bukamata.id – Nama Fadly Alberto Hengga kini tengah menjadi buah bibir, namun sayangnya bukan karena gol cantiknya di lapangan hijau. Pemain muda berbakat ini terjerembab dalam pusaran kontroversi usai diduga melakukan aksi kekerasan brutal dalam laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Bhayangkara FC melawan Dewa United.
Insiden yang terjadi di Semarang tersebut seolah memutar balik nasib Alberto, dari pahlawan nasional menjadi pesakitan yang terancam sanksi berat.
Masa Kecil yang Penuh Luka di Bojonegoro
Alberto bukan anak yang lahir dengan sendok perak. Pemuda keturunan Timika, Papua Tengah, ini tumbuh besar di Desa Banjarsari, Bojonegoro. Hidupnya sangat kontras dengan gemerlap sepak bola profesional; ia menghabiskan masa kecil di rumah sempit berdinding tripleks dan berlantai tanah milik Perhutani.
Sepeninggal sang ayah, John Clif Hengga, ibunya, Piana, berjuang keras menjadi buruh serabutan. Bakat bola Alberto baru terendus saat ia bergabung dengan SSB Sukorejo Putra di usia 8 tahun, hingga akhirnya kegigihannya membawa ia lolos ke Bhayangkara FC Muda pada 2023.
Namanya sempat harum saat membawa Timnas U-16 asuhan Nova Arianto meraih posisi ketiga di ASEAN U-16 Boys Championship 2024. Kisah pilunya yang viral bahkan membuat pengusaha Handoko (Realfood) menghadiahinya sebuah rumah layak huni.
Tragedi “Tendangan Melayang” dan Isu Rasialisme
Keberuntungan Alberto seolah sirna dalam sekejap. Saat membela Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20, tensi panas pertandingan melawan Dewa United memuncak. Sebuah video viral menangkap momen Alberto mendaratkan “tendangan kungfu” ke arah leher pemain lawan, Rakha Nurkholis.
Manajer tim, Yongky Pandu Pamungkas, sempat mengungkapkan bahwa tindakan emosional tersebut dipicu oleh dugaan ejekan rasial di lapangan. Alberto dikabarkan mendapat panggilan “hitam” dari lawan, namun manajemen menegaskan bahwa aksi kekerasan fisik tetap tidak memiliki tempat dalam olahraga.
Konsekuensi Pahit: Coretan Timnas dan Ancaman Skorsing
Dampaknya instan dan menyakitkan. Pelatih Nova Arianto secara tegas mencoret Alberto dari daftar pemain Timnas U-20. Tak hanya itu, Komite Disiplin PSSI kini tengah membayangi Alberto dengan ancaman larangan bermain hingga lebih dari satu tahun.
Menyadari kariernya di ujung tanduk, Alberto akhirnya muncul ke publik dengan permohonan maaf yang sangat mendalam melalui media sosialnya pada Senin (20/4) malam.
“Assalamualaikum warrohmatullahi Wabarakatuh. Saya Fadly Alberto Hengga, pemain Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20, Dengan sadar saya memohon maaf dan menyesal atas perbuatan bodoh saya saat melawan Dewa United Banten FC U-20,” ungkap Alberto dengan penuh penyesalan.
Ia secara terbuka mengakui kekhilafannya dan meminta maaf kepada semua pihak yang dirugikan, mulai dari korban hingga jajaran pelatih Timnas.
“Secara khusus saya meminta maaf kepada Rakha Nurkholis dan tim Dewa United atas perbuatan bodoh saya menendang Rakha Nurkholis. Dan untuk tim Bhayangkara Presisi Lampung FC saya meminta maaf kepada pimpinan dan manajemen Bhayangkara Presisi Lampung FC dan seluruh jajaran pelatih dan rekan setim karena telah merugikan tim,” lanjutnya.
Penyesalan itu ditutup dengan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat sepak bola Indonesia yang merasa kecewa atas perilakunya yang tidak sportif.
“Dan untuk Timnas Indonesia saya meminta maaf karena perbuatan saya mencoreng nama baik Timnas Indonesia. Kepada masyarakat Indonesia saya meminta maaf atas kegaduhan akibat tindakan saya,” tutup Alberto.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










