Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!

Rabu, 4 November 2026 02:00 WIB
Pekerja menerima BSU 2025 dari pemerintah

Pemerintah Salurkan BSU Rp900 Ribu Lewat Bank Himbara dan Pos, Cek Namamu Sekarang!

Rabu, 4 November 2026 01:00 WIB
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

Bareskrim Amankan Barang Bukti Digital, Listyo Sigit Cs Ditahan di Rutan Mabes Polri

Selasa, 3 November 2026 21:42 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Pemerintah Salurkan BSU Rp900 Ribu Lewat Bank Himbara dan Pos, Cek Namamu Sekarang!
  • Bareskrim Amankan Barang Bukti Digital, Listyo Sigit Cs Ditahan di Rutan Mabes Polri
  • Skandal Penyadapan Ilegal, Mabes Polri Tetapkan KSP Jenderal Listyo Sigit Tersangka!
  • Geger Link Video Viral Karyawan HWI Durasi 6 Menit, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Link Video Egar dan Fina Banyuwangi Viral di TikTok, Ini Fakta Sebenarnya!
  • BSU 2026 Cair Rp900 Ribu! Cek Syarat Terbaru dan Jadwal Transfer Kemnaker
  • Misi Balas Dendam! Melbourne Victory Turunkan Kekuatan Penuh Hadapi Persib Bandung
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 4 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Masuk Bursa Survei Nasional, Purbaya Yudhi Sadewa Punya Peluang di Pilgub Jabar 2029?

By Aga GustianaJumat, 18 September 2026 19:50 WIB5 Mins Read
Purbaya Yudhi Sadewa, mantan Menteri Keuangan (Menkeu). Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Panggung Pemilihan Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) 2029 memang masih lama bergulir. Kendati demikian, bursa pencalonan di provinsi dengan basis pemilih terbesar di tanah air ini sudah mulai menghangat lewat kemunculan sejumlah figur potensial.

Selain Gubernur Jabar saat ini, Dedi Mulyadi (KDM), yang memegang tingkat popularitas tertinggi, dinamika politik lokal masih sangat cair bagi kehadiran para penantang baru. Menariknya, sejumlah figur berkaliber nasional bahkan mulai terpantau dalam bursa elektabilitas calon presiden, salah satunya mantan Menteri Keuangan sekaligus ekonom senior, Purbaya Yudhi Sadewa.

Rekam Jejak dan Kemunculan Purbaya dalam Survei Nasional

Nama Purbaya terekam dalam dua hasil sigi lembaga riset nasional sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Dalam temuan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 5-19 Juli 2026, ia mengantongi elektabilitas 1,1 persen pada simulasi semi-terbuka 20 nama.

Posisi puncak survei tersebut masih dipegang Dedi Mulyadi (35 persen), disusul Prabowo Subianto (14,5 persen) serta Anies Baswedan (8,2 persen). Sementara itu, survei Media Survei Nasional (Median) edisi 21 Juli-2 Agustus 2026 turut mencatat elektabilitas terbuka Purbaya di angka 1,3 persen, di bawah deretan nama besar seperti Prabowo (32,2 persen) dan Dedi Mulyadi (19,8 persen).

Walau angka tersebut merupakan cerminan bursa kepemimpinan nasional, Purbaya sejatinya memiliki ikatan emosional dan historis dengan Tatar Pasundan. Pria kelahiran Bogor, 7 Juli 1964 ini merupakan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) sebelum merampungkan studi ekonominya di Purdue University, Amerika Serikat.

Baca Juga:  Pastikan Ijazah Tertahan Dibagikan, Dedi Mulyadi: Negara Bertanggung Jawab atas Pendidikan Rakyat

Pengalaman profesionalnya terbilang matang, mulai dari memegang tampuk kepemimpinan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) periode 2020-2025 hingga berkiprah di jajaran kabinet pemerintahan. Kendati demikian, modal elektoral tersebut dinilai belum serta-merta menjamin kekuatannya di gelanggang Pilgub Jabar.

Tantangan Menandingi KDM Menurut Pengamat Unpar

Pengamat politik Universitas Parahyangan (Unpar), Pius Sugeng Prasetyo, menilai bahwa hambatan utama bagi siapapun yang ingin menantang Dedi Mulyadi di Jawa Barat bukan sekadar kapasitas atau kompetensi semata. Faktor ketokohan, kedekatan langsung, serta bukti kerja nyata di tengah masyarakat memegang peranan krusial.

“Saya belum menyebut orangnya ya karena agak susah ya, artinya ketika membandingkannya itu dengan KDM ya. Bahwa KDM itu mempunyai karakter, dia langsung turun ya istilahnya itu ya blusukan kalau di zaman Jokowi dulu. Kemudian juga dia memang bekerja riil, artinya dia melakukan hal-hal yang bisa dilihat oleh warga masyarakat ya,” ungkap Pius, Jumat (18/9/2026).

Pius menambahkan, gaya kepemimpinan yang merakyat dan komunikatif membuat figur KDM sangat melekat di benak publik. Menurutnya, kerja-kerja lapangan yang dirasakan langsung oleh warga menjadi modal politik yang sulit ditandingi jika hanya mengandalkan popularitas instan.

