Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Sudirman Street Food

Rekomendasi 10 Tempat Wisata Kuliner Malam Bandung yang Pas Buat Nongkrong Akhir Pekan

Minggu, 11 Oktober 2026 02:00 WIB

Rekomendasi 15 Tempat Wisata Bandung Terpopuler untuk Mengisi Liburan Akhir Pekan

Minggu, 11 Oktober 2026 01:00 WIB

Aksi Mbappe ke Kelab Malam saat Cedera Bikin Fans Madrid Geram, Respon Menohok Mourinho Jadi Sorotan

Sabtu, 10 Oktober 2026 21:02 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Rekomendasi 10 Tempat Wisata Kuliner Malam Bandung yang Pas Buat Nongkrong Akhir Pekan
  • Rekomendasi 15 Tempat Wisata Bandung Terpopuler untuk Mengisi Liburan Akhir Pekan
  • Aksi Mbappe ke Kelab Malam saat Cedera Bikin Fans Madrid Geram, Respon Menohok Mourinho Jadi Sorotan
  • Jadwal Persib vs Dewa United: Kebugaran Thom Haye dkk Jadi Taruhan!
  • Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas
  • Dua Anak Punk Hilang Misterius di Irigasi Johar Karawang Usai Terlibat Perkelahian
  • Bukan Ratu Biasa! Inilah Sosok Suthida, Permaisuri Thailand Pemegang Kendali Jet Tempur
  • Soroti Jasa Medis Cuma Rp20 Ribu, Anggota DPRD Jabar Sentil Pemprov Soal MoU 65 Rumah Sakit
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 11 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Bukan El Nino, Studi Ungkap Biang Kerok Utama yang Bikin Eropa Membara hingga 44 Derajat Celsius

By Aga GustianaSabtu, 27 Juni 2026 21:38 WIB3 Mins Read
Ilustrasi suhu panas. Foto: Istockphoto
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Eropa baru saja melewati pekan paling menyiksa dalam sejarah pencatatan cuacanya. Gelombang panas ekstrem yang melanda tidak hanya membakar daratan dengan suhu tinggi, tetapi juga membawa tingkat kelembapan udara yang sangat menyesakkan. Para ahli memprediksi fenomena mengerikan ini berpotensi merenggut hingga ribuan korban jiwa.

Meski saat ini muncul kekhawatiran terkait potensi pembentukan fenomena Super El Nino di Samudra Pasifik, laporan terbaru dari jaringan ilmuwan World Weather Attribution menegaskan bahwa anomali pasifik tersebut sama sekali tidak punya andil dalam bencana kali ini. Biang kerok tunggal dari petaka ini adalah pemanasan global akibat aktivitas manusia.

Anomali Cuaca yang Melampaui Batas Normal

Dalam risetnya, para peneliti mengamati lonjakan suhu tertinggi yang terjadi sepanjang 22 hingga 29 Juni di wilayah Eropa Barat dan Tengah. Fenomena lingkaran setan ‘kubah panas’ (heat dome) bertekanan rendah yang mengurung udara panas dari selatan sebenarnya adalah pola cuaca biasa. Namun, level suhu yang dihasilkan kali ini benar-benar di luar nalar.

Jika menengok ke belakang sekitar setengah abad lalu, gelombang panas di bulan Juni biasanya memiliki suhu 3,5 derajat Celsius lebih rendah. Situasi mendidih seperti beberapa hari terakhir ini adalah peristiwa yang sangat langka, dengan probabilitas kejadian kurang dari sekali dalam 10.000 tahun. Fakta di lapangan menunjukkan salah satu kota di Prancis dihantam suhu siang hari hingga menembus 44 derajat Celsius, sementara wilayah di Spanyol harus bertahan dengan suhu malam yang tidak turun dari angka 30°C.

