bukamata.id – Perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Nabire, Papua Tengah, menghadirkan sebuah kisah yang tak sekadar menyentuh, tetapi juga menggugah cara pandang tentang pendidikan, kesetaraan, dan arti keteguhan hidup.
Di tengah lapangan sederhana Mepa Boarding School, sorotan tertuju pada seorang remaja bernama Deki Degei, sosok yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah batas untuk memimpin dan bermimpi.
Berdiri Tegap dengan Satu Kaki, Menggetarkan Upacara Hardiknas
Sabtu pagi, 2 Mei 2026, suasana di Nabire Barat mendadak hening saat Deki melangkah ke tengah lapangan. Dengan hanya satu kaki, tanpa tongkat maupun kaki palsu, ia berdiri tegap sebagai pemimpin upacara.
Suara lantangnya memecah keheningan.
“Kepada pembina upacara, hormat… grak!”
Komando itu dikumandangkan dengan penuh keyakinan di hadapan Meki Nawipa dan ratusan peserta upacara. Tak ada keraguan. Tak ada rasa takut yang tampak. Hanya keberanian yang utuh.
Upacara Hardiknas ke-68 ini terasa berbeda. Seluruh petugas berasal dari siswa sekolah luar biasa (SLB), menjadikannya simbol nyata pendidikan inklusif yang hidup dan berjalan di Papua Tengah.
Perjalanan Hidup: Dari Tragedi ke Keteguhan
Kisah Deki bukanlah perjalanan yang mudah. Ia lahir di pedalaman Kabupaten Paniai dan mengalami kecelakaan tragis saat berusia enam tahun di Jayapura. Kaki kirinya harus diamputasi setelah terlindas truk saat menyeberang jalan bersama ayahnya.
Namun, titik terendah itu justru menjadi awal dari kekuatan mentalnya.
Alih-alih bergantung pada alat bantu, Deki memilih jalan yang tidak biasa. Ia menolak tongkat dan bahkan kaki palsu yang pernah diberikan oleh pemerintah daerah. Ia memilih bergerak dengan satu kaki, melompat, berlari, dan menjalani hidup dengan caranya sendiri.
Keputusan itu membentuknya menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri.
Kehidupan di Kampung dan Semangat Tanpa Batas
Masa kecil Deki di Paniai diwarnai dengan keterbatasan fasilitas. Untuk mendapatkan air bersih saja, ia harus menempuh perjalanan naik turun gunung. Namun, kondisi tersebut tidak pernah melemahkan semangatnya.
Ia tetap aktif bersekolah, bermain voli, dan bergaul seperti anak-anak lainnya. Lingkungan yang suportif tanpa perundungan menjadi salah satu faktor penting yang menjaga mentalnya tetap kuat.
Dukungan dari keluarga, teman, dan guru menjadi bahan bakar yang terus mendorongnya melangkah maju.
Mepa Boarding School: Tempat Tumbuhnya Mimpi
Kesempatan besar datang saat Deki melanjutkan pendidikan di Mepa Boarding School, sebuah sekolah milik Pemerintah Provinsi Papua Tengah yang mengusung konsep pendidikan inklusif.
Sekolah ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan karakter, spiritualitas, dan kepemimpinan. Di sinilah Deki mulai menunjukkan potensinya.
Ia bahkan dipercaya menjadi koordinator keamanan dalam struktur OSIS, peran yang menunjukkan kepercayaan sekolah terhadap kapasitas kepemimpinannya.
Persiapan Singkat, Hasil Maksimal
Menjadi pemimpin upacara Hardiknas bukanlah hal yang direncanakan lama. Deki hanya memiliki waktu beberapa hari untuk berlatih.
Ia mempelajari setiap detail:
- Sikap sempurna
- Baris-berbaris
- Pelafalan komando
Rasa takut sempat menghampiri. Namun, dengan latihan intens dan tekad kuat, ia mampu mengatasi semuanya.
Hasilnya terlihat jelas, ia memimpin upacara selama hampir 40 menit tanpa goyah.
Mimpi Besar dari Tanah Papua
Di balik senyum sederhana, Deki menyimpan mimpi besar.
“Kelak saya ingin jadi kepala dinas pendidikan, supaya anak-anak Papua bisa semakin pintar dan cerdas.”
Bagi Deki, pendidikan bukan sekadar proses belajar di kelas. Pendidikan adalah jalan untuk membuktikan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama untuk sukses.
Apresiasi Gubernur dan Harapan Masa Depan
Penampilan Deki mendapat perhatian langsung dari Gubernur Papua Tengah. Ia menyampaikan apresiasi atas keberanian dan semangat yang ditunjukkan.
Menurutnya, Deki adalah representasi masa depan Papua, anak muda yang mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.
Lebih dari sekadar simbol, Deki kini menjadi inspirasi bagi program pemerataan pendidikan di Papua Tengah. Ia menjadi bukti bahwa pendidikan inklusif bukan hanya wacana, tetapi realitas yang harus terus diperjuangkan.
Reaksi Warganet: Haru dan Dukungan Mengalir
Kisah Deki juga viral di media sosial dan menuai berbagai respons positif. Banyak warganet yang terharu dan memberikan dukungan.
Beberapa komentar di Instagram menunjukkan empati dan harapan:
- “Semoga bisa sekolah tinggi, ada yang kasih beasiswa.”
- “Keren, ini baru semangat NKRI. Semoga difasilitasi kaki palsu.”
- “Sehat-sehat terus Deki, kamu inspirasi!”
Respons ini menunjukkan bahwa kisah Deki tidak hanya menyentuh secara lokal, tetapi juga nasional.
Simbol Pendidikan Inklusif yang Nyata
Kehadiran Deki di upacara Hardiknas 2026 menjadi simbol kuat bahwa pendidikan harus merangkul semua kalangan.
Tidak boleh ada anak yang tertinggal hanya karena keterbatasan fisik atau akses.
Mepa Boarding School sebagai institusi pendidikan inklusif menjadi contoh nyata bagaimana sistem pendidikan dapat menghadirkan kesempatan yang setara bagi semua.
Penutup: Lebih dari Sekadar Pemimpin Upacara
Hari itu, Deki Degei tidak hanya memimpin jalannya upacara.
Ia memimpin cara pandang.
Ia menunjukkan bahwa keberanian, ketekunan, dan kesempatan yang adil adalah inti dari pendidikan yang sesungguhnya.
Langkahnya mungkin tidak sempurna, tetapi tekadnya utuh dan justru itulah yang membuatnya luar biasa.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










