Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Wanita di Bandung Diduga Disekap dan Dianiaya di Apartemen, Uang Rp6 Juta Raib

Kamis, 15 Oktober 2026 19:20 WIB
Colenak

Berburu Kuliner di Purwakarta? Ini 5 Makanan Tradisional yang Cocok Jadi Oleh-Oleh

Kamis, 15 Oktober 2026 19:01 WIB

Mayoritas Muslim Tapi Dilarang Berhijab? Kisah Pilu Siswi di Azerbaijan Terusir dari Sekolah

Kamis, 15 Oktober 2026 18:39 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Wanita di Bandung Diduga Disekap dan Dianiaya di Apartemen, Uang Rp6 Juta Raib
  • Berburu Kuliner di Purwakarta? Ini 5 Makanan Tradisional yang Cocok Jadi Oleh-Oleh
  • Mayoritas Muslim Tapi Dilarang Berhijab? Kisah Pilu Siswi di Azerbaijan Terusir dari Sekolah
  • Persib Didenda Rp50 Juta, Luka Menalo Rusak LED Board dan Kaca Ruang Ganti
  • Beda Kelas atau Beda Nasib? Aiswarya Bawa Pulang Mahkota, Reno Pulang Dihujat Satu Indonesia!
  • Prabowo Lantik 9 Pejabat Baru, Maruli Simanjuntak Jadi Wakil Panglima TNI
  • Belum Menang dalam 4 Laga, Garudayaksa FC Punya Misi Penting Lawan Arema FC
  • Jalan Perbatasan Ciwidey–Gununghalu Kini Mulus, KDS: Dorong Ekonomi Warga
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 15 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Mayoritas Muslim Tapi Dilarang Berhijab? Kisah Pilu Siswi di Azerbaijan Terusir dari Sekolah

By Aga GustianaKamis, 15 Oktober 2026 18:39 WIB5 Mins Read
Viral larangan berhijab di Azerbaijan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pemandangan dari koridor dan halaman sebuah sekolah negeri di Azerbaijan itu terasa begitu menyayat hati. Di balik kaca jendela kelas yang tebal, seorang siswi sekolah dasar yang mengenakan kemeja putih berlengan panjang, celana panjang hitam, dan jilbab putih yang rapi, terpaksa menundukkan kepalanya di atas ambang jendela luar. Dari sudut terluar gedung sekolah itu, jemarinya yang mungil dengan telaten memegang pena, menggoreskan catatan di atas lembar-lembar buku pelajaran yang terbuka di atas lantai semen luar jendela. Ia belajar di luar ruangan, terpapar udara dingin, hanya karena selembar kain yang menutupi kepalanya dianggap menyalahi aturan baru.

Ketika sesekali ia mengusap matanya yang basah oleh air mata, ketegarannya memperlihatkan kepiluan yang mendalam. Di bagian lain lingkungan sekolah, suasana tak kalah mengharukan terekam kamera. Dari balik jeruji besi pagar sekolah yang kokoh dan tinggi, beberapa siswi lain yang juga mengenakan jilbab putih tampak duduk bersimpuh dan berdiri termenung, tak diperbolehkan melangkahkan kaki melewati pintu gerbang. Tangis mereka pecah ketika jemari-jemari mungil itu berusaha saling menggapai dan memeluk teman-teman serta guru mereka yang berdiri di seberang jeruji. Jeruji besi itu tak hanya memisahkan fisik mereka, tetapi juga merenggut hak dasar mereka untuk mengecap pendidikan di dalam kelas bersama teman-teman sebaya.

Kejadian emosional ini mendadak viral di media sosial setelah amandemen aturan seragam sekolah negeri di Azerbaijan resmi diberlakukan bulan lalu. Video-video yang beredar memperlihatkan bagaimana para siswa dan guru berhijab dipaksa meninggalkan ruang kelas atau tertahan di luar area sekolah karena menolak melepas jilbab mereka.

Alasan Larangan Berhijab di Negara Mayoritas Muslim

Baca Juga:  Tiga Rekomendasi Martabak Legend dan Viral di Bandung

Bagi banyak orang, kebijakan ini terasa janggal dan bertentangan dengan realitas sosiologis. Azerbaijan merupakan negara dengan populasi Muslim mencapai sekitar 96 persen. Namun, mengapa larangan yang secara tidak langsung membatasi penggunaan hijab ini justru diterapkan di sekolah-sekolah negeri?

Jawabannya berakar pada garis politik dan fondasi konstitusi Azerbaijan. Sejak merdeka dari Uni Soviet, Azerbaijan secara tegas mendeklarasikan diri sebagai negara sekuler. Pemerintah Azerbaijan memegang prinsip ketat mengenai pemisahan antara agama dan urusan negara (secularism), khususnya di ranah publik dan institusi pendidikan umum.

Amandemen aturan berpakaian yang baru disetujui bulan lalu itu secara teknis mewajibkan seluruh siswa dan tenaga pengajar memakai seragam standar yang netral dari unsur atau atribut keagamaan. Melalui kantor berita milik negara, APA, pemerintah menjelaskan beberapa alasan utama di balik kebijakan ini:

Menjaga Prinsip Sekularisme Negara: Pemerintah ingin memastikan bahwa ruang kelas di sekolah publik tetap menjadi lingkungan yang netral dari identitas dan simbol keagamaan tertentu.

