bukamata.id – Sekolah seharusnya menjadi ruang paling aman bagi siapa pun yang berada di dalamnya—tempat belajar, mendidik, dan membentuk karakter. Namun bagi Agus Saputra, seorang guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, ruang kelas justru menjadi tempat luka itu terakumulasi selama bertahun-tahun, hingga akhirnya meledak dalam satu hari yang mengubah hidupnya.
Agus bukan guru baru. Ia telah mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik selama kurang lebih 15 tahun. Selama itu pula, ia memegang prinsip bahwa guru harus menjadi teladan, menahan emosi, dan mendidik dengan kesabaran. Namun siapa sangka, kesabaran itu justru menjadi ruang kosong yang diisi oleh perundungan tanpa henti.
Selama dua hingga tiga tahun terakhir, Agus mengaku kerap menjadi sasaran perundungan verbal dari murid-muridnya sendiri. Perundungan itu bukan dilakukan oleh satu atau dua orang, melainkan hampir satu kelas penuh—kelas yang seluruh siswanya laki-laki.
“Bukan satu orang dua orang tapi hampir anak laki-laki yang satu kelas. Kami ada anak satu kelas itu isinya laki-laki semua. Nah, itu juga merupakan bagian dari merundung saya,” ujar Agus.
Tanjung Jabung Timur, kabupaten paling timur di Provinsi Jambi yang merupakan hasil pemekaran Kabupaten Tanjung Jabung, menjadi latar dari kisah pilu ini. Di wilayah tersebut, Agus mengajar di sebuah SMK pertanian—sekolah kejuruan yang seharusnya menanamkan kedisiplinan dan etika kerja sejak dini.
Namun realitas di lapangan jauh dari harapan.
Puncak Emosi di Ruang Kelas
Hari Selasa, 13 Januari 2026, menjadi titik balik. Sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB, saat proses belajar mengajar berlangsung, seorang siswa menegur Agus dengan nada yang dinilainya tidak sopan. Teguran itu bahkan disertai teriakan kata-kata yang dianggap tidak pantas.
“Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakan kata yang tidak pantas saat dia belajar,” kata Agus.
Merasa harga dirinya sebagai guru dilecehkan, Agus masuk ke kelas tersebut untuk menanyakan siapa yang memanggilnya dengan cara demikian.
“Kemudian, saya masuk ke kelas saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” tuturnya.
Alih-alih mendapatkan klarifikasi, Agus justru menghadapi tantangan terbuka dari siswa tersebut.
“Dia langsung menantang saya, katanya seperti itu. Akhirnya saya refleks satu kali menampar muka dia itulah kejadiannya awal,” lanjutnya.
Tamparan itu, menurut Agus, adalah satu-satunya sepanjang kariernya.
“Kejadian ini pertama seumur hidup saya. Menampar anak (siswa) itu kejadian pertama,” tegasnya.
Mediasi yang Berujung Kekerasan
Setelah kejadian di kelas, konflik tak mereda. Pada jam istirahat, Agus kembali ditantang. Situasi memanas hingga berlangsung berjam-jam, dari pukul 13.00 hingga 16.00 WIB. Pihak sekolah kemudian melakukan mediasi di kantor.
“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelas Agus.
Dalam mediasi itu, Agus mencoba mencari jalan tengah. Ia bahkan menawarkan solusi berupa petisi.
“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.
Namun suasana justru semakin tidak kondusif. Saat Agus diajak komite sekolah masuk ke ruang kantor, pengeroyokan pun terjadi.
“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.
Peristiwa itu terekam video dan kemudian viral di media sosial.
Dikejar, Dilempari, dan Bertahan
Dalam video yang beredar, Agus terlihat mengejar siswa sambil membawa senjata tajam. Potongan video ini memicu beragam reaksi publik. Namun Agus menjelaskan, konteksnya berbeda.
“Kebetulan SMK kami itu SMK Pertanian, jadi peralatan pertanian. Kayak cangkul dan sebagainya itu memang sudah tersedia di dalam kantor, memang tersimpan rapi,” katanya.
Ia menegaskan, aksinya semata untuk membela diri dan menggertak agar siswa bubar.
“Saya tidak berniat untuk melakukan kejahatan terbukti videonya saya hanya mengejar mereka agar bubar. Pada kenyataannya mereka tidak bubar juga,” ujarnya.
Bahkan, menurut Agus, dirinya justru menjadi sasaran lemparan batu dan benda keras lainnya.
“Mereka malah melempari saya dengan banyak-banyak hal yang anarkis seperti batuan, batu bata dan sebagainya,” katanya.
Luka yang Terpendam Bertahun-tahun
Bagi Agus, peristiwa ini bukan kejadian tunggal, melainkan akumulasi perundungan panjang.
“Selama dua tahun sampai ada yang berkali-kali selama dua tahun. Sampai ada yang tiga tahun melakukan tindak verbal yang tidak menyenangkan terhadap saya,” ungkapnya.
Ia merasa sudah berusaha bertahan sebagai manusia dan sebagai guru.
“Jadi, selama bertahun-tahun saya sudah mencoba untuk bertahan dengan keadaan itu. Kalau saya rasa kalau untuk normalnya manusia, ini rasanya tidak manusia lagi ya,” lanjutnya.
Klarifikasi Ketua OSIS dan Bantahan Agus
Di tengah viralnya kasus ini, Ketua OSIS SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur menyampaikan klarifikasi melalui media sosial. Ia meminta maaf kepada pihak sekolah, bukan kepada Agus.
“Di sini saya sebagai ketua OSIS di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, dan perwakilan dari siswa siswi ingin menyampaikan permintaan maaf terhadap instansi yang sudah terlibat terhadap masalah ini,” ucapnya.
Ketua OSIS juga menuding bahwa pengeroyokan terjadi karena Agus dianggap sering menindas murid.
“Dan dengan tersebarnya video pengeroyokan terhadap guru, saya juga meminta maaf karena hal tersebut terjadi karena oknum tersebut sering menindas kami di SMK,” katanya.
Agus membantah tudingan tersebut.
“Tidak ada pemaksaan (penindasan seperti kata Ketua OSIS). Siapa yang mau kerjakan, silahkan. Semua tugas harus sukarela,” tegasnya.
Harapan Akan Jalan Tengah
Agus telah melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Ia berharap ada pihak yang menjadi penengah agar masalah ini tidak terus berlarut.
“Kalau seandainya ini tambah viral dimanapun, saya berharap ini ada yang menengahkan khususnya dinas pendidikan atau juga pihak yang berwenang untuk menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut,” harapnya.
Kisah Agus Saputra menjadi cermin pahit dunia pendidikan: ketika relasi guru dan murid kehilangan rasa saling menghormati. Di balik viralnya video dan riuhnya media sosial, ada satu pertanyaan besar yang tersisa—bagaimana melindungi ruang kelas agar tetap menjadi tempat aman, bukan arena konflik yang meninggalkan trauma bagi siapa pun yang terlibat.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










