bukamata.id – Sebuah perjalanan panjang yang dimulai lebih dari empat dekade lalu kini memasuki babak baru. Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi milik Angkatan Laut Italia resmi bertolak dari Italia menuju Indonesia pada Senin malam, 24 Agustus 2026.
Kapal yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kekuatan maritim Italia itu kini akan menempuh perjalanan menuju Asia Tenggara. Setibanya di Indonesia, Giuseppe Garibaldi akan berganti bendera dan nama menjadi KRI Gajah Mada.
Momen tersebut bukan sekadar perpindahan kepemilikan sebuah kapal perang. Kedatangan Giuseppe Garibaldi menandai babak baru dalam sejarah pertahanan laut Indonesia karena kapal ini diproyeksikan menjadi kapal induk pertama yang dimiliki dan dioperasikan Indonesia melalui skema hibah pertahanan.
Dari sebuah kapal yang dirancang Italia pada era Perang Dingin, Garibaldi kini menempuh rute panjang menuju negara yang berada ribuan kilometer dari tempat kelahirannya.
Perjalanan itu sekaligus membawa serta sejarah panjang sebuah kapal yang telah beroperasi selama puluhan tahun.
Dari Italia, Giuseppe Garibaldi Memulai Perjalanan Baru
Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali menyebut Giuseppe Garibaldi bertolak dari Italia sekitar pukul 22.00 waktu setempat pada Senin, 24 Agustus 2026.
Kapal tersebut diperkirakan tiba di Indonesia pada 15-20 September 2026. Dalam perjalanan, Giuseppe Garibaldi akan melintasi jalur strategis seperti Terusan Suez dan Laut Merah sebelum meneruskan pelayaran menuju Indonesia. Kapal juga mendapat pengawalan sejumlah fregat Italia.
Bagi Indonesia, perjalanan tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar dibanding sekadar pelayaran kapal perang dari satu negara ke negara lain.
Sebab, setelah proses serah terima selesai, Giuseppe Garibaldi akan memasuki babak baru sebagai KRI Gajah Mada.
Nama tersebut juga memiliki bobot sejarah tersendiri bagi Indonesia. Gajah Mada merupakan tokoh penting dalam sejarah Nusantara dan dikenal sebagai Mahapatih Majapahit yang dikaitkan dengan Sumpah Palapa.
Dengan demikian, sebuah kapal yang lahir dari sejarah Italia akan memasuki sejarah pertahanan Indonesia dengan nama yang diambil dari salah satu tokoh besar Nusantara.
Sejarah Giuseppe Garibaldi Dimulai pada Era 1970-an
Jauh sebelum namanya dikaitkan dengan Indonesia, Giuseppe Garibaldi sudah menjadi bagian penting dari sejarah kekuatan laut Italia.
Gagasan pembangunan kapal ini muncul pada dekade 1970-an ketika Angkatan Laut Italia mulai mencari platform yang mampu mengoperasikan pesawat dengan kemampuan vertical atau short take-off and landing (V/STOL).
Angkatan Laut Italia bahkan telah melakukan eksperimen penerbangan dengan Sea Harrier pada dekade 1960-an. Perkembangan tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi bagi lahirnya Giuseppe Garibaldi.
Program pembangunannya kemudian mendapatkan momentum melalui kebijakan angkatan laut Italia pada 1970-an.
Italia akhirnya memesan kapal tersebut pada 21 November 1977. Pembangunannya dilakukan di galangan Italcantieri di Monfalcone.
Lempeng baja pertama mulai dipotong pada 28 April 1980. Pembangunan berlanjut hingga kapal diluncurkan pada 4 Juni 1983.
Dua tahun kemudian, tepatnya 30 September 1985, Giuseppe Garibaldi resmi diserahterimakan kepada Angkatan Laut Italia.
Kapal tersebut kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan penerbangan laut Italia.
Marina Militare mencatat, Giuseppe Garibaldi memasuki layanan pada 1985 dan membawa kemampuan untuk mengoperasikan sejumlah besar pesawat, termasuk pesawat V/STOL serta helikopter.
Sempat Disebut Kapal Induk Terkecil di Dunia
Ada fakta menarik di balik ukuran Giuseppe Garibaldi.
Ketika dibandingkan dengan kapal induk raksasa milik Amerika Serikat, kapal ini terlihat jauh lebih kecil. Panjangnya sekitar 180,2 meter, dengan bobot penuh sekitar 13.850 ton pada konfigurasi tertentu.
Namun, ukuran tersebut justru menjadi karakter khas Garibaldi.
Kapal ini dirancang sebagai kapal serbaguna yang menggabungkan kemampuan penerbangan, komando, pertahanan, hingga dukungan operasi amfibi.
Pada masanya, Giuseppe Garibaldi bahkan dikenal sebagai salah satu kapal induk terkecil di dunia sebelum kemudian posisi tersebut dikaitkan dengan kapal induk Thailand, HTMS Chakri Naruebet.
Dengan konfigurasi tersebut, Garibaldi tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi tandingan kapal induk supercarrier seperti yang dimiliki Amerika Serikat.
Konsepnya berbeda.
Garibaldi dibangun untuk menghadirkan kemampuan udara dari laut dalam platform yang relatif ringkas.
Bukan Sekadar Membawa Pesawat
Salah satu bagian paling menarik dari sejarah Giuseppe Garibaldi adalah kemampuannya menjalankan berbagai jenis misi.
Kapal ini dirancang dengan geladak penerbangan penuh dan ski-jump di bagian haluan yang mendukung operasi pesawat V/STOL. Angkatan Laut Italia kemudian mengoperasikan AV-8B Harrier II dari kapal tersebut setelah aturan yang membatasi pengoperasian pesawat bersayap tetap oleh Angkatan Laut Italia diubah pada 1989.
Selain pesawat tempur, Garibaldi juga mampu mengoperasikan helikopter dalam jumlah besar.
Konfigurasi tersebut membuat kapal ini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari operasi udara, peperangan antikapal selam, dukungan pasukan, hingga misi kemanusiaan.
Dalam kondisi tertentu, kapal ini juga dapat mengangkut pasukan dalam jumlah besar. Catatan sejarah menunjukkan Garibaldi memiliki kapasitas untuk membawa hingga sekitar 600 pasukan dalam misi tertentu.
Jejak Operasi di Somalia hingga Libya
Puluhan tahun masa pengabdiannya membuat Giuseppe Garibaldi bukan sekadar kapal yang menghabiskan waktunya di pangkalan.
Kapal ini terlibat dalam berbagai operasi internasional yang dijalankan Italia.
Angkatan Laut Italia mencatat Giuseppe Garibaldi memainkan peran penting dalam sejumlah misi internasional, termasuk operasi di Kosovo, Afghanistan, dan Libya.
Kapal tersebut juga pernah digunakan dalam operasi di kawasan Somalia pada dekade 1990-an.
Pengalaman tersebut membuat Giuseppe Garibaldi memiliki rekam jejak operasional yang cukup panjang sebelum akhirnya memasuki fase baru dalam sejarahnya.
Kini, pengalaman tersebut akan menjadi bagian dari warisan yang dibawa kapal itu ketika memasuki armada Indonesia.
Mengapa Giuseppe Garibaldi Menarik bagi Indonesia?
Kedatangan Giuseppe Garibaldi menghadirkan sesuatu yang selama ini belum pernah dimiliki Indonesia: sebuah platform kapal induk yang dapat menjadi pusat operasi udara dari laut.
Namun, kehadiran kapal ini juga tidak berarti Indonesia tiba-tiba memiliki kapal induk dengan kemampuan yang sama seperti kapal induk modern Amerika Serikat.
