Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos Agustus 2026 Cair! Cek Nama Penerima PKH dan BPNT dengan NIK KTP

Kamis, 6 Agustus 2026 13:19 WIB

Sekolah Digembok, Ratusan Siswa SDN 026 Bojongloa Bandung Dipulangkan Paksa

Kamis, 6 Agustus 2026 12:56 WIB

Perebutan Juara 3 Piala Presiden 2026! Persija Tantang Arema FC, Siapa Lebih Unggul?

Kamis, 6 Agustus 2026 12:35 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bansos Agustus 2026 Cair! Cek Nama Penerima PKH dan BPNT dengan NIK KTP
  • Sekolah Digembok, Ratusan Siswa SDN 026 Bojongloa Bandung Dipulangkan Paksa
  • Perebutan Juara 3 Piala Presiden 2026! Persija Tantang Arema FC, Siapa Lebih Unggul?
  • Kode Redeem FF 6 Agustus 2026 Terbaru Hari Ini, Klaim Skin Senjata dan Bundle Gratis
  • Beauty Warehouse Sale Makeupuccino Hadir di Cimahi, Diskon hingga 80 Persen dan Hadirkan 100 Ribu Produk Kecantikan
  • Panduan Lengkap Bantuan Beras 30 Kg Agustus 2026: Jadwal Penyaluran, Kriteria, dan Cara Cek Penerima
  • Rancangan Anggaran Jabar 2027 Disepakati, DPRD Dorong APBD Lebih Transparan dan Efektif
  • PHK Massal PT Namnam Fashion Industries Jadi Alarm Industri Jawa Barat
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 6 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Curhat Pilu Guru SMK di Jambi, Tak Tahan Dirundung Siswa Selama 2 Tahun

By Aga GustianaKamis, 15 Januari 2026 18:06 WIB5 Mins Read
Viral guru dan murid di Jambi adu jotos. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sekolah seharusnya menjadi ruang paling aman bagi siapa pun yang berada di dalamnya—tempat belajar, mendidik, dan membentuk karakter. Namun bagi Agus Saputra, seorang guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, ruang kelas justru menjadi tempat luka itu terakumulasi selama bertahun-tahun, hingga akhirnya meledak dalam satu hari yang mengubah hidupnya.

Agus bukan guru baru. Ia telah mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik selama kurang lebih 15 tahun. Selama itu pula, ia memegang prinsip bahwa guru harus menjadi teladan, menahan emosi, dan mendidik dengan kesabaran. Namun siapa sangka, kesabaran itu justru menjadi ruang kosong yang diisi oleh perundungan tanpa henti.

Selama dua hingga tiga tahun terakhir, Agus mengaku kerap menjadi sasaran perundungan verbal dari murid-muridnya sendiri. Perundungan itu bukan dilakukan oleh satu atau dua orang, melainkan hampir satu kelas penuh—kelas yang seluruh siswanya laki-laki.

“Bukan satu orang dua orang tapi hampir anak laki-laki yang satu kelas. Kami ada anak satu kelas itu isinya laki-laki semua. Nah, itu juga merupakan bagian dari merundung saya,” ujar Agus.

Tanjung Jabung Timur, kabupaten paling timur di Provinsi Jambi yang merupakan hasil pemekaran Kabupaten Tanjung Jabung, menjadi latar dari kisah pilu ini. Di wilayah tersebut, Agus mengajar di sebuah SMK pertanian—sekolah kejuruan yang seharusnya menanamkan kedisiplinan dan etika kerja sejak dini.

Namun realitas di lapangan jauh dari harapan.

Puncak Emosi di Ruang Kelas

Hari Selasa, 13 Januari 2026, menjadi titik balik. Sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB, saat proses belajar mengajar berlangsung, seorang siswa menegur Agus dengan nada yang dinilainya tidak sopan. Teguran itu bahkan disertai teriakan kata-kata yang dianggap tidak pantas.

“Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakan kata yang tidak pantas saat dia belajar,” kata Agus.

Merasa harga dirinya sebagai guru dilecehkan, Agus masuk ke kelas tersebut untuk menanyakan siapa yang memanggilnya dengan cara demikian.

“Kemudian, saya masuk ke kelas saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” tuturnya.

Alih-alih mendapatkan klarifikasi, Agus justru menghadapi tantangan terbuka dari siswa tersebut.

“Dia langsung menantang saya, katanya seperti itu. Akhirnya saya refleks satu kali menampar muka dia itulah kejadiannya awal,” lanjutnya.

Tamparan itu, menurut Agus, adalah satu-satunya sepanjang kariernya.

“Kejadian ini pertama seumur hidup saya. Menampar anak (siswa) itu kejadian pertama,” tegasnya.

Mediasi yang Berujung Kekerasan

Setelah kejadian di kelas, konflik tak mereda. Pada jam istirahat, Agus kembali ditantang. Situasi memanas hingga berlangsung berjam-jam, dari pukul 13.00 hingga 16.00 WIB. Pihak sekolah kemudian melakukan mediasi di kantor.

“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelas Agus.

Dalam mediasi itu, Agus mencoba mencari jalan tengah. Ia bahkan menawarkan solusi berupa petisi.

“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.

