Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Ole Romeny

Menang Lagi! Segini Tambahan Poin Timnas Indonesia di Ranking FIFA Usai Jinakkan Mozambik

Rabu, 10 Juni 2026 06:00 WIB

STY Bocorkan Mariano Peralta Sudah Dikontrak Persija, Bek Persib Ikut Disinggung

Rabu, 10 Juni 2026 05:00 WIB

PKH Juni 2026 Cair Kapan? Ini Jadwal Lengkap, Nominal, dan Cara Ceknya!

Rabu, 10 Juni 2026 04:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Menang Lagi! Segini Tambahan Poin Timnas Indonesia di Ranking FIFA Usai Jinakkan Mozambik
  • STY Bocorkan Mariano Peralta Sudah Dikontrak Persija, Bek Persib Ikut Disinggung
  • PKH Juni 2026 Cair Kapan? Ini Jadwal Lengkap, Nominal, dan Cara Ceknya!
  • Heboh! Link Video Viral Cut Salwa Full Asli Beredar, Netizen Bikin Pencarian Meledak
  • Weekend List! 5 Rekomendasi Wisata Hits di Bandung Barat yang Wajib Dikunjungi
  • Serbu Hadiahnya! Intip Daftar Kode Redeem FF Hari Ini 10 Juni 2026 yang Masih Aktif
  • Viral Eza Gionino Bogem Robby Tremonti hingga Ajak Duel Tinju, Dipicu Masalah Sensitif Ini?
  • Gelombang Protes SPMB Sekolah Maung Jabar 2026, Pengamat: Akibat Perencanaan Tergesa-gesa
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 10 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kenalkan Warisan Sejarah, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Gelar Cerita Citarum

By Putra JuangKamis, 30 Mei 2024 20:40 WIB5 Mins Read
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Gelar Cerita Citarum. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Manusia dan alam memiliki hubungan timbal balik dan bersifat saling membutuhkan. Manusia membutuhkan alam agar dapat meneruskan kelangsungan hidupnya.

Sementara itu, alam membutuhkan manusia untuk menjaga dan melestarikan keberadaan alam serta sumber dayanya. Saat ini keadaan tersebut berjalan tidak seimbang.

Manusia semakin mendominasi alam sehingga alam tidak diberi kesempatan untuk mempertahankan keberadaannya. Banyak contoh kerusakan alam di berbagai belahan dunia mulai dari erosi, banjir, kekeringan hingga pencemaran sungai.

Dari beberapa kasus kerusakan lingkungan, pencemaran sungai adalah yang paling dapat membuktikan adanya campur tangan manusia. Salah satu contoh adalah pencemaran sungai Citarum.

Sungai Citarum dalam kondisi normal sangat memberikan manfaat dalam kehidupan masyarakat, di antaranya untuk mengairi sawah dan kebun, tambak, dan kebutuhan MCK.

Air di tiga bendungan DAS Citarum juga telah digunakan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Plengan, Lamajang, Cikalong, Jatiluhur, Saguling, dan Cirata.

Mengingat begitu besarnya manfaat aliran sungai Citarum, pemerintah terus mengupayakan pelestarian wilayah di sepanjang aliran sungai Citarum. Upaya tersebut tentunya ikut melibatkan masyarakat sekitar.

Proses pelibatan masyarakat dilakukan, diantaranya dengan cara melakukan sosialisasi kebersihan lingkungan, gotong royong, dan pengawasan rutin terhadap ekosistem terutama di pinggiran sungai.

Upaya yang dilakukan tersebut kerap dilakukan. Namun demikian, hasil yang diharapkan terkadang kurang berdampak pada pelestarian lingkungan di sungai Citarum.

Tampak bahwa penekanan pelestarian di atas lebih banyak berkisar pada sisi sosial kemasyarakatan dan lingkungan alam, sementara dari sisi kebudayaan tampak kurang begitu tersosialisasi.

Masyarakat patut mengetahui dan mengungkapkan rasa menghargai terhadap Citarum yang telah memberikan wilayahnya sebagai sarana pembentukan peradaban yang hingga kini dapat dilihat dari berbagai tinggalan warisan budaya di sepanjang DAS Citarum.

