terendam.
Salah seorang warga, Muhammad Jaelani (38), menggambarkan kondisi banjir sebagai “sangat parah” dan sebagai banjir susulan yang terjadi hanya beberapa hari setelah banjir sebelumnya.
“Ya, kondisi di Perumahan Green Lavender Sukamekar ini sangat parah ya. Kami juga evakuasi seadanya menggunakan ember. Tanggal 19 kemarin sudah surut, ini banjir lagi dan tambah parah,” ujar Jaelani.
Ia menjelaskan bahwa banjir bukan hanya akibat hujan lokal, melainkan banjir kiriman dari luapan Kali CBL dan Kali Bekasi.
“Ini banjir kiriman dari luapan Kali CBL dan Kali Bekasi. Jadi dua kali jebol. Kalau intensitas hujan lokal saja tidak separah ini,” tambahnya.
Warga mulai menyiapkan langkah lanjutan untuk mencari solusi jangka panjang. Para ibu rumah tangga bahkan berencana mendatangi pihak pengembang perumahan.
“Ibu-ibu sudah mau bergerak ke developer. Kalau tidak ada antisipasi terus, kita bakal ada pergerakan atau cari solusi ke kementerian,” ungkap Jaelani.
Hingga Jumat sore, banjir masih merendam seluruh kawasan perumahan. Warga berharap ada penanganan serius agar banjir tidak terus berulang setiap musim hujan tiba.
Hingga saat ini, bantuan yang diterima warga baru berupa mi instan. Menanggapi kondisi ini, salah satu petugas developer Rike, menjelaskan bahwa pihak pengembang telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bekasi.
“Jadi kita itu sebenarnya developer bukannya tidak bertanggung jawab. Kita sudah benar-benar support sama konsumen. Semua fasilitas kita siapkan, baik utilitas maupun sarana prasarana, sesuai perizinan dari pemerintah daerah,” jelas Rike.
Rike menegaskan bahwa pembangunan perumahan dilakukan dengan izin resmi pemerintah setempat, dan pihaknya akan terus mendorong penyelesaian masalah hingga tingkat yang lebih tinggi.
“Ini kemarin saya titik terakhir langsung saya kirim ke Paket 6, Paket 7. Kalau tidak masuk ke pusat, saya langsung ke pusat, ke pemprov,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa banjir bukan hanya terjadi di Perumahan Green Lavender, tetapi banyak developer lain yang menghadapi situasi serupa.
“Kami capek dikomplain sama konsumen gara-garanya pemerintah. Sebenarnya bukan kita saja, developer di sini ada banyak, cuma mereka enggak berani speak up saja,” ujar Rike.
Kejadian ini menyoroti perlunya solusi jangka panjang dari pemerintah daerah agar perumahan di wilayah rawan banjir tidak kembali terendam setiap musim hujan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











