bukamata.id – Hamparan hijau terlihat memenuhi sebagian permukaan Sungai Citarum di kawasan Kampung Warung Pulus, Desa Batujajar, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.
Namun, warna hijau tersebut bukan berasal dari pepohonan atau rerumputan. Hamparan itu merupakan eceng gondok yang terbawa arus Sungai Citarum dan kemudian menumpuk di sejumlah titik.
Dari sekitar bantaran sungai, tumbuhan air tersebut terlihat membentuk bidang hijau yang cukup luas. Eceng gondok yang mengapung bergerak mengikuti arah arus dan angin menjadi pemandangan yang sudah cukup akrab bagi warga setempat.
Di balik hamparan eceng gondok itu, masyarakat juga melihat perubahan lain pada kondisi Sungai Citarum. Memasuki musim kemarau, debit air mulai berkurang dan permukaan sungai di sejumlah kawasan terlihat semakin rendah.
Eceng Gondok dari Saguling Menumpuk di Batujajar
Nana (43), warga setempat, mengatakan keberadaan eceng gondok di kawasan Batujajar bukan fenomena baru.
Menurut Nana, tumbuhan air tersebut sudah cukup lama terlihat menumpuk di kawasan tersebut. Sebagian eceng gondok, kata dia, terbawa arus dari kawasan Saguling sebelum akhirnya berkumpul di Batujajar.
“Sudah lama eceng gondok ini menumpuk di sini. Terbawa arus dari kawasan Saguling sampai akhirnya menumpuk di Batujajar,” ujar Nana, Sabtu (12/9/2026).
Pergerakan eceng gondok kemudian dipengaruhi oleh arus dan angin. Kondisi tersebut membuat tumbuhan air itu dapat berpindah dari satu kawasan ke kawasan lainnya mengikuti perubahan arah aliran.
Bagi warga, keberadaan eceng gondok bukan hanya persoalan pemandangan. Jika terus menumpuk dan meluas, tumbuhan air tersebut dikhawatirkan mengganggu kondisi aliran Sungai Citarum.
Karena itu, warga berharap pemerintah mengambil langkah untuk menangani hamparan eceng gondok, terutama di kawasan Batujajar hingga Cihampelas.
“Semoga pemerintah juga ada langkah untuk mengatasi hamparan eceng gondok yang terjadi di kawasan Batujajar sampai Cihampelas,” katanya.
Saguling Justru Bersih dari Eceng Gondok
Kondisi berbeda terlihat di kawasan Saguling. Berdasarkan pemantauan, permukaan Sungai Citarum di wilayah tersebut relatif bersih dari hamparan eceng gondok.
Tidak terlihat tumbuhan air yang memenuhi permukaan sungai seperti di Batujajar.
Namun, kondisi tersebut bukan berarti kawasan Saguling sepenuhnya terbebas dari persoalan. Di tengah minimnya eceng gondok, perubahan lain justru terlihat cukup mencolok, yakni menyusutnya permukaan air akibat musim kemarau.
Garis air di kawasan Saguling terlihat jauh lebih rendah dibandingkan ketika musim hujan. Perubahan tersebut bahkan dapat dikenali dari posisi permukaan air terhadap lingkungan sekitar.
Abah Didi (55), warga setempat, mengatakan eceng gondok yang terlihat menumpuk di Batujajar berkaitan dengan pergerakan arus dan angin.
“Kalau di Saguling ini bersih dari eceng gondok. Eceng gondoknya terbawa arus angin ke aliran Sungai Citarum di kawasan Batujajar,” ujar Abah Didi, Minggu (13/9/2026).
Menurutnya, persoalan yang lebih terlihat di Saguling saat ini justru penyusutan permukaan air.
Ia memperkirakan ketinggian air turun sekitar 20 meter dibandingkan kondisi saat musim hujan sebelumnya.
“Kalau kondisi air ini mengalami penyusutan. Dulu air berada di atas, sekarang turun drastis sekitar 20 meter,” ucapnya.
Abah Didi menuturkan, saat musim hujan, permukaan air masih berada cukup tinggi hingga hampir sejajar dengan pepohonan di sekitar kawasan tersebut.
Namun, memasuki musim kemarau, permukaan air perlahan terus turun.
“Waktu musim hujan sebelumnya, air berada di ketinggian hampir sejajar dengan pohon yang ada di atas. Tapi saat kemarau tiba, air terus menurun ke bawah. Penyusutannya hampir sekitar 20 meter,” tuturnya.
Dua Wajah Sungai Citarum Saat Musim Kemarau
Kondisi Batujajar dan Saguling memperlihatkan dua wajah Sungai Citarum di tengah musim kemarau.
Di Batujajar, permukaan sungai dipenuhi eceng gondok yang terbawa arus dan angin. Tumbuhan air tersebut berkumpul hingga menutupi sebagian permukaan sungai.
Sementara di Saguling, permukaan sungai relatif bersih dari eceng gondok. Namun, air di kawasan tersebut justru mengalami penyusutan cukup signifikan.
Fenomena itu menunjukkan bagaimana perubahan musim dapat memengaruhi kondisi Sungai Citarum. Arus dan angin membuat eceng gondok bergerak dari satu titik ke titik lainnya, sedangkan berkurangnya curah hujan berdampak terhadap ketinggian permukaan air.
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Citarum, perubahan tersebut bukan sekadar pemandangan. Kondisi sungai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang terus mereka amati.
Hamparan eceng gondok di Batujajar menjadi persoalan yang diharapkan mendapat perhatian. Di sisi lain, menyusutnya permukaan air di Saguling menjadi gambaran lain dari dampak musim kemarau terhadap kawasan perairan.
Kini, hamparan hijau eceng gondok di Batujajar dan permukaan air Saguling yang semakin rendah menjadi dua pemandangan berbeda yang sama-sama menggambarkan kondisi Sungai Citarum di tengah musim kemarau.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