Namun suasana justru semakin tidak kondusif. Saat Agus diajak komite sekolah masuk ke ruang kantor, pengeroyokan pun terjadi.

“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.

Peristiwa itu terekam video dan kemudian viral di media sosial.

Dikejar, Dilempari, dan Bertahan

Dalam video yang beredar, Agus terlihat mengejar siswa sambil membawa senjata tajam. Potongan video ini memicu beragam reaksi publik. Namun Agus menjelaskan, konteksnya berbeda.

“Kebetulan SMK kami itu SMK Pertanian, jadi peralatan pertanian. Kayak cangkul dan sebagainya itu memang sudah tersedia di dalam kantor, memang tersimpan rapi,” katanya.

Ia menegaskan, aksinya semata untuk membela diri dan menggertak agar siswa bubar.

“Saya tidak berniat untuk melakukan kejahatan terbukti videonya saya hanya mengejar mereka agar bubar. Pada kenyataannya mereka tidak bubar juga,” ujarnya.

Bahkan, menurut Agus, dirinya justru menjadi sasaran lemparan batu dan benda keras lainnya.

“Mereka malah melempari saya dengan banyak-banyak hal yang anarkis seperti batuan, batu bata dan sebagainya,” katanya.

Luka yang Terpendam Bertahun-tahun

Bagi Agus, peristiwa ini bukan kejadian tunggal, melainkan akumulasi perundungan panjang.

“Selama dua tahun sampai ada yang berkali-kali selama dua tahun. Sampai ada yang tiga tahun melakukan tindak verbal yang tidak menyenangkan terhadap saya,” ungkapnya.

Ia merasa sudah berusaha bertahan sebagai manusia dan sebagai guru.

“Jadi, selama bertahun-tahun saya sudah mencoba untuk bertahan dengan keadaan itu. Kalau saya rasa kalau untuk normalnya manusia, ini rasanya tidak manusia lagi ya,” lanjutnya.

Klarifikasi Ketua OSIS dan Bantahan Agus

Di tengah viralnya kasus ini, Ketua OSIS SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur menyampaikan klarifikasi melalui media sosial. Ia meminta maaf kepada pihak sekolah, bukan kepada Agus.

“Di sini saya sebagai ketua OSIS di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, dan perwakilan dari siswa siswi ingin menyampaikan permintaan maaf terhadap instansi yang sudah terlibat terhadap masalah ini,” ucapnya.

Ketua OSIS juga menuding bahwa pengeroyokan terjadi karena Agus dianggap sering menindas murid.

“Dan dengan tersebarnya video pengeroyokan terhadap guru, saya juga meminta maaf karena hal tersebut terjadi karena oknum tersebut sering menindas kami di SMK,” katanya.

Agus membantah tudingan tersebut.

“Tidak ada pemaksaan (penindasan seperti kata Ketua OSIS). Siapa yang mau kerjakan, silahkan. Semua tugas harus sukarela,” tegasnya.

Harapan Akan Jalan Tengah

Agus telah melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Ia berharap ada pihak yang menjadi penengah agar masalah ini tidak terus berlarut.

“Kalau seandainya ini tambah viral dimanapun, saya berharap ini ada yang menengahkan khususnya dinas pendidikan atau juga pihak yang berwenang untuk menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut,” harapnya.

Kisah Agus Saputra menjadi cermin pahit dunia pendidikan: ketika relasi guru dan murid kehilangan rasa saling menghormati. Di balik viralnya video dan riuhnya media sosial, ada satu pertanyaan besar yang tersisa—bagaimana melindungi ruang kelas agar tetap menjadi tempat aman, bukan arena konflik yang meninggalkan trauma bagi siapa pun yang terlibat.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

guru Jambi konflik guru murid murid perundungan di sekolah tanjung jabung timur
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos Agustus 2026 Cair! Cek Nama Penerima PKH dan BPNT dengan NIK KTP

Sekolah Digembok, Ratusan Siswa SDN 026 Bojongloa Bandung Dipulangkan Paksa

Beauty Warehouse Sale Makeupuccino Hadir di Cimahi, Diskon hingga 80 Persen dan Hadirkan 100 Ribu Produk Kecantikan

Rancangan Anggaran Jabar 2027 Disepakati, DPRD Dorong APBD Lebih Transparan dan Efektif

PHK Massal PT Namnam Fashion Industries Jadi Alarm Industri Jawa Barat

BPS Ungkap Fakta Kemiskinan 2026: Jawa Terbanyak, Kalimantan Paling Sedikit

Terpopuler
  • FOTO: Dedikasi Tanpa Batas Tim Medis Mengawal Keselamatan Laga Piala Presiden 2026
  • 16 Bakal Calon Presidium MW KAHMI Jabar Jalani Verifikasi, Siapkan Pemimpin Baru Periode 2026-2031
  • Pengelola Harian SixNine Buka Suara soal Dugaan Penebangan Pohon di Jalan Riau: Kami Hanya Jalankan Operasional
  • Cara Nonton Link Live Streaming Persib vs Tampines Rovers Malam Ini di Piala Presiden 2026
  • Gebrakan atau Kontroversi? Polemik Hadiah Tangkap Begal ala Dedi Mulyadi di Tengah Resah Warga Jabar
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.