bukamata.id – Dua balita kakak-adik asal Desa Air Petai, Kecamatan Ilir Talo, Kabupaten Seluma, Bengkulu, menghadapi cacingan akut dan gizi buruk yang mengkhawatirkan. Kondisi ini diduga kuat dipengaruhi oleh keterbatasan ekonomi keluarga serta lingkungan tempat tinggal yang kurang layak.
Khaira Nur Sabrina, 1 tahun 8 bulan, dan sang kakak, Aprilia, 4 tahun, tinggal bersama orang tua mereka di rumah berlantai tanah dengan dinding seadanya. Fasilitas MCK di rumah tersebut tidak memadai, sementara rumah mereka berdampingan dengan sumber air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, faktor yang dianggap memicu gangguan kesehatan kedua balita.
Orang tua Khaira dan Aprilia bekerja sebagai buruh sadap karet dengan penghasilan yang sangat terbatas, sehingga sulit memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya, apalagi membangun hunian yang layak. Meskipun bantuan Posyandu sempat diterima, program sosial lain seperti Program Keluarga Harapan (PKH) belum menjangkau keluarga ini.
Menanggapi kasus tersebut, Pemerintah Provinsi Bengkulu langsung mengirim tim untuk menyelidiki penyebab cacingan akut yang dialami kedua balita. Asisten I Pemprov Bengkulu, Khairil Anwar, menegaskan pentingnya perhatian menyeluruh dari pemerintah.
“Tidak hanya satu aspek saja yang kita perhatikan, misalnya lingkungan, tetapi juga bagaimana pemenuhan kebutuhan gizinya,” ujar Khairil dikutip Kamis (19/8/2025).
Pemprov berencana melakukan langkah konkret, tidak hanya fokus pada penyembuhan Khaira dan Aprilia, tetapi juga membangun rumah baru bagi keluarga mereka. Pengobatan juga akan diberikan kepada kedua orang tua yang diinformasikan mengalami gangguan kesehatan mental.
Desakan KPAI dan Ancaman Mengulang Tragedi Sukabumi
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menekankan agar pemerintah ikut campur tangan secara serius dalam menangani kasus kesehatan balita di Bengkulu.
“Negara terus diingatkan amanat Pasal 34 tentang fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara, sehingga harusnya tidak ada anak-anak yang mengalami cacingan,” kata Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra.
Jasra menyesalkan kejadian ini mengulang peristiwa tragis di Sukabumi, Jawa Barat, yang menimpa seorang balita dan berakhir meninggal dunia akibat infeksi cacing parah. Ia menekankan, kondisi kedua balita itu harus ditangani seoptimal mungkin di RSUD setempat.
“Peristiwa anak bayi yang memiliki indung telur cacing di tubuh terjadi lagi di Bengkulu, setelah peristiwa Sukabumi. Sayangnya menurut dokter, cacingnya sudah banyak di dalam perut. Sehingga situasi kritis ini harus ditangani hati-hati, seperti menjaga asupan oksigen dalam tubuh bayi dengan menggunakan alat-alat khusus,” ujar Jasra.
Balita NS sempat dikeluarkan cacing gelang (Ascaris) dari mulut dan hidung saat mengalami demam tinggi dan batuk berdahak. Ia dirawat intensif di RSUD Tais sejak Sabtu (14/9/2025), sementara tim medis terus berupaya mengeluarkan cacing dari tubuhnya sambil memastikan suplai oksigen tetap normal.
Kisah Tragis Raya di Sukabumi: Peringatan bagi Pemerintah
Kasus NS mengingatkan publik pada tragedi Raya, bocah perempuan tiga tahun dari Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, yang meninggal pada 22 Juli 2025 akibat infeksi cacing yang menyebar hingga organ vital termasuk otak.
Kisah Raya bermula dari laporan kerabat pada 13 Juli 2025, yang menyebut balita itu mengalami sesak napas. Relawan Rumah Teduh & Peaceful Land segera melakukan asesmen, namun kondisi Raya sudah kritis.
“Kondisinya sudah drop, langsung dimintakan masuk ke PICU (Pediatric Intensive Care Unit),” ujar Iin Achsien, pendiri Rumah Teduh & Peaceful Land.
Menurut dr. Irfanugraha Triputra, Ketua Tim Penanganan Keluhan RSUD R Syamsudin SH, Raya tiba di IGD dalam kondisi koma. Awalnya diduga komplikasi TBC, namun infeksi cacing parah segera teridentifikasi ketika cacing mulai keluar dari hidung.
“Kemungkinan tidak sadarnya ada dua, antara faktor TBC atau karena infeksi cacing,” jelas dr. Irfan. Infeksi cacing pada Raya sudah parah dan menyebar ke organ vital, termasuk paru-paru dan otak. “Ini cenderung terlambat. Cacingnya sudah banyak sekali di dalam pencernaan dan sudah berukuran besar-besar,” tambahnya.
Kendala Perawatan dan Kebutuhan Intervensi Pemerintah
Raya juga menghadapi kendala administratif karena tidak memiliki identitas resmi, sehingga proses pengurusan BPJS PBI terhambat akibat kondisi orang tua yang mengalami gangguan mental. Biaya perawatan yang mencapai Rp23 juta akhirnya ditanggung oleh Rumah Teduh.
Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, menuturkan kondisi keluarga Raya yang kurang optimal dalam pengasuhan karena kedua orang tua mengalami ODGJ. “Anak itu sering main di kolong sama ayam karena rumahnya panggung. Anaknya untuk jalan juga agak lambat, terus dia punya sakit demam. Sudah diperiksa ke klinik terdekat, ternyata dia punya penyakit paru,” jelas Wardi.
Pemerintah desa telah memberikan bantuan maksimal, termasuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk meningkatkan gizi Raya, dan membantu membangun kembali rumah keluarga yang hancur. Namun keterbatasan pengetahuan orang tua dalam merawat anak membuat kondisi Raya memburuk sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit.
Endah, ibu Raya, mengenang anaknya yang kurus dan lemah. “Sakitnya sudah lama, sakitnya seperti sesak,” ungkapnya.
Selama ini perawatan dilakukan secara tradisional di rumah. “Belum pernah ke rumah sakit, belum pernah ke puskesmas. Biasanya saya hanya memandikannya dengan air hangat dan daun singkong. Iya, secara tradisional,” ujarnya.
Kisah tragis Khaira, Aprilia, dan Raya menegaskan perlunya intervensi serius dari pemerintah, baik dalam aspek kesehatan, gizi, maupun lingkungan hidup, untuk mencegah kasus cacingan pada anak-anak Indonesia kembali terjadi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










