bukamata.id – Situasi mencekam menyelimuti warga di Kampung Parakan Panjang, Desa Sukamakmur, Kabupaten Bogor, pada Senin (4/5/2026). Sebuah unggahan video dari akun TikTok @azkiaaaastecu menunjukkan kondisi Kali Cipamingkis yang meluap hingga mencapai status Siaga 1. Arus sungai yang dahsyat dan berwarna cokelat pekat tampak terus menggerus bantaran, memicu kekhawatiran akan terjadinya banjir bandang dan longsor susulan yang dapat melumat pemukiman serta sawah warga.
Dalam video tersebut, seorang pria yang mengenakan peci putih memberikan laporan langsung dari lokasi kejadian. Dengan suara yang beradu dengan gemuruh air, ia melayangkan kritik terbuka dan menagih perhatian dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Pak Dedi, Tolong Atensinya!”
Sosok dalam video tersebut tidak bisa menyembunyikan kecemasannya melihat bibir sungai yang semakin terkikis. Ia menegaskan bahwa keselamatan warga kini berada di ujung tanduk akibat degradasi lingkungan yang tidak kunjung ditangani secara serius oleh pemerintah provinsi.
“Pak Dedi, coba ini Pak Dedi, tolong atensinya. Ini Bogor, ini Pak Dedi, liatin dulu. Kita yang ada di Kampung Parakan Panjang, Desa Sukamakmur, Kabupaten Bogor, semakin terancam oleh erosinya air sungai Kali Cipamingkis ini,” lapor pria tersebut sambil menunjuk ke arah aliran sungai yang ganas.
Ia melanjutkan bahwa ancaman ini bukanlah fenomena alam biasa, melainkan dampak dari kumulasi kebijakan yang abai terhadap kelestarian ekologi di wilayah hulu.
Kritik Tajam: Bisnis Pariwisata di Atas Kelestarian Alam
Salah satu poin paling krusial dalam laporan warga tersebut adalah sorotan terhadap masifnya alih fungsi lahan di perbukitan Sukamakmur. Wilayah yang seharusnya menjadi benteng resapan air kini berubah menjadi deretan bangunan beton demi kepentingan komersial.
“Kenapa kita terancam sekali Pak Dedi? Karena di bukit-bukit sana sudah banyak sekali wisata, tempat-tempat wisata yang dibangun, sehingga hutan ditebang. Gimana ini Pak Dedi, tolong ke sini!” serunya dengan nada penuh desakan.
Kutipan ini menjadi tamparan keras bagi kepemimpinan Dedi Mulyadi. Meskipun sang Gubernur sering kali tampil dengan retorika menjaga kearifan lokal dan budaya “Leuweung” (hutan), realita di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya. Pertumbuhan sektor wisata di Bogor Timur dianggap tidak sejalan dengan perlindungan kawasan konservasi, yang pada akhirnya membebani rakyat kecil dengan risiko bencana tahunan.
Menanti Langkah Nyata, Bukan Sekadar Konten
Status Siaga 1 di Kali Cipamingkis ini menjadi alarm bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Masyarakat menilai bahwa mitigasi bencana tidak cukup hanya dilakukan di hilir atau melalui bantuan logistik pasca-kejadian. Solusi yang dibutuhkan adalah penghentian izin alih fungsi lahan yang ugal-ugalan dan reboisasi besar-besaran di wilayah hulu Sukamakmur.
Gubernur Dedi Mulyadi ditantang untuk berani mengevaluasi kebijakan pariwisata yang merusak ekosistem. Jika pembangunan terus dibiarkan tanpa kendali, maka teriakan warga di pinggiran Kali Cipamingkis akan menjadi nyanyian sedih yang berulang setiap musim hujan tiba.
Hingga saat ini, warga di Kampung Parakan Panjang masih melakukan ronda mandiri untuk mengantisipasi luapan air susulan. Mereka berharap Gubernur tidak hanya mendengar melalui media sosial, tetapi benar-benar hadir memberikan solusi konkret sebelum rumah dan mata pencaharian mereka hanyut dibawa arus Cipamingkis.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









