Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bikin Geleng-Geleng Kepala! Tahlilan ‘Sultan Lamongan’ Bagi-bagi Kipas Angin ke Ratusan Jemaah

Selasa, 22 September 2026 10:02 WIB

Jelang Penutupan Bursa Transfer Super League, Persib Bandung Siapkan Kejutan Susulan?

Selasa, 22 September 2026 09:42 WIB

Dua Bintang Persib Merapat ke Timnas Indonesia, Igor Tolic Beri Pesan Khusus

Selasa, 22 September 2026 09:24 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bikin Geleng-Geleng Kepala! Tahlilan ‘Sultan Lamongan’ Bagi-bagi Kipas Angin ke Ratusan Jemaah
  • Jelang Penutupan Bursa Transfer Super League, Persib Bandung Siapkan Kejutan Susulan?
  • Dua Bintang Persib Merapat ke Timnas Indonesia, Igor Tolic Beri Pesan Khusus
  • Fakta Kasus Video Asusila ‘A Day in My Life’ di Bogor: Dijual Rp150 Ribu hingga Positif HIV
  • Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: SUGBK Jadi Saksi Perjuangan Garuda di Grup A
  • Wisata Kuliner di Sumedang: Menikmati Sajian Sunda Otentik Berlatar Alam Pegunungan yang Asri
  • Cuma Rp15 Ribuan! 4 Nasi Kuning Terenak di Bandung, Ada yang Buka sampai Dini Hari
  • Usai 3 Laga Tandang, Persib Libur 4 Hari! Igor Tolic Tunggu Pemain Cedera Kembali
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 22 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Curhat Pilu Guru SMK di Jambi, Tak Tahan Dirundung Siswa Selama 2 Tahun

By Aga GustianaKamis, 15 Januari 2026 18:06 WIB5 Mins Read
Viral guru dan murid di Jambi adu jotos. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sekolah seharusnya menjadi ruang paling aman bagi siapa pun yang berada di dalamnya—tempat belajar, mendidik, dan membentuk karakter. Namun bagi Agus Saputra, seorang guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, ruang kelas justru menjadi tempat luka itu terakumulasi selama bertahun-tahun, hingga akhirnya meledak dalam satu hari yang mengubah hidupnya.

Agus bukan guru baru. Ia telah mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik selama kurang lebih 15 tahun. Selama itu pula, ia memegang prinsip bahwa guru harus menjadi teladan, menahan emosi, dan mendidik dengan kesabaran. Namun siapa sangka, kesabaran itu justru menjadi ruang kosong yang diisi oleh perundungan tanpa henti.

Selama dua hingga tiga tahun terakhir, Agus mengaku kerap menjadi sasaran perundungan verbal dari murid-muridnya sendiri. Perundungan itu bukan dilakukan oleh satu atau dua orang, melainkan hampir satu kelas penuh—kelas yang seluruh siswanya laki-laki.

“Bukan satu orang dua orang tapi hampir anak laki-laki yang satu kelas. Kami ada anak satu kelas itu isinya laki-laki semua. Nah, itu juga merupakan bagian dari merundung saya,” ujar Agus.

Tanjung Jabung Timur, kabupaten paling timur di Provinsi Jambi yang merupakan hasil pemekaran Kabupaten Tanjung Jabung, menjadi latar dari kisah pilu ini. Di wilayah tersebut, Agus mengajar di sebuah SMK pertanian—sekolah kejuruan yang seharusnya menanamkan kedisiplinan dan etika kerja sejak dini.

Namun realitas di lapangan jauh dari harapan.

Puncak Emosi di Ruang Kelas

Hari Selasa, 13 Januari 2026, menjadi titik balik. Sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB, saat proses belajar mengajar berlangsung, seorang siswa menegur Agus dengan nada yang dinilainya tidak sopan. Teguran itu bahkan disertai teriakan kata-kata yang dianggap tidak pantas.

Baca Juga:  Info GTK 2025: Langkah Mudah Validasi Data dan Cek Tunjangan Profesi

“Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakan kata yang tidak pantas saat dia belajar,” kata Agus.

Merasa harga dirinya sebagai guru dilecehkan, Agus masuk ke kelas tersebut untuk menanyakan siapa yang memanggilnya dengan cara demikian.

“Kemudian, saya masuk ke kelas saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” tuturnya.

Alih-alih mendapatkan klarifikasi, Agus justru menghadapi tantangan terbuka dari siswa tersebut.

“Dia langsung menantang saya, katanya seperti itu. Akhirnya saya refleks satu kali menampar muka dia itulah kejadiannya awal,” lanjutnya.

Tamparan itu, menurut Agus, adalah satu-satunya sepanjang kariernya.

“Kejadian ini pertama seumur hidup saya. Menampar anak (siswa) itu kejadian pertama,” tegasnya.

Mediasi yang Berujung Kekerasan

Setelah kejadian di kelas, konflik tak mereda. Pada jam istirahat, Agus kembali ditantang. Situasi memanas hingga berlangsung berjam-jam, dari pukul 13.00 hingga 16.00 WIB. Pihak sekolah kemudian melakukan mediasi di kantor.

“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelas Agus.

Dalam mediasi itu, Agus mencoba mencari jalan tengah. Ia bahkan menawarkan solusi berupa petisi.

“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.

