bukamata.id – Dunia maya kembali diguncang isu keamanan anak yang serius. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) baru saja merilis temuan terkait infiltrasi kelompok radikal ke dalam ekosistem game populer, Roblox. Platform yang digandrungi jutaan anak-anak ini kedapatan disalahgunakan sebagai ladang rekrutmen teroris muda.
Aksi cepat tanggap yang dilakukan BNPT bersama aparat penegak hukum membuahkan hasil krusial. Tercatat, setidaknya 112 anak berhasil diamankan dan diselamatkan dari jeratan doktrinasi berbahaya yang tersembunyi di balik keseruan bermain game.
Cara Kerja “Digital Grooming”: Dari Chat hingga Doktrin
Kepala BNPT, Eddy Hartono, menjelaskan bahwa para pelaku menggunakan teknik yang sangat rapi untuk mengelabui korban di bawah umur. Memanfaatkan fitur interaksi sosial di dalam game, pelaku melakukan pendekatan yang terlihat sangat natural.
“Fitur chat dan voice chat di Roblox ini dimanfaatkan untuk melakukan pendekatan kepada anak-anak. Ini yang kami sebut sebagai digital grooming,” ujar Eddy dalam konferensi pers bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Metode ini dilakukan secara perlahan guna memanipulasi psikologis anak. Pelaku memposisikan diri sebagai teman bermain yang suportif sebelum akhirnya melakukan langkah yang lebih jauh.
“Mereka berinteraksi, merasa punya hobi yang sama, bahkan saling curhat. Dari situ dibangun empati,” jelasnya.
Jalur Perpindahan ke Platform Privat
Setelah kepercayaan terbangun, pelaku biasanya mulai menarik korbannya keluar dari ekosistem Roblox. Mereka diarahkan untuk berkomunikasi melalui aplikasi pesan instan yang lebih tertutup seperti WhatsApp atau Telegram. Di sanalah, proses radikalisasi yang sesungguhnya dimulai.
“Di tahap berikutnya, mulai dilakukan normalisasi dan penyebaran doktrin radikal. Ini yang sangat berbahaya,” kata Eddy.
Respons Tegas Pemerintah: Keamanan Roblox Jadi Sorotan
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Data BNPT menunjukkan bahwa infiltrasi melalui media online gaming telah terdeteksi sejak tahun 2024. Menanggapi eskalasi ancaman ini, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengambil langkah preventif dengan mendesak manajemen Roblox.
Meutya menekankan pentingnya pengawasan ketat pada interaksi antara pengguna anak dengan orang asing yang tidak dikenal.
“Fitur komunikasi dengan orang asing ini yang menjadi perhatian utama karena berpotensi dimanfaatkan untuk hal-hal berbahaya, termasuk rekrutmen radikalisasi anak,” tutur Meutya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










