Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bermula Anjing Menggonggong Seret Bangkai, Warga Sumedang Syok Ternyata Jasad Bayi

Selasa, 1 September 2026 08:09 WIB

Persib Bandung Lolos ke Fase Grup ACL Two, Igor Tolic Langsung Alihkan Fokus

Selasa, 1 September 2026 06:53 WIB
penyaluran bansos PKH dan BPNT 2025 di kantor pos

Cara Cek dan Mengajukan Sanggah Desil NIK KTP Secara Mandiri Lewat Situs Resmi

Selasa, 1 September 2026 06:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bermula Anjing Menggonggong Seret Bangkai, Warga Sumedang Syok Ternyata Jasad Bayi
  • Persib Bandung Lolos ke Fase Grup ACL Two, Igor Tolic Langsung Alihkan Fokus
  • Cara Cek dan Mengajukan Sanggah Desil NIK KTP Secara Mandiri Lewat Situs Resmi
  • Bansos Kemensos September 2026 Cair! PKH, BPNT hingga Beras 10 Kg, Begini Cara Ceknya
  • Jangan Panik! Cara Logout WhatsApp Web dari Jauh Lewat HP, Akun Langsung Aman
  • KPM Wajib Cek! Bansos September 2026 Masih Disalurkan, Ini 3 Bantuan yang Perlu Diketahui
  • Klaim Saldo DANA Gratis 1 September 2026: Panduan Link DANA Kaget dan Fitur Resmi Cair Hari Ini
  • Klaim Reward Gratis Hari Ini! Kode Redeem FF 1 September 2026 dan Cara Penukarannya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 1 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

BMKG Ungkap Ketebalan Es Pegunungan Jayawijaya Sisa 4 Meter, Apa Dampaknya?

By Aga GustianaRabu, 4 Desember 2024 13:52 WIB2 Mins Read
Pegunungan Jayawijaya. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap ketebalan es di Pegunungan Jayawijaya, Papua Tengah yang kian menyusut. Bahkan dilaporkan kini tinggal tersisa 4 meter.

Hal tersebut berdasarkan pengamatan tim melalui pengukuran terhadap tongkat atau stake ukur yang ditanam di Puncak Sudirman Pegunungan Jayawijaya.

“Terakhir ada 14 stake yang sudah tersingkap, artinya ketebalan gletser diperkirakan tinggal empat meter,” kata Donaldi, mengutip Antara, Rabu (4/12/2024).

Ketebalan es tersebut, kata Donaldi, menyusut signifikan dibandingkan pada tahun 2010 lalu. Berdasarkan hasil pengukuran BMKG pada saat itu ketebalan es mencapai 32 meter. Sementara pada medio November 2015 hingga Mei 2016 ketebalan 5,6 meter.

“Hal ini juga disebabkan oleh El Nino kuat yang terjadi pada saat itu,” ujar dia.

Baca Juga:  Dentuman Keras di Cirebon, Meteor Jatuh? Begini Kata BMKG

Donaldi mengatakan, hasil survei yang dilakukan pada November 2024 menunjukan penurunan luas permukaan es yang sangat drastis di Puncak Sudirman.

Luas es menyusut menjadi 0,11 hingga 0,16 kilometer persegi dari sebelumnya pada tahun 2022 luas es tercatat 0,23 kilometer persegi.

Menurutnya penipisan ketebalan es dan dinamika cuaca menjadi tantangan tersendiri bagi tim survei gabungan antara BMKG bersama dengan PT Freeport Indonesia dalam melakukan pengukuran es pada puncak tertinggi ketujuh di dunia itu.

Tim sebelumnya dalam survei yang mulai intens dilakukan sejak 2010 ini bisa leluasa melakukan pengukuran dengan cara traking atau terbang menggunakan helikopter dan mendarat permukaan es. Namun, sejak 2017 mereka mengandalkan analisa gambar visual dan pengamatan keberadaan stake untuk mengukur ketebalan es.

Baca Juga:  Wisatawan Diimbau Waspada Hujan Disertai Petir saat Malam Tahun Baru di Jabar

“Tetapi survei ini akan terus kami lakukan untuk mendokumentasikan es di Papua yang sudah dalam tahap yang sulit untuk mempertahankannya lagi,” ujar dia.

Mencairnya es di Pegunungan Jayawijaya ini menjadi bukti nyata jika perubahaan iklim yang kini membuat suhu kian memanas.

Merujuk data Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG, saat ini kenaikan suhu secara global melaju lebih cepat dan sudah mencapai kenaikan 1,45 derajat Celcius di atas suhu rata-rata masa pra-industri. Di Indonesia, kenaikan suhu mencapai rata-rata 0,15 derajat Celcius per 10 tahun.

Baca Juga:  BPBD Jabar: BMKG dan BRIN Beda Versi Soal Angin Kencang di Sumedang-Bandung

Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG Albert C. Nahas mengatakan laju peningkatan ditemukan di wilayah Kalimantan, Sumatera bagian selatan, Jakarta dan sekitarnya, Sumatera bagian utara, kemudian di Papua Pegunungan dan juga sebagian kecil Sulawesi.

Menurutnya, jika melihat dari historis suhu ini jika diproyeksikan ke depannya dengan penyederhanaan 0,15 derajat per 10 tahun, maka di pertengahan abad 21 ini Indonesia sudah akan melampaui batas 1,5 derajat yang sering dijadikan ambang batas untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

BMKG gunung
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bermula Anjing Menggonggong Seret Bangkai, Warga Sumedang Syok Ternyata Jasad Bayi

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos Kemensos September 2026 Cair! PKH, BPNT hingga Beras 10 Kg, Begini Cara Ceknya

Bansos

KPM Wajib Cek! Bansos September 2026 Masih Disalurkan, Ini 3 Bantuan yang Perlu Diketahui

Bandung Diterjang Hujan Disertai Angin Kencang, Reklame Patah hingga Pohon Tumbang

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Jangan Sampai Terlewat! Ini Daftar Bansos September 2026 yang Perlu Diketahui KPM

Bukan Roboh Total! TNI AD Bongkar Fakta Jembatan Pongpet Pangandaran yang Bikin Bupati Terjatuh

Terpopuler
  • Benarkah Azab? Di Balik Narasi Bencana Nepal dan Isu Perusakan Masjid yang Viral
  • PPIH 2027 Resmi Dibuka! Cek Syarat, Formasi, Jadwal CAT dan Cara Daftarnya
  • PN Bandung Tolak Lagi Praperadilan Mantan Pengurus Gereja: Status Tersangka ITE Bambang Soeharto Sah
  • Game Free Fire
    Banjir Item Gratis! Kode Redeem FF 26 Agustus 2026 Siap Klaim, Ada Skin M1887 dan Diamond
  • HMI Cabang Bandung Demo Balai Kota: Desak Pemkot Buka Mata Soal RTH dan Kemiskinan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.