Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Colenak

Berburu Kuliner di Purwakarta? Ini 5 Makanan Tradisional yang Cocok Jadi Oleh-Oleh

Kamis, 15 Oktober 2026 19:01 WIB

Mayoritas Muslim Tapi Dilarang Berhijab? Kisah Pilu Siswi di Azerbaijan Terusir dari Sekolah

Kamis, 15 Oktober 2026 18:39 WIB

Persib Didenda Rp50 Juta, Luka Menalo Rusak LED Board dan Kaca Ruang Ganti

Kamis, 15 Oktober 2026 18:35 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Berburu Kuliner di Purwakarta? Ini 5 Makanan Tradisional yang Cocok Jadi Oleh-Oleh
  • Mayoritas Muslim Tapi Dilarang Berhijab? Kisah Pilu Siswi di Azerbaijan Terusir dari Sekolah
  • Persib Didenda Rp50 Juta, Luka Menalo Rusak LED Board dan Kaca Ruang Ganti
  • Beda Kelas atau Beda Nasib? Aiswarya Bawa Pulang Mahkota, Reno Pulang Dihujat Satu Indonesia!
  • Prabowo Lantik 9 Pejabat Baru, Maruli Simanjuntak Jadi Wakil Panglima TNI
  • Belum Menang dalam 4 Laga, Garudayaksa FC Punya Misi Penting Lawan Arema FC
  • Jalan Perbatasan Ciwidey–Gununghalu Kini Mulus, KDS: Dorong Ekonomi Warga
  • Serangan di Arab Saudi Tewaskan 12 Orang, Kemlu Pantau Keselamatan WNI
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 15 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Berani Banget! Bule Prancis di Lombok Tantang Warga hingga Polisi Gara-gara Suara Ngaji

By Aga GustianaJumat, 20 Februari 2026 20:49 WIB5 Mins Read
Bule Prancis ngamuk di Lombok. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sebuah insiden mengejutkan baru-baru ini mengguncang ketenangan Gili Trawangan, permata pariwisata Lombok Utara. Sebuah tindakan intoleransi yang dilakukan oleh seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Prancis bernama Miranda Lee, telah memicu ketegangan dan menguji batas kesabaran warga lokal. Pada Kamis malam (19/2/2026), suasana damai tadarus Alquran di sebuah musala tiba-tiba berubah menjadi arena kemarahan ketika Miranda menerobos masuk dan mengamuk, mengaku terganggu oleh suara lantunan ayat suci.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 23.30 Wita ini bukan sekadar cekcok biasa. Di tengah bulan suci Ramadhan, saat umat Muslim khusyuk menjalankan ibadah, aksi vandalisme terhadap fasilitas ibadah serta kekerasan fisik yang menyertainya telah menjadi noda hitam pada citra toleransi di destinasi wisata internasional ini. Kasus ini sontak menjadi buah bibir, tidak hanya di kalangan warga lokal, tetapi juga viral di media sosial, memantik perdebatan luas tentang batas-batas kearifan lokal di kawasan pariwisata.

Ketenangan Tadarus yang Robek oleh Arogansi

Malam itu, seperti biasa di bulan Ramadhan, para jamaah musala di Gili Trawangan sedang larut dalam keheningan tadarus Alquran. Lantunan ayat suwah yang syahdu memenuhi udara, menjadi irama penutup hari setelah seharian berpuasa. Namun, kedamaian itu pecah seketika. Sebuah sosok perempuan berambut pirang, dengan emosi meluap-luap, tiba-tiba menerobos masuk. Tanpa basa-basi, ia langsung menuju ke arah pengeras suara dan dengan kasar mencabut kabel mikrofon yang tengah digunakan.

Muhammad Husni, Kepala Dusun Gili Trawangan, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Ia membenarkan insiden arogansi yang tak terduga dari WNA Prancis tersebut. Menurut Husni, tindakan Miranda tidak hanya tidak sopan, tetapi juga sangat memancing emosi warga yang sedang beribadah. “Saat warga tengah tadarus di dalam musala, tiba-tiba WNA ini masuk dan marah-marah langsung mencabut kabel mikrofon. Tindakan tidak sopannya spontan membuat warga emosi,” ujar Husni saat dikonfirmasi, Jumat (20/2/2026).

Kekhusyukan ibadah yang seharusnya menjadi hak setiap pemeluk agama, mendadak terganggu oleh ledakan amarah yang tidak beralasan. Ini bukan hanya masalah gangguan suara, tetapi lebih pada penodaan terhadap ruang sakral dan tradisi religius yang dihormati.

Kesabaran Warga Diuji, Kekerasan Fisik Terjadi

Meskipun amarah warga sempat tersulut, Husni menegaskan bahwa masyarakat Gili Trawangan tetap menunjukkan kematangan dalam menghadapi provokasi. Mereka berusaha menahan diri dan mencoba menjelaskan situasi serta aturan setempat secara baik-baik kepada Miranda. Sebuah upaya dialog yang patut diapresiasi, mengingat konteks insiden yang sangat sensitif.

