bukamata.id – Persoalan sampah di Kota Cimahi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah di tengah kebijakan pengurangan ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Saat ini, kapasitas pengolahan sampah di dalam Kota Cimahi dinilai belum mampu menampung seluruh volume produksi sampah harian masyarakat yang terus meningkat setiap harinya.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, volume sampah harian di wilayah tersebut mencapai sekitar 230 hingga 250 ton per hari. Sementara itu, kuota pembuangan ke TPA Sarimukti hanya diberikan sebesar 1.670 ton setiap dua minggu atau setara sekitar 119 ton per hari.
Artinya, terdapat selisih sekitar 131 ton sampah per hari yang harus ditangani secara mandiri di wilayah Kota Cimahi.
DLH Cimahi Upayakan Pengurangan Ketergantungan ke TPA Sarimukti
Kepala Bidang PSLB3PK DLH Kota Cimahi, Beni Gunadi, mengatakan pemerintah terus berupaya mengurangi ketergantungan terhadap TPA Sarimukti melalui berbagai langkah pengolahan sampah di dalam kota.
Menurutnya, kondisi pengelolaan sampah saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika pengiriman sampah ke TPA Sarimukti belum dibatasi secara ketat.
“DLH Kota Cimahi terus berupaya bagaimana sampah ini bisa dikelola di Kota Cimahi sendiri, sehingga ketergantungan ke Sarimukti bisa terus dikurangi. Kalau dibanding beberapa tahun sebelumnya, sebenarnya sudah ada perubahan yang cukup signifikan,” ujar Beni, Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, saat ini setiap daerah harus menyesuaikan jumlah pembuangan sampah sesuai kapasitas yang tersedia di TPA Sarimukti.
“Dulu pengiriman sampah relatif tidak terlalu dibatasi. Sekarang kuotanya jelas. Cimahi hanya diperbolehkan membuang sekitar 119 ton per hari, sementara produksi sampah harian bisa mencapai 230 sampai 250 ton,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, Pemerintah Kota Cimahi melalui DLH harus mencari solusi agar selisih volume sampah harian tersebut dapat diolah secara maksimal di dalam kota.
“Berarti ada gap yang memang harus kita pikirkan bersama bagaimana selisih ini bisa diolah dan dikurangi,” ucapnya.
Pemilahan Sampah dari Rumah Jadi Kunci
DLH Kota Cimahi menilai keberhasilan pengurangan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas dan mesin pengolahan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat sejak dari sumber sampah rumah tangga.
Karena itu, pemilahan sampah dari rumah dinilai menjadi faktor penting agar proses pengolahan berjalan lebih cepat dan efisien.
“Sosialisasi dan edukasi terus kami lakukan. Kuncinya memang ada pada kolaborasi semua pihak, termasuk masyarakat. Ketika sampah sudah dipilah dari rumah, proses pengolahannya akan jauh lebih mudah dan lebih efisien,” ungkap Beni.
Ia menuturkan, sampah yang masih tercampur akan memperlambat proses pengolahan dan membuat kapasitas mesin pengolah tidak bekerja optimal.
“Walaupun nanti fasilitas dan mesin di TPST semakin baik, pemilahan dan pengurangan sampah dari sumber tetap sangat penting. Kalau sampah sudah terpilah, target pengolahan bisa lebih optimal karena mesin juga bekerja lebih efektif,” jelasnya.
TPST Santiong Ditargetkan Olah 85,7 Ton Sampah per Hari
Selain mendorong pengurangan sampah dari sumber rumah tangga, DLH Cimahi juga tengah menunggu optimalisasi pengadaan mesin baru di TPST Santiong.
Proyek tersebut melibatkan sejumlah kementerian serta program nasional pengelolaan sampah yang mendapat dukungan pendanaan dari Bank Dunia.
“Untuk TPST Santiong, harapannya proses pengadaan mesin baru bisa segera terealisasi agar operasionalnya sesuai target yang diharapkan,” tuturnya.
TPST Santiong sendiri ditargetkan mampu mengolah sekitar 85,7 ton sampah per hari dan melayani lima kelurahan di Kota Cimahi.
Pengembangannya melibatkan berbagai pihak, mulai dari Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup, Kemendagri, Bappenas, hingga program ISWMP yang didukung Bank Dunia.
Sampah Didorong Punya Nilai Ekonomi
Ke depan, pengelolaan sampah di Kota Cimahi tidak hanya difokuskan untuk menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga diarahkan agar mampu menciptakan nilai ekonomi melalui sistem daur ulang yang lebih terintegrasi.
“Harapannya, sampah ini tidak hanya selesai diolah begitu saja, tetapi juga punya nilai manfaat dan nilai ekonomi. Memang mungkin tidak menutupi seluruh biaya operasional, tapi setidaknya sampah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tidak bernilai,” pungkas Beni.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