Garibaldi merupakan kapal generasi yang jauh lebih tua. Kapal tersebut dirancang pada era yang berbeda dan memiliki konsep operasi yang berbeda pula.
Justru di situlah nilai strategisnya.
Indonesia memperoleh kesempatan untuk membangun pengalaman mengoperasikan kapal induk, mulai dari pengawakan, navigasi, pemeliharaan, pengelolaan dek penerbangan, hingga integrasi dengan kapal perang dan sistem komando lainnya.
Dengan kata lain, KRI Gajah Mada dapat menjadi sebuah sekolah terapung bagi kemampuan penerbangan laut Indonesia.
100 Prajurit TNI AL Disiapkan Mengawaki Garibaldi
Indonesia tidak menunggu kapal tersebut tiba untuk mulai mempelajari cara mengoperasikannya.
Sekitar 100 prajurit TNI AL telah berada di Italia untuk menjalani rangkaian pelatihan sebelum membawa kapal tersebut menuju Indonesia.
Proses awal pengoperasian dilakukan melalui konsep joint crew, yakni pengawakan gabungan antara personel TNI AL dan Angkatan Laut Italia.
Setelah kapal tiba di Indonesia, proses pengalihan pengawakan akan dilakukan secara bertahap hingga sepenuhnya menjadi tanggung jawab personel TNI AL.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa transfer kapal tidak berhenti pada penyerahan fisik.
Ada pengetahuan, pengalaman, prosedur, serta kemampuan teknis yang harus ikut berpindah.
Dari Giuseppe Garibaldi Menjadi KRI Gajah Mada
Ada ironi sejarah yang menarik dari perjalanan kapal ini.
Nama Giuseppe Garibaldi berasal dari Giuseppe Maria Garibaldi, patriot dan tokoh militer Italia abad ke-19 yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam proses penyatuan Italia.
Kini, nama tersebut akan berganti ketika kapal memasuki Indonesia.
Ia akan menjadi KRI Gajah Mada.
Dua nama dari dua sejarah yang berbeda akan bertemu di satu kapal.
Garibaldi merepresentasikan sejarah penyatuan Italia. Sementara Gajah Mada merepresentasikan salah satu figur politik dan militer paling terkenal dalam sejarah Nusantara.
Perubahan nama tersebut sekaligus menandai berakhirnya perjalanan panjang Giuseppe Garibaldi sebagai kapal Italia dan dimulainya babak baru sebagai bagian dari kekuatan laut Indonesia.
Kapal Tua, Tetapi Membawa Sejarah Baru
Giuseppe Garibaldi memang bukan kapal baru.
Kapal tersebut telah menjalani masa pengabdian panjang sejak 1985 dan kemudian memasuki fase akhir masa dinasnya di Italia. Data sejarah mencatat kapal ini keluar dari layanan aktif Italia pada 2024.
Namun, usia kapal bukan satu-satunya ukuran dalam melihat arti kedatangannya.
Yang lebih penting adalah apa yang dapat dipelajari Indonesia dari kapal tersebut.
Selama puluhan tahun, Garibaldi telah menjadi laboratorium berjalan bagi Angkatan Laut Italia dalam mengoperasikan penerbangan dari laut.
Kini pengalaman itu berpotensi menjadi bagian dari perjalanan TNI AL.
Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, pada September 2026 Indonesia bukan hanya menyambut sebuah kapal dari Italia.
Indonesia akan menyambut sepotong sejarah maritim Italia yang akan ditulis ulang dalam sejarah pertahanan Indonesia.
Dan ketika bendera Merah Putih akhirnya berkibar di atas kapal yang sebelumnya bernama Giuseppe Garibaldi, perjalanan panjang kapal tersebut akan memasuki babak yang sama sekali baru: dari kapal perang Italia menjadi KRI Gajah Mada, kapal induk pertama dalam sejarah Indonesia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