“Bukan hanya dalam konteks bagi-bagi bansos, tapi memang ada pekerjaan-pekerjaan yang dia bisa lakukan yang sebelumnya tidak bisa atau tidak dilakukan oleh pemimpin sebelumnya,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Pius menekankan bahwa calon penantang wajib mengenalkan diri jauh-jauh hari sebelum tahapan pemilu dimulai. Sosok kandidat ideal harus mampu memadukan kerja nyata di lapangan dengan strategi komunikasi publik yang masif.

Baca Juga:  Viral Sidak Dedi Mulyadi ke Pabrik Aqua, Terungkap Airnya dari Sumur Bor

“Oleh karena itu, masyarakat itu lebih mudah menangkap sosok atau figur dengan karakter seperti itu, maka sosok atau figur katakanlah nanti yang mau berkompetisi di Jawa Barat, ya kira-kira harus seperti itu juga paling tidak. Menjadi sosok yang memang dikenali ya, kemudian memang ada pekerjaan yang riil dilakukan ya, bakti kepada warga, dan juga di bahasanya dimediakan atau diviralkan ya,” jelas Pius.

Peluang dan PR Besar Purbaya Menuju Jabar

Menanggapi kemunculan nama Purbaya, Pius berpandangan bahwa perolehan elektabilitas satu persen di tingkat nasional belum cukup menjadi tiket instan untuk langsung bersaing di Jabar. Purbaya masih memerlukan kerja ekstra untuk mendongkrak popularitas lokalnya agar masyarakat dapat melihatnya sebagai figur alternatif yang layak disandingkan dengan KDM.

“Kalau Purbaya mau masuk ya tidak bisa masuk gelondongan begitu ya, gelondongan dalam arti memang ada 1%. Tapi apa yang kemudian bisa ditangkap oleh warga masyarakat, ‘Oh ini sosok yang bisa pantas untuk saya pilih di samping mungkin ada KDM ya’,” terangnya.

Meski latar belakang ekonominya sebagai mantan Bendahara Negara merupakan nilai tambah yang berharga, popularitas di tingkat akar rumput tetap menjadi penentu utama dalam konstelasi politik daerah.

“Ya kembali lagi yang tadi ya, artinya sampai sejauh mana sih tingkat figur sosok dalam hal ini misalnya seperti Purbaya bisa mengangkat popularitasnya ya. Apapun ya, karena warga kita itu masih melihat dari sisi popularitasnya,” tutur Pius.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Janjikan Bonus hingga Rp10 Juta bagi Peraih Medali FORNAS VIII

“Ya saya pikir tidak belum terlalu signifikan ya untuk popularitas, apalagi yang bisa memberikan dampak langsung nanti pada elektabilitas ya. Itu saya pikir, menurut saya itu dia belum memberikan sebuah dampak yang signifikan khususnya bagi masyarakat kan kira-kira begitu,” imbuhnya.

Keputusan Partai dan Kerumitan Geografi Jabar

Kendati tantangannya berat, peluang tokoh-tokoh berlatar belakang nasional untuk meramaikan bursa Pilgub Jabar dinilai masih terbuka lebar. Semua itu sangat bergantung pada kalkulasi serta strategi partai politik dalam membaca peta kekuatan.

“Ya sangat sangat mungkin ya. Sangat mungkin ketika partai politik untuk saat ini kan pasti kan sudah mulai memetakan ya. Kemudian tokoh-tokoh dari Jakarta, tokoh-tokoh nasional kira-kira siapa yang akan apa bermain, berkompetisi di Jawa Barat khususnya ya. Itu sangat dimungkinkan menurut saya sih,” ujar Pius.

Di samping itu, karakteristik geografis Jawa Barat yang sangat luas dengan 27 kabupaten dan kota menuntut kesiapan fisik dan strategi logistik yang matang dari setiap kandidat yang berminat bertarung.

“Karena Jawa Barat juga tidak hanya Bandung saja kan, Jawa Barat itu juga pelosok-pelosok se-Jawa Barat itu ada 27 kabupaten kota, itu ya harus mengenali juga. Nanti memang kita akan mengenali lewat gambar, tapi kalau bisa lebih masuk lagi mengenali orang ketika melalui pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan, akan lebih riil pilihan politiknya,” pungkas Pius.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Pilgub Jabar Purbaya Yudhi Sadewa
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

Bareskrim Amankan Barang Bukti Digital, Listyo Sigit Cs Ditahan di Rutan Mabes Polri

Skandal Penyadapan Ilegal, Mabes Polri Tetapkan KSP Jenderal Listyo Sigit Tersangka!

Siapa Sebenarnya Herri Pras? Guru Besar Silat Kena Mental Diserbu Rombongan MMA Usai Hina UAS dan UAH!

Pelecehan Seksual

Aksi Bejat Predator Anak di Karawang Terbongkar, 9 Bocah Jadi Korban Kekerasan Seksual

Aksi di DPRD Jabar, HMI Bandung Tegaskan Gerakan Ekstra Parlementer Adalah Gerakan Rakyat

Pajak

Uang Kita ke Mana? Menilik Pidato Hashim yang Jadikan Tukang Cukur hingga Warteg Target Pajak Baru

Terpopuler
  • Ilustrasi video syur
    Link Video Egar dan Fina Banyuwangi Viral di TikTok, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat
  • Geger Link Video Viral Karyawan HWI Durasi 6 Menit, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Skandal Penyadapan Ilegal, Mabes Polri Tetapkan KSP Jenderal Listyo Sigit Tersangka!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.