Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Siaga Merah di Tanah Suci: Arab Saudi Keluarkan Peringatan Darurat Usai Hujaman Rudal Houthi

Selasa, 15 September 2026 21:36 WIB

Sampah di Purwakarta Nyaris Sentuh 200 Ton Per Hari, Warga Diminta Mulai Pilah dari Rumah

Selasa, 15 September 2026 20:44 WIB

Jelang Duel Kontra FC Seoul, Marc Klok Kobarkan Semangat Juang Persib di Panggung Asia

Selasa, 15 September 2026 20:35 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Siaga Merah di Tanah Suci: Arab Saudi Keluarkan Peringatan Darurat Usai Hujaman Rudal Houthi
  • Sampah di Purwakarta Nyaris Sentuh 200 Ton Per Hari, Warga Diminta Mulai Pilah dari Rumah
  • Jelang Duel Kontra FC Seoul, Marc Klok Kobarkan Semangat Juang Persib di Panggung Asia
  • Nenek di Sukabumi Ditemukan Tewas Saat Padamkan Kebun Bambu yang Terbakar
  • Pekan Ketiga Super League Memanas! Persib ke Jepara, Persija Kontra Java United
  • Penyu Raja Ampat Dibunuh di Depan Kamera: Dari Perburuan hingga WNA Diamankan di Bandara
  • Persib Kontra FC Seoul di ACL Two, Ini Jadwal dan Cara Nonton Live
  • Asap Kebakaran Punclut Makan Korban, 13 Warga Bandung Kena ISPA
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 15 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Ekonomi Terpukul, Anggaran Terbatas: Jawa Barat Hadapi Tahun Fiskal yang Berat

By Aga GustianaSenin, 14 Juli 2025 09:00 WIB3 Mins Read
Ilustrasi, Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi disorot Mendagri usai pendapatan dan belanja daerah merosot. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghadapi tantangan dalam capaian kinerja keuangan di pertengahan tahun 2025. Di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi, provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia ini tergeser ke posisi ketiga secara nasional dalam hal realisasi pendapatan dan belanja daerah.

Sorotan ini datang langsung dari Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (7/7/2025), yang disiarkan melalui kanal YouTube Kemendagri.

“Dulu Jawa Barat nomor satu, sekarang Kang Dedi Mulyadi (KDM) kalah sama Ngarso Dalem Sri Sultan. Dan Pak Lalu Iqbal dari NTB sekarang di atas Jawa Barat,” ujar Tito, dikutip Rabu (9/7/2025).

Menurut data Kemendagri, hingga Juni 2025, Jawa Barat mencatat realisasi pendapatan sebesar 44,72 persen dan realisasi belanja 38,79 persen. Meski tetap tinggi secara nasional, capaian ini belum mampu mempertahankan dominasi yang sebelumnya diraih Jabar dalam pengelolaan anggaran.

Kewajiban Masa Lalu Membayangi Anggaran

Menanggapi hal ini, Gubernur Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa beban utang masa lalu menjadi penyebab utama terkurasnya kapasitas fiskal daerah.

Baca Juga:  Pratikno–Dedi Mulyadi Dorong Revitalisasi Vokasi, Jawab Paradoks Pengangguran Terdidik

“Banyak yang tanya, berapa anggaran Jabar tahun ini? Rp31 triliun. Tapi jangan dikira semuanya bisa dipakai. Kami harus bayar dulu utang PEN, BPJS, operasional Kertajati, sampai Masjid Al Jabbar,” ungkap Dedi melalui unggahan Instagram-nya, Kamis (10/7/2025).

Ia juga menambahkan bahwa sekitar sepertiga dari APBD tidak bisa digunakan untuk program baru karena tersedot ke berbagai kewajiban, termasuk masalah sosial seperti ijazah siswa swasta yang tertahan akibat tunggakan.

“Uangnya terbatas, tapi kebutuhan rakyat tetap harus dilayani. Jalan harus bagus, bencana harus ditangani, anak sekolah harus bisa lanjut, santri tetap dapat beasiswa. Itu komitmen saya,” tegasnya.

Sekda Jabar Bantah Isu Penurunan Drastis

Di tengah perdebatan publik, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, meluruskan kabar yang menyebutkan bahwa kinerja APBD Jabar anjlok drastis. Ia menyebut informasi itu sebagai hoaks yang marak di media sosial.

“Warga Jawa Barat itu istimewa, aya-aya wae, hoaks muncul di beranda media sosial seolah-olah belanja APBD Jabar merosot, pendapatan anjlok. Itu tidak benar, alias kabar bohong,” tegasnya di akun Instagram @hermansuryatman.

Baca Juga:  Program Jalan Desa Jabar Jadi Sorotan, DPRD Jatim Datang Belajar Langsung

Herman menyebut realisasi belanja Jabar per 4 Juli 2025 mencapai 38,79 persen—jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 31,81 persen. Menurutnya, posisi ketiga nasional tetap menjadi prestasi yang layak diapresiasi.

“Memang bulan ini DIY dan NTB berada di atas kita. Tapi tidak terlalu jauh. Kita masih top tiga nasional,” imbuhnya.

Pandangan Ekonom: Penurunan Tak Bisa Ditepis

Namun, narasi positif dari Pemprov Jabar mendapat catatan kritis dari Ekonom Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, yang menegