bukamata.id – Komisi X DPR RI dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) secara resmi meluncurkan program kemitraan bertajuk “Semarak Budaya” pada hari Sabtu (8/8/2026) di Aula SMKN 3 Bandung. Acara ini bertujuan untuk mempromosikan dan melestarikan budaya Indonesia kepada generasi muda, khususnya melalui kegiatan Pasanggiri Pencak Silat untuk tingkat SMP dan Lomba Angklung.
Program “Semarak Budaya” merupakan langkah strategis yang didasarkan pada Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, yang bertujuan untuk mengembangkan dan melindungi objek pemajuan kebudayaan, termasuk seni bela diri dan seni musik tradisional.
Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga warisan budaya tak benda seperti pencak silat dan angklung agar tidak punah.
“Pencak silat adalah kekayaan besar yang sudah tercatat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan budaya Indonesia. Jika tidak diturunkan kepada generasi berikutnya, kita berisiko kehilangan warisan berharga ini,” ujarnya.
Pasanggiri Pencak Silat: Membina Jiwa dan Mental
Pasanggiri Pencak Silat tingkat SMP dalam acara ini berfokus pada pengembangan pencak silat sebagai seni tradisi, bukan sekadar olahraga prestasi.
“Di sini, kita menekankan unsur bela diri dalam konteks seni, bagaimana melatih keseimbangan harmoni antara gerak dengan irama, serta mengatur kekuatan dan kelenturan,” jelas Ledia Hanifa.
Tujuan utama dari Pasanggiri Pencak Silat ini adalah menanamkan sikap optimis, berani, serta membangun harmoni dengan teman sebaya. Lebih penting lagi, acara ini diharapkan dapat membentuk jiwa dan mental yang kuat bagi siswa SMP, membekali mereka untuk menghadapi berbagai pengaruh dari media sosial dan dunia luar dengan mencintai budaya sendiri.
Ledia Hanifa juga menyoroti potensi besar pencak silat dalam dunia hiburan, di mana para pelakunya, baik atlet maupun seniman, telah terlibat dalam film-film laga internasional.
“Ini membuktikan bahwa pendekatan seni dalam pencak silat memiliki daya tarik yang luar biasa dan dapat memberikan penampilan pertunjukan yang realistis melalui latihan yang tekun,” tambahnya.
Lomba Angklung: Membangun Harmoni dalam Keberagaman
Tema “Semarak Budaya” juga mencakup pelestarian angklung sebagai warisan budaya tak benda dari Jawa Barat. Melalui Lomba Angklung, panitia ingin mensosialisasikan pentingnya melestarikan bahan baku angklung dan memperkenalkan keindahan permainan angklung sebagai wujud harmoni dalam masyarakat yang beragam.
“Filosofi dari angklung mengajarkan kita bagaimana membangun harmoni di tengah keberagaman masyarakat. Sama seperti saat bermain angklung, di mana setiap nada yang berbeda berpadu menjadi musik yang indah, begitu pula kita dapat membangun interaksi yang harmonis dalam pluralitas kita,” jelas Ledia.
Inovasi juga terus didorong dalam pengembangan kebudayaan, seperti yang ditunjukkan oleh riset mahasiswa Jawa Barat yang menciptakan alat musik seperti tuts piano namun membunyikan angklung.
“Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan memungkinkan kita untuk membuat terobosan dan pengembangan baru tanpa mengubah filosofi dasar budaya itu sendiri,” tegasnya.
Komitmen Kolaborasi untuk Pemajuan Kebudayaan
Ledia Hanifa berharap kegiatan “Semarak Budaya” ini dapat memberikan manfaat yang besar dan mendorong kolaborasi dengan media untuk terus mensosialisasikan budaya Indonesia, terutama budaya Jawa Barat, ke tingkat internasional.
“Dari Jawa Barat, kita akan mendunia dengan budaya-budaya kita. Mari kita terus semangat menjaga dan mengembangkan budaya Indonesia agar dapat berkembang dengan lebih baik dan terus mendunia,” tuturnya.
Acara “Semarak Budaya” menampilkan berbagai kegiatan, termasuk workshop, lomba, dan pertunjukan seni budaya. Antusiasme peserta dan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya Indonesia bagi generasi mendatang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