Baca Juga:  Jawa Barat Krisis Guru, Pengajar Terpaksa Memegang Mata Pelajaran di Luar Keahlian

Namun suasana justru semakin tidak kondusif. Saat Agus diajak komite sekolah masuk ke ruang kantor, pengeroyokan pun terjadi.

“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.

Peristiwa itu terekam video dan kemudian viral di media sosial.

Dikejar, Dilempari, dan Bertahan

Dalam video yang beredar, Agus terlihat mengejar siswa sambil membawa senjata tajam. Potongan video ini memicu beragam reaksi publik. Namun Agus menjelaskan, konteksnya berbeda.

“Kebetulan SMK kami itu SMK Pertanian, jadi peralatan pertanian. Kayak cangkul dan sebagainya itu memang sudah tersedia di dalam kantor, memang tersimpan rapi,” katanya.

Ia menegaskan, aksinya semata untuk membela diri dan menggertak agar siswa bubar.

“Saya tidak berniat untuk melakukan kejahatan terbukti videonya saya hanya mengejar mereka agar bubar. Pada kenyataannya mereka tidak bubar juga,” ujarnya.

Bahkan, menurut Agus, dirinya justru menjadi sasaran lemparan batu dan benda keras lainnya.

“Mereka malah melempari saya dengan banyak-banyak hal yang anarkis seperti batuan, batu bata dan sebagainya,” katanya.

Luka yang Terpendam Bertahun-tahun

Bagi Agus, peristiwa ini bukan kejadian tunggal, melainkan akumulasi perundungan panjang.

“Selama dua tahun sampai ada yang berkali-kali selama dua tahun. Sampai ada yang tiga tahun melakukan tindak verbal yang tidak menyenangkan terhadap saya,” ungkapnya.

Ia merasa sudah berusaha bertahan sebagai manusia dan sebagai guru.

“Jadi, selama bertahun-tahun saya sudah mencoba untuk bertahan dengan keadaan itu. Kalau saya rasa kalau untuk normalnya manusia, ini rasanya tidak manusia lagi ya,” lanjutnya.

Baca Juga:  Skandal Video Syur Oknum Guru di Sukabumi: Berstatus PPPK, Terancam Dipecat

Klarifikasi Ketua OSIS dan Bantahan Agus

Di tengah viralnya kasus ini, Ketua OSIS SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur menyampaikan klarifikasi melalui media sosial. Ia meminta maaf kepada pihak sekolah, bukan kepada Agus.

“Di sini saya sebagai ketua OSIS di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, dan perwakilan dari siswa siswi ingin menyampaikan permintaan maaf terhadap instansi yang sudah terlibat terhadap masalah ini,” ucapnya.

Ketua OSIS juga menuding bahwa pengeroyokan terjadi karena Agus dianggap sering menindas murid.

“Dan dengan tersebarnya video pengeroyokan terhadap guru, saya juga meminta maaf karena hal tersebut terjadi karena oknum tersebut sering menindas kami di SMK,” katanya.

Agus membantah tudingan tersebut.

“Tidak ada pemaksaan (penindasan seperti kata Ketua OSIS). Siapa yang mau kerjakan, silahkan. Semua tugas harus sukarela,” tegasnya.

Harapan Akan Jalan Tengah

Agus telah melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Ia berharap ada pihak yang menjadi penengah agar masalah ini tidak terus berlarut.

“Kalau seandainya ini tambah viral dimanapun, saya berharap ini ada yang menengahkan khususnya dinas pendidikan atau juga pihak yang berwenang untuk menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut,” harapnya.

Kisah Agus Saputra menjadi cermin pahit dunia pendidikan: ketika relasi guru dan murid kehilangan rasa saling menghormati. Di balik viralnya video dan riuhnya media sosial, ada satu pertanyaan besar yang tersisa—bagaimana melindungi ruang kelas agar tetap menjadi tempat aman, bukan arena konflik yang meninggalkan trauma bagi siapa pun yang terlibat.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

guru
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bikin Geleng-Geleng Kepala! Tahlilan ‘Sultan Lamongan’ Bagi-bagi Kipas Angin ke Ratusan Jemaah

Ilustrasi video 18+

Fakta Kasus Video Asusila ‘A Day in My Life’ di Bogor: Dijual Rp150 Ribu hingga Positif HIV

Langkah Strategis bank bjb syariah: Terima Aset Senilai Rp25,9 Miliar dari Kejagung untuk Penguatan Neraca

Misteri WNA Belanda Tewas di Hotel Bandung, Ditemukan dalam Bathtub

Investor Dubai Lirik Wisata Bandung Barat, Ada Peluang Investasi Besar di Lembang

Bukan Uang Biasa? Jejak Tanda Tangan Purbaya di Rp100 Ribu Mulai Dicari Kolektor

Terpopuler
  • Proyek Kabel Gatot Subroto Bandung Amburadul, Internet IndiHome Mati Nyaris Sepekan dan Bikin Rugi
  • 118 Gempa dalam 38 Hari, Apa yang Sebenarnya Bergerak di Bawah Kabupaten Bandung?
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Link Live Streaming ACL 2: FC Seoul vs Persib Bandung, Nonton Gratis di Sini!
  • Unjani dan Djarum Foundation Kolaborasi Dorong Green Campus dan Green Leadership
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.