Baca Juga:  Bogor Dilanda 49 Bencana dalam Sehari, Tiga Tewas dan Ratusan Warga Terdampak

“Peristiwa ini tidak akan mungkin terjadi pada bulan Juni tanpa adanya perubahan iklim. Suhu malam hari selama tiga hari tersebut tidak akan mungkin terjadi kapan pun sepanjang tahun tanpa adanya perubahan iklim.” kata Theodore Keeping dari Imperial College London, dikutip dari New Scientist.

Bahaya Ganda: Kombinasi Suhu Tinggi dan Kelembapan Rekor

Hal yang membuat gelombang panas kali ini jauh lebih mematikan adalah faktor kelembapan yang melesat melampaui 50% di berbagai kota besar di Inggris. Angka titik embun bertengger di kisaran low-20an, sangat kontras dengan angka satu digit yang sempat terekam saat gelombang panas ekstrem Juli 2022 silam.

Baca Juga:  Siklon Tropis Senyar Muncul di Selat Malaka, Ini Dampak yang Diwaspadai

Udara yang lembap membuat keringat manusia sulit menguap, sehingga mekanisme alami tubuh untuk mendinginkan diri menjadi tidak berfungsi. Kondisi ini menjadi ancaman fatal bagi lansia dan pengidap penyakit bawaan. Tidak hanya itu, krisis ini juga menghantam kelompok marjinal seperti tunawisma dan kaum migran secara tidak proporsional.

“Hal itu benar-benar menunjukkan ketidaksetaraan yang semakin melebar akibat perubahan iklim. Karena tentu saja orang-orang yang sangat rentanlah yang paling berisiko kehilangan nyawa,” ungkap Friederike Otto, yang juga berasal dari Imperial College London.

Sebagai gambaran nyata, data dari tahun sebelumnya (2025) mencatat bahwa serangan gelombang panas dengan skala yang lebih kecil saja sanggup menewaskan 2.300 orang di London serta 11 kota besar Eropa lainnya.

Benua yang Menua di Tengah Infrastruktur yang Salah Zaman

Ancaman ini dipastikan akan terus berulang dan semakin ganas jika pemotongan emisi bahan bakar fosil terus ditunda. Ironisnya, Eropa selaku benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia justru dinilai paling tidak siap menghadapi masa depan yang membara ini.

Baca Juga:  Cuaca Ekstrem, Diskar PB Kota Bandung Ingatkan Warga Waspada Pohon Tumbang

Sebagian besar penduduk perkotaan di Eropa didominasi oleh lansia yang tinggal di bangunan-bangunan tua yang dirancang untuk iklim sub-tropis yang sejuk. Di Inggris misalnya, fasilitas pendingin ruangan (AC) hanya terpasang di 5% bangunan.

Guna meredam dampak buruk ke depan, tim peneliti menyarankan Eropa untuk segera beralih ke investasi metode pendinginan pasif. Langkah konkret yang bisa diambil meliputi perbaikan insulasi gedung, optimalisasi ventilasi, pembuatan atap dan dinding hijau (green roofs), serta penanaman pohon peneduh massal di jalan-jalan kota. Selain itu, manajemen darurat cuaca panas juga harus diperluas agar bisa menyentuh kelompok rentan yang kerap luput dari perhatian, seperti ibu hamil dan penderita gangguan kesehatan mental.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Cuaca Ekstrem
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi tsunami

Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas

Dua Anak Punk Hilang Misterius di Irigasi Johar Karawang Usai Terlibat Perkelahian

Soroti Jasa Medis Cuma Rp20 Ribu, Anggota DPRD Jabar Sentil Pemprov Soal MoU 65 Rumah Sakit

Ilustrasi tsunami

Ini 5 Kabuptaen di Jawa Barat yang Masuk Zona Merah Tsunami Megathrust

Tembus 33 Ribu Tanda Tangan, Petisi Online Tolak Penutupan Jalan Diponegoro Bandung Makin Masif

Wacana Sistem Tidak Naik Kelas Diberlakukan 2027, Guru dan Siswa Diimbau Siapkan Strategi Baru

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
  • SEJARAH! Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Puasa Gelar 35 Tahun Berakhir
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.