Namun, upaya penjelasan itu sia-sia. Miranda Lee tampaknya tidak tertarik untuk memahami atau menghormati. Responsnya justru jauh dari kata damai. Dengan membabi buta, ia meluapkan kemarahannya lebih jauh, bahkan berujung pada kekerasan fisik. Salah seorang warga dilaporkan terluka akibat cakaran WNA tersebut. Tindakan ini menunjukkan tingkat arogansi dan ketidakpedulian yang mengkhawatirkan terhadap norma sosial dan hukum di tanah orang lain.

Melanggar Kearifan Lokal dan Mengancam dengan Senjata Tajam

Hal yang membuat Husni semakin menyayangkan adalah fakta bahwa Miranda Lee bukanlah pendatang baru di Gili Trawangan. Ia sudah lama menetap di sana, bahkan memiliki properti berupa Villa Ottalia. Seharusnya, dengan durasi tinggal yang cukup lama, WNA tersebut sudah sangat memahami dan menghargai kearifan lokal serta aturan yang disepakati bersama, terutama selama bulan suci Ramadhan.

Aturan desa di Gili Trawangan, seperti banyak daerah lainnya, memiliki batas toleransi yang jelas. Penggunaan pengeras suara di luar musala untuk tadarus masih diperbolehkan hingga pukul 24.00 Wita. Setelah waktu tersebut, barulah jamaah diwajibkan menggunakan pengeras suara di bagian dalam musala untuk tidak mengganggu ketenangan malam. Aturan yang sama ketatnya juga diterapkan pada kafe-kafe dan tempat hiburan yang harus menghormati jam malam. Tindakan Miranda jelas-jelas melanggar kesepakatan komunal ini.

Situasi malam itu semakin memanas. Ketika warga mendesak Miranda untuk meninggalkan musala, ia malah bertindak lebih ekstrem. Merampas telepon seluler (handphone) milik salah satu warga, ia kemudian kabur menuju vilanya. Warga yang tidak terima mencoba mengikuti untuk mengambil kembali perangkat tersebut. Namun, respons Miranda justru di luar dugaan. Ia keluar dari vilanya dengan membawa senjata tajam. “Saat warga mau mengambil handphone-nya, WNA ini justru melawan menggunakan parang,” ungkap Husni, menggambarkan betapa gentingnya situasi.

Insiden itu bahkan berlanjut ketika aparat kepolisian tiba di lokasi untuk meredam kekisruhan. Bukannya menyerahkan diri atau mereda, Miranda justru dilaporkan sempat mengejar petugas menggunakan parang yang dibawanya. Sebuah aksi yang bukan hanya menantang warga, tetapi juga aparat penegak hukum.

Respons Aparat dan Implikasi Terhadap Pariwisata

Kasus ini, yang dengan cepat menyebar dan viral di media sosial, segera mendapat perhatian dari pihak berwenang. Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanta, memastikan bahwa pihaknya telah turun tangan untuk mengangani insiden serius ini. Pihak kepolisian saat ini terus memantau pergerakan terduga pelaku untuk mencegah konflik susulan yang lebih besar dan menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat (Kamtibmas) tetap kondusif. “Masih kita monitor dan kita pantau yang bersangkutan untuk menjaga Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) tetap kondusif,” tegas AKBP Agus.

Insiden ini bukan hanya sekadar konflik personal, melainkan memiliki implikasi yang lebih luas terhadap citra pariwisata Gili Trawangan yang selama ini dikenal sebagai surga bagi wisatawan. Keharmonisan antara wisatawan dan masyarakat lokal adalah kunci keberlanjutan sektor pariwisata. Tindakan intoleransi semacam ini dapat merusak reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun, menimbulkan pertanyaan tentang keamanan dan kenyamanan, tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi penduduk setempat.

Pemerintah daerah dan pihak terkait perlu mengambil tindakan tegas dan transparan dalam menangani kasus ini, memastikan bahwa keadilan ditegakkan dan pesan jelas disampaikan: kearifan lokal serta hukum di Indonesia wajib dihormati, siapapun Anda, dari manapun asal Anda. Insiden ini adalah pengingat penting bahwa toleransi adalah jalan dua arah, dan menghargai budaya setempat adalah kunci utama untuk menikmati keindahan sebuah destinasi wisata.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Mayoritas Muslim Tapi Dilarang Berhijab? Kisah Pilu Siswi di Azerbaijan Terusir dari Sekolah

Prabowo Lantik 9 Pejabat Baru, Maruli Simanjuntak Jadi Wakil Panglima TNI

Jalan Perbatasan Ciwidey–Gununghalu Kini Mulus, KDS: Dorong Ekonomi Warga

Serangan di Arab Saudi Tewaskan 12 Orang, Kemlu Pantau Keselamatan WNI

Perbup Tak Kunjung Terbit, Ketua FPP dan PKB KBB Pertanyakan Komitmen Bupati Jeje

Bikin Geram! Bali Krisi Bensin: Antrean SPBU Mengular, Pasar Gelap Digital Merajalela!

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
  • Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.