bukamata.id – Pemandangan dari koridor dan halaman sebuah sekolah negeri di Azerbaijan itu terasa begitu menyayat hati. Di balik kaca jendela kelas yang tebal, seorang siswi sekolah dasar yang mengenakan kemeja putih berlengan panjang, celana panjang hitam, dan jilbab putih yang rapi, terpaksa menundukkan kepalanya di atas ambang jendela luar. Dari sudut terluar gedung sekolah itu, jemarinya yang mungil dengan telaten memegang pena, menggoreskan catatan di atas lembar-lembar buku pelajaran yang terbuka di atas lantai semen luar jendela. Ia belajar di luar ruangan, terpapar udara dingin, hanya karena selembar kain yang menutupi kepalanya dianggap menyalahi aturan baru.
Ketika sesekali ia mengusap matanya yang basah oleh air mata, ketegarannya memperlihatkan kepiluan yang mendalam. Di bagian lain lingkungan sekolah, suasana tak kalah mengharukan terekam kamera. Dari balik jeruji besi pagar sekolah yang kokoh dan tinggi, beberapa siswi lain yang juga mengenakan jilbab putih tampak duduk bersimpuh dan berdiri termenung, tak diperbolehkan melangkahkan kaki melewati pintu gerbang. Tangis mereka pecah ketika jemari-jemari mungil itu berusaha saling menggapai dan memeluk teman-teman serta guru mereka yang berdiri di seberang jeruji. Jeruji besi itu tak hanya memisahkan fisik mereka, tetapi juga merenggut hak dasar mereka untuk mengecap pendidikan di dalam kelas bersama teman-teman sebaya.
Kejadian emosional ini mendadak viral di media sosial setelah amandemen aturan seragam sekolah negeri di Azerbaijan resmi diberlakukan bulan lalu. Video-video yang beredar memperlihatkan bagaimana para siswa dan guru berhijab dipaksa meninggalkan ruang kelas atau tertahan di luar area sekolah karena menolak melepas jilbab mereka.
Alasan Larangan Berhijab di Negara Mayoritas Muslim
Bagi banyak orang, kebijakan ini terasa janggal dan bertentangan dengan realitas sosiologis. Azerbaijan merupakan negara dengan populasi Muslim mencapai sekitar 96 persen. Namun, mengapa larangan yang secara tidak langsung membatasi penggunaan hijab ini justru diterapkan di sekolah-sekolah negeri?
Jawabannya berakar pada garis politik dan fondasi konstitusi Azerbaijan. Sejak merdeka dari Uni Soviet, Azerbaijan secara tegas mendeklarasikan diri sebagai negara sekuler. Pemerintah Azerbaijan memegang prinsip ketat mengenai pemisahan antara agama dan urusan negara (secularism), khususnya di ranah publik dan institusi pendidikan umum.
Amandemen aturan berpakaian yang baru disetujui bulan lalu itu secara teknis mewajibkan seluruh siswa dan tenaga pengajar memakai seragam standar yang netral dari unsur atau atribut keagamaan. Melalui kantor berita milik negara, APA, pemerintah menjelaskan beberapa alasan utama di balik kebijakan ini:
Menjaga Prinsip Sekularisme Negara: Pemerintah ingin memastikan bahwa ruang kelas di sekolah publik tetap menjadi lingkungan yang netral dari identitas dan simbol keagamaan tertentu.
Keseragaman dan Standar Profesional: Kementerian Sains dan Pendidikan Azerbaijan menilai bahwa aturan berpakaian yang seragam diperlukan demi menjaga standar profesionalitas serta berdampak positif pada reputasi publik sekolah.
Pembatasan Pakaian Tradisional/Keagamaan: Pakaian yang mencerminkan sejarah, budaya, atau nilai-nilai nasional hanya diizinkan dalam acara atau perayaan khusus, dan itu pun wajib memperoleh persetujuan resmi dari Dewan Pedagogi.
Pemerintah berargumen bahwa kebijakan ini bertujuan menyatukan seluruh siswa dalam standar yang sama, namun bagi masyarakat Muslim lokal, aturan ini dirasakan sebagai bentuk pengekangan kebebasan beragama dan diskriminasi terhadap perempuan yang memilih berhijab.
Jeritan Hati Guru dan Aksi Solidaritas
Dampak dari kebijakan sekuler ini tidak hanya menimpa anak-anak sekolah, tetapi juga para pendidik. Zahra Hasanova, seorang guru sekolah di Azerbaijan, mengungkapkan rasa sakit hatinya ketika dilarang masuk ke kelas hanya karena mempertahankan hijabnya.
“Sejujurnya, saya sedikit emosional. Saya merasa sakit hati,” tutur Hasanova saat diwawancarai Al Jazeera. Menurutnya, mengenakan hijab adalah hak asasi dan pilihan pribadi yang harus dihormati oleh negara maupun lembaga mana pun.
Gelombang protes pun merebak di berbagai wilayah. Selain para siswa di beberapa sekolah yang melancarkan aksi boikot tidak masuk kelas, dukungan juga datang dari figur publik seperti jurnalis Polad Aslanov yang melancarkan aksi mogok makan di dalam penjara sebagai bentuk protes atas pelanggaran hak-hak konstitusional warga. Protes bahkan meluas hingga ke negara tetangga, Turki, di mana para demonstran menggelar aksi di luar Konsulat Azerbaijan di Istanbul untuk menuntut pencabutan aturan tersebut.
Empati dan Komentar Netizen: “Sabar ya Nak…”
Rekaman video siswi yang belajar di balik jendela luar dan menangis di balik jeruji sekolah ini memicu gelombang empati yang luar biasa dari warganet. Kolom komentar di media sosial dibanjiri doa, simpati, serta kritik pedas terhadap penerapan hak asasi manusia yang dinilai tebang pilih.
Banyak warganet memberikan pujian atas keteguhan hati siswi-siswi kecil tersebut dalam mempertahankan prinsip keimanannya:
“Tetap jaga auratmu terus Dek, Insya Allah dunia dan akhirat akan menyanjungmu šš„,” tulis seorang netizen memberikan apresiasi mendalam.
“Sabar yah nak. InsyaaAllah syariat ini tidak menyulitkan, justru melindungimuā¤ļø,” ujar netizen lainnya memberikan penguatan moral.
Sementara itu, tidak sedikit pula warganet yang menyuarakan keprihatinan atas standar ganda mengenai kebebasan individu dan hak asasi manusia di dunia pendidikan:
“Hak asasi manusianya pilih-pilih mana yg mendukung nafsu syahwat sebagian kelompok. Semoga Allaah mudahkan ya little sis š,” tulis netizen lainnya dengan nada prihatin.
Potret siswi Azerbaijan yang terpaksa belajar di luar jendela kini menjadi pengingat pahit tentang betapa sengitnya benturan antara prinsip sekularisme negara dan kebebasan berkeyakinan di era modern. Di balik jeruji dan kaca jendela sekolah itu, cita-cita anak-anak untuk menuntut ilmu kini terhalang oleh selembar kain dan ketatnya aturan birokrasi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