Keseragaman dan Standar Profesional: Kementerian Sains dan Pendidikan Azerbaijan menilai bahwa aturan berpakaian yang seragam diperlukan demi menjaga standar profesionalitas serta berdampak positif pada reputasi publik sekolah.

Baca Juga:  Jhon LBF Ultimatum Ivan Sugianto Gegara Suruh Anak SMA Sujud dan Menggonggong

Pembatasan Pakaian Tradisional/Keagamaan: Pakaian yang mencerminkan sejarah, budaya, atau nilai-nilai nasional hanya diizinkan dalam acara atau perayaan khusus, dan itu pun wajib memperoleh persetujuan resmi dari Dewan Pedagogi.

Pemerintah berargumen bahwa kebijakan ini bertujuan menyatukan seluruh siswa dalam standar yang sama, namun bagi masyarakat Muslim lokal, aturan ini dirasakan sebagai bentuk pengekangan kebebasan beragama dan diskriminasi terhadap perempuan yang memilih berhijab.

Jeritan Hati Guru dan Aksi Solidaritas

Dampak dari kebijakan sekuler ini tidak hanya menimpa anak-anak sekolah, tetapi juga para pendidik. Zahra Hasanova, seorang guru sekolah di Azerbaijan, mengungkapkan rasa sakit hatinya ketika dilarang masuk ke kelas hanya karena mempertahankan hijabnya.

“Sejujurnya, saya sedikit emosional. Saya merasa sakit hati,” tutur Hasanova saat diwawancarai Al Jazeera. Menurutnya, mengenakan hijab adalah hak asasi dan pilihan pribadi yang harus dihormati oleh negara maupun lembaga mana pun.

Gelombang protes pun merebak di berbagai wilayah. Selain para siswa di beberapa sekolah yang melancarkan aksi boikot tidak masuk kelas, dukungan juga datang dari figur publik seperti jurnalis Polad Aslanov yang melancarkan aksi mogok makan di dalam penjara sebagai bentuk protes atas pelanggaran hak-hak konstitusional warga. Protes bahkan meluas hingga ke negara tetangga, Turki, di mana para demonstran menggelar aksi di luar Konsulat Azerbaijan di Istanbul untuk menuntut pencabutan aturan tersebut.

Baca Juga:  Kronologi Lengkap Perusakan Bus Persib U-18 di Tol Batang: Kaca Pecah hingga Ofisial Dianiaya

Empati dan Komentar Netizen: “Sabar ya Nak…”

Rekaman video siswi yang belajar di balik jendela luar dan menangis di balik jeruji sekolah ini memicu gelombang empati yang luar biasa dari warganet. Kolom komentar di media sosial dibanjiri doa, simpati, serta kritik pedas terhadap penerapan hak asasi manusia yang dinilai tebang pilih.

Banyak warganet memberikan pujian atas keteguhan hati siswi-siswi kecil tersebut dalam mempertahankan prinsip keimanannya:

“Tetap jaga auratmu terus Dek, Insya Allah dunia dan akhirat akan menyanjungmu šŸ˜šŸ”„,” tulis seorang netizen memberikan apresiasi mendalam.

“Sabar yah nak. InsyaaAllah syariat ini tidak menyulitkan, justru melindungimuā¤ļø,” ujar netizen lainnya memberikan penguatan moral.

Sementara itu, tidak sedikit pula warganet yang menyuarakan keprihatinan atas standar ganda mengenai kebebasan individu dan hak asasi manusia di dunia pendidikan:

“Hak asasi manusianya pilih-pilih mana yg mendukung nafsu syahwat sebagian kelompok. Semoga Allaah mudahkan ya little sis šŸ˜,” tulis netizen lainnya dengan nada prihatin.

Potret siswi Azerbaijan yang terpaksa belajar di luar jendela kini menjadi pengingat pahit tentang betapa sengitnya benturan antara prinsip sekularisme negara dan kebebasan berkeyakinan di era modern. Di balik jeruji dan kaca jendela sekolah itu, cita-cita anak-anak untuk menuntut ilmu kini terhalang oleh selembar kain dan ketatnya aturan birokrasi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Azerbaijan hijab viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Wanita di Bandung Diduga Disekap dan Dianiaya di Apartemen, Uang Rp6 Juta Raib

Prabowo Lantik 9 Pejabat Baru, Maruli Simanjuntak Jadi Wakil Panglima TNI

Jalan Perbatasan Ciwidey–Gununghalu Kini Mulus, KDS: Dorong Ekonomi Warga

Serangan di Arab Saudi Tewaskan 12 Orang, Kemlu Pantau Keselamatan WNI

Perbup Tak Kunjung Terbit, Ketua FPP dan PKB KBB Pertanyakan Komitmen Bupati Jeje

Bikin Geram! Bali Krisi Bensin: Antrean SPBU Mengular, Pasar Gelap Digital Merajalela!

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
  • Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.