bukamata.id – Kapan musim kemarau berakhir di Jawa Barat? Pertanyaan ini mulai banyak muncul seiring sebagian wilayah Jawa Barat masih menghadapi kondisi kering dan keterbatasan pasokan air.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Jawa Barat dan Bandung Raya secara umum berlangsung hingga Oktober 2026. Sementara itu, awal musim hujan diprakirakan mulai terjadi secara bertahap pada November.
Meski demikian, masyarakat di sejumlah wilayah masih perlu mewaspadai dampak kekeringan hingga November. Kondisi tersebut terutama berkaitan dengan sektor penanganan bencana dan ketersediaan air yang tidak langsung pulih setelah hujan mulai turun.
Forecaster Stasiun BMKG Bandung, Neneng Sugianti, menjelaskan bahwa waktu berakhirnya musim kemarau dapat berbeda di setiap wilayah. Kondisi ini dipengaruhi karakteristik topografi serta dinamika atmosfer pada masing-masing Zona Musim (ZOM).
Musim Kemarau Jawa Barat Dimulai Sejak Juni
Sebagian besar wilayah Jawa Barat mulai memasuki musim kemarau sejak Juni. Khusus wilayah Bandung Raya, musim kemarau dimulai pada dasarian I Juni.
Namun, sejumlah wilayah Jawa Barat bagian utara mengalami musim kemarau lebih awal. Bekasi telah memasuki kemarau sejak dasarian II Maret, kemudian Karawang pada dasarian I April.
Sementara itu, Subang, Indramayu, dan sebagian wilayah Cirebon mulai memasuki musim kemarau pada dasarian III April.
Neneng mengatakan terdapat pergeseran awal musim kemarau dibandingkan kondisi normal.
“Mundur maksudnya itu normalnya musim kemarau Bandung Raya tahun ini di bulan Mei dasarian II atau III. Tapi kalau dilihat dari data yang tercatat dari BMKG Bandung bahwa bulan Junilah awal musim kemarau tahun ini. Jadi untuk sebagian besar Jawa Barat bagian tengah dan utara mundur 7%,” ujar Neneng Sugianti.
Dari sisi durasi, wilayah Jawa Barat bagian utara atau ZOM 1 menjadi salah satu kawasan dengan musim kemarau terpanjang. Kemarau di wilayah tersebut berlangsung sejak dasarian II Maret hingga dasarian I Desember atau sekitar 260 hari.
Kemarau Jawa Barat Lebih Kering dari Biasanya
Selain berlangsung cukup panjang di sejumlah wilayah, musim kemarau tahun ini juga memiliki karakteristik yang lebih kering dibandingkan kondisi normal.
BMKG mencatat sekitar 93 persen wilayah Jawa Barat mengalami kondisi lebih kering dari normal, sementara sekitar 7 persen lainnya berada dalam kondisi normal.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penguatan fenomena El Nino dan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Dampak musim kemarau tidak hanya terlihat dari minimnya curah hujan. BMKG menyebut kondisi kekeringan di sejumlah wilayah telah berkembang dari kekeringan meteorologis menuju kekeringan hidrologis.
Kekeringan hidrologis ditandai dengan menurunnya pasokan air tanah, debit sungai, serta ketersediaan air di danau dan waduk.
Kondisi ini membuat masyarakat tetap perlu mewaspadai potensi kekurangan air meskipun periode musim hujan mulai datang.
Kapan Musim Hujan di Jawa Barat Dimulai?
BMKG memprakirakan awal musim hujan di Jawa Barat mulai terjadi secara bertahap pada November 2026.
Namun, datangnya musim hujan tidak akan berlangsung serentak di seluruh wilayah Jawa Barat. Perbedaan topografi dan dinamika atmosfer pada masing-masing Zona Musim dapat memengaruhi waktu datangnya hujan.
Karena itu, masyarakat tidak disarankan langsung menganggap berakhirnya kemarau sebagai tanda seluruh wilayah Jawa Barat akan segera memasuki kondisi basah.
Dengan kondisi kemarau yang lebih kering dari normal, kewaspadaan terhadap kekeringan dan ketersediaan air tetap diperlukan hingga curah hujan kembali meningkat secara konsisten.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










