bukamata.id – Sebuah video penampilan siswa sekolah dasar asal Karangrena, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, kembali menjadi perhatian di media sosial. Bukan karena aksi yang dibuat-buat, bocah bernama Sandi itu justru mencuri perhatian lewat keberaniannya membawakan geguritan di depan kelas dengan ekspresi dan intonasi yang begitu total.
Dalam video yang diunggah melalui akun TikTok @iin.aminah77, Sandi terlihat berdiri di hadapan guru dan teman-temannya. Dengan seragam putih merah, ia membacakan karya sastra berbahasa Jawa tersebut dengan penuh penghayatan.
Yang membuat penampilannya berbeda adalah gaya tubuh Sandi ketika membawakan setiap bait. Sesekali ia bertolak pinggang, menggerakkan tangan, mengubah ekspresi wajah, hingga memainkan tinggi rendah suaranya seperti seorang pembicara yang sedang menyampaikan pesan penting.
Kepercayaan dirinya itulah yang kemudian membuat Sandi mendapat julukan “orator cilik” dari warganet.
Namun, cerita viral tentang Sandi tidak berhenti pada video penampilannya di depan kelas.
Sandi Kembali Viral Saat Ungkapkan Perasaan kepada Guru
Aksi Sandi kembali mencuri perhatian ketika ia mengungkapkan isi hatinya kepada sang guru menggunakan gaya khas saat membawakan geguritan.
“Aku mau bukakan rasa hatiku kepada guru,” ujar Sandi dalam video tersebut, seperti dikutip dari akun TikTok @iin.aminah77.
Kalimat itu disampaikan dengan intonasi dan ekspresi khas Sandi. Cara berbicaranya yang penuh penghayatan membuat video tersebut kembali ramai diperbincangkan.
Kali ini, respons warganet justru lebih beragam. Sebagian mengaku tidak kuasa menahan tawa melihat ekspresi dan gaya Sandi. Ada pula yang mempertanyakan apakah sang guru juga sedang berusaha menahan tawa ketika menyaksikan penampilan muridnya.
“Untung gurunya bukan aku, kalau gurunya aku sudah nggak bisa nahan ketawa lagi,” tulis salah satu akun.
“Bu guruuu, kenapa nggak lihat? Apakah ibu guru nahan ketawa juga?” komentar warganet lainnya.
“Gurunya terharu apa tahan tawa jirrr,” tulis akun lain.
Meski demikian, tidak sedikit pula warganet yang justru memberikan apresiasi. Mereka menilai keberanian Sandi tampil di depan kelas merupakan sesuatu yang patut dihargai.
“Tapi dia keren loh,” tulis salah satu pengguna TikTok.
Komentar lainnya bahkan meminta warganet tidak hanya melihat sisi lucu dari penampilan tersebut.
“Tapi ini sudah benar guys, dedenya keren banget karena bisa bacain puisi dengan bahasa daerahnya. Semangat terus dedeee,” tulis seorang warganet.
Banyak yang Belum Mengenal Geguritan
Perbedaan respons tersebut kemudian membuka persoalan lain. Sebagian warganet diduga belum mengetahui bahwa geguritan merupakan salah satu bentuk karya sastra Jawa.
Akibatnya, gaya Sandi yang sangat ekspresif justru dianggap lucu oleh sebagian penonton. Padahal, ekspresi, intonasi, dan penghayatan merupakan bagian penting ketika sebuah karya puisi dibawakan secara lisan.
Secara umum, geguritan merupakan karya sastra Jawa berbentuk puisi. Karya ini digunakan untuk mengungkapkan gagasan, perasaan, maupun pesan melalui bahasa Jawa yang disusun dengan mempertimbangkan keindahan bahasa dan rasa.
Geguritan juga berbeda dengan tembang macapat yang memiliki aturan tertentu seperti guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Geguritan dalam bentuk sastra Jawa baru tidak terikat secara ketat oleh pola tersebut.