Baca Juga:  Disorot Pandawara Group, Bey Janji Lautan Sampah di Jembatan Sapan Citarum Hilang dalam Satu Pekan

Nama Citarum dan jejak peradaban di sepanjang Sungai Citarum merupakan bagian dari identitas citarum sebagai sebuah aliran sungai yang pada zaman dahulu telah dimanfaatkan sebagai jalur ulang alik berbagai komoditi baik dari hulu maupun hilir.

Interaksi antara masyarakat di hulu dan hilir pada mulanya hanya bertujuan untuk saling tukar komoditi. Dalam perjalanan sejarah, interaksi antara masyarakat di hulu dan di hilir kemudian turut pula mempengaruhi aspek sosial budaya.

Dimana beberapa di antaranya masih bertahan hingga kini dan menjadikannya sebagai warisan budaya benda dan takbenda pada DAS Citarum.

Jejak peradaban Citarum yang dibuktikan dengan adanya tinggalan warisan budaya benda dan takbenda merupakan aset budaya yang penting untuk diketahui dan dipahami serta menjadi landasan perlakuan kedepannya melalui penguatan informasi warisan budaya di sepanjang DAS Citarum.

Berdasarkan hal tersebut, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX sebagai salah satu UPT di bawah Direktorat Jenderal, Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengemas berbagai informasi seputar warisan di sepanjang DAS Citarum melalui kegiatan bernama Cerita Citarum.

Kegiatan ini akan mengajak sejumlah peserta untuk mengeksplorasi informasi sekaligus menginformasikan warisan budaya di sepanjang DAS Citarum kepada publik.

Direktur Pengambangan dan Pemanfatan Kebudayaan, Irini Dewi Wanti mengatakan, kegiatan Festival Citarum sangat luar biasa, karena membuat narasi terkait peradaban citarum nusantara.

“Baik itu tentang alam, juga tentang candi-candi yang menjadi cagar budaya, bahkan mungkin sebagian sudah tidak bisa kita temukan. Dan kegiatan ini konteksnya festival yang berkontribusi merevetaliasi kebudayaan,” ucap Irini dalam keterangannya, Kamis (30/5/2024).

Baca Juga:  Salah Paham, Sekda Herman Luruskan Informasi soal Sungai Citarum Disebut Terkontaminasi Obat-obat

Irini mengatakan, kebudayaan merupakan bagian dari solusi permasalahan ekonomi bahkan mungkin lingkungan.

“Maka seperti ini diharapkan bisa dilakukan secara bersama-sama dan menghidupkan para pelaku budaya. Selain itu, kegiatan festival ini juga dapat menjadi bahan lanjutan untuk para akademisi dalam melestarikan budaya dan menjadi cerita citarum,” katanya.

Irini mengungkapkan, maksud dari kegiatan Cerita Citarum adalah mengajak peserta untuk berkunjung langsung ke beberapa obyek budaya yang merepresentasikan bukti jejak peradaban pada DAS Citarum.

Adapun tujuan kegiatan adalah Memperkenalkan dan menginformasikan warisan budaya pada DAS Citarum melalui media, menumbuhkan pemahaman masyarakat untuk berperan serta dalam melestarikan warisan budaya pada DAS Citarum.

“Dan menumbuhkan sikap kepedulian dalam melestarikan lingkungan alam yang telah memberikan sumbangsih sangat besar terhadap kemajuan peradaban manusia,” ungkapnya.

Adapun lokasi yang dikunjungi oleh peserta didasarkan pada warisan budaya benda yang masih bertahan. Lokasi sebaran warisan budaya terpilih berada di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Karawang.

Lokasi kunjungan di Kota Bandung adalah Museum Geologi. Hal pertama yang perlu diketahui peserta adalah pembentukan geologi awal Sungai Citarum yang sangat terkait dengan terbentuknya Bandung Purba

Lokasi kunjungan di Kabupaten Bandung adalah di Situ Cisanti dan Bojongmenje. Situ Cisanti merupakan titik awal atau hulu Sungai Citarum yang didalamnya terdapat tinggalan budaya baik yang terkait erat keberadaan Situ Cisanti sebagai hulu Sungai Citarum.

Candi Bojongmenje merupakan candi yang masih berada dalam wilayah pinggiran sungai Citarum. Hal ini sesuai dengan bukti perjalanan masyarakat zaman dahulu yang kerap menandakan keberadaannya dengan membangun berbagai bangunan, termasuk bangunan religi.

Baca Juga:  Kronologi Pegawai Minimarket Dina Oktaviani Ditemukan Tewas di Sungai Citarum

Lokasi kunjungan di Kabupaten Bandung Barat adalah Gua Pawon. Lutfi Yondri seorang Arkeolog BRIN telah lama melakukan penelitian dan sampai pada kesimpulan bahwa Gua Pawon menjadi salah satu bukti keberadaan manusia Purba di wilayah cekungan Bandung.

Lokasi kunjungan di Kabupaten Purwakarta adalah Dermaga Talibaju dan Bendungan Jatiluhur. Dermaga Talibaju merupakan dermaga yang pada masa dahulu kerap dijadikan sebagai “terminal” berbagai komoditi yang dibawa baik menuju hulu maupun hilir.

Bendungan Jatiluhurmerupakan salah satu contoh pemanfaatan sungai Citarum untuk dijadikan sebagai sarana pembangkit listrik tenaga air.

Fokus publikasi kepada peserta di Bendungan Jatiluhur adalah pada upaya pelestarian lingkungan Bendungan Jatiluhur dalam bentuk pemanfaatan limbah eceng gondok untuk dijadikan sebagai pupuk alam dan bahan dasar kerajinan yang terbuat dari eceng gondok.

Lokasi kunjungan di Kabupaten Karawang adalah Di Muara Bungin dan Kawasan Percandian Batujaya. Muara Bungin merupakan hilir Sungai Citarum yang pada masa dahulu kerap dijadikan sebagai titik awal para pedagang melakukan barter komoditi ke hulu sungai Citarum.

Kawasan Percandian Batujaya merupakan salah satu bukti adanya peradaban yang cukup masif dan dapat dilihat bukti tinggalan budayanya. Kawasan Percandian Batujaya kini dijadikan sebagai lokasi persembahyangan umat Budha.

Hasil dari publikasi peserta diharapkan dapat menggugah masyarakat untuk lebih memperhatikan dan berperan aktif dalam pelestarian lingkungan melalui berbagai kegiatan budaya di sepanjang Sungai Citarum.

Selebihnya, publikasi yang dihasilkan juga dapat menjadi informasi kabupaten/kota dalam penyusunan data pokok kebudayaan sebagai data dasar yang akan digunakan dalam penyusunan strategi kebudayaan nasional.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Balai Pelestarian Kebudayaan BPK Wilayah IX Cerita Citarum DAS Citarum sungai Citarum
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

PKH Juni 2026 Cair Kapan? Ini Jadwal Lengkap, Nominal, dan Cara Ceknya!

Gelombang Protes SPMB Sekolah Maung Jabar 2026, Pengamat: Akibat Perencanaan Tergesa-gesa

Dedi Tantang Penyebar Isu Jual Beli Kursi SPMB: Sebutkan Nama dan Laporkan!

Dedi Mulyadi Minta Orang Tua Tidak Panik Hadapi SPMB, Masalah Pemetaan Masih Bisa Diperbaiki

Komisi II DPRD Jabar Dorong Peningkatan Kualitas Peternak Lewat Bimtek Ternak Domba di Cirebon

Siasat Dadang Supriatna Atasi Banjir & Sampah: Dari Danau Retensi Hingga ASN Wajib Bawa Tumbler!

Terpopuler
  • Video Cut Salwa Ramai Dicari di TikTok dan X, Ini Fakta yang Sebenarnya
  • Geger! Link Video Cut Salwa ‘No Sensor’ Viral Ramai Dicari Warganet
  • Dari Buku ‘Broken Strings’ Sampai Urusan Istri: Mengapa Eza Gionino dan Robby Tremonti Mendadak Panas?
  • Viral di TikTok, Video Cut Salwa Jadi Perbincangan Publik, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
  • Jangan Asal Klik! Link Video Cut Salwa Viral Berpotensi Jadi Modus Phishing
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.