Karena itu, pembacaan geguritan tidak semata-mata soal melafalkan teks. Penghayatan, artikulasi, intonasi, ekspresi, serta bahasa tubuh dapat membantu menyampaikan suasana dan makna yang terkandung dalam puisi.
Gaya Sandi Justru Menunjukkan Keberanian
Jika dilihat dari sisi pembelajaran, penampilan Sandi memperlihatkan satu hal yang cukup menonjol: keberanian untuk tampil.
Bagi sebagian anak sekolah dasar, berdiri sendirian di depan kelas dan berbicara di hadapan guru serta teman-teman bukan perkara mudah. Rasa malu, takut salah, atau khawatir ditertawakan sering kali membuat anak memilih diam.
Sandi justru melakukan hal sebaliknya.
Ia tampil tanpa terlihat canggung. Setiap bait dibawakan dengan ekspresi yang kuat. Ketika suasana puisi membutuhkan tekanan, suaranya ikut berubah. Ketika pesan harus disampaikan dengan tegas, gestur tubuhnya ikut bergerak.
Gaya bertolak pinggang yang kemudian menjadi salah satu ciri khasnya juga memperlihatkan bagaimana seorang anak menemukan caranya sendiri untuk menghidupkan teks yang dibacanya.
Karena itulah, sejumlah warganet memilih melihat penampilan Sandi dari sisi berbeda. Bukan sekadar lucu, tetapi sebagai bentuk keberanian anak dalam berekspresi sekaligus mengenalkan sastra daerah.
Ketika Sastra Daerah Bertemu Media Sosial
Menariknya, sesuatu yang awalnya hanya terjadi di ruang kelas kini menjangkau penonton yang jauh lebih luas melalui media sosial.
Sandi tidak sedang tampil di panggung besar. Ia hanya berdiri di ruang kelas dengan seragam sekolah dan membacakan geguritan sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran.
Namun, kamera kemudian mengabadikan penampilan tersebut. Ketika video masuk ke media sosial, ekspresi Sandi menjadi konsumsi publik dan memunculkan berbagai respons.
Di satu sisi, ada yang melihatnya sebagai hiburan. Di sisi lain, muncul warganet yang mengingatkan bahwa penampilan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran sastra dan budaya Jawa.
Perbedaan respons itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi ruang baru untuk memperkenalkan kembali karya sastra daerah kepada masyarakat.
Bukan Sekadar Video Lucu
Viralnya Sandi pada akhirnya tidak hanya bercerita tentang seorang anak yang tampil ekspresif di depan kelas. Ada konteks pendidikan dan budaya yang ikut berada di balik video tersebut.
Geguritan menjadi media bagi anak untuk mengenal bahasa dan sastra daerah. Sementara bagi Sandi, kesempatan tampil di depan kelas menjadi ruang untuk melatih keberanian, kemampuan berbicara, penghayatan, dan ekspresi.
Di tengah derasnya konten digital yang setiap hari dikonsumsi anak-anak, keberadaan pembelajaran budaya lokal seperti geguritan menjadi salah satu cara untuk menjaga agar bahasa dan sastra daerah tetap dikenal generasi muda.
Penampilan Sandi juga mengingatkan bahwa karya sastra tidak selalu harus dibawakan dengan gaya kaku. Ketika seorang anak diberi ruang untuk berekspresi, sebuah puisi berbahasa Jawa pun dapat tampil hidup dan menarik perhatian.
Mungkin bagi sebagian orang, gaya Sandi terlihat mengundang tawa. Namun, di balik itu ada seorang anak yang berani berdiri di depan kelas, menggunakan bahasa daerah, menghafal atau memahami teks, kemudian menyampaikannya dengan caranya sendiri.
Dan justru dari ruang kelas sederhana itulah, geguritan kembali menjadi perbincangan di media sosial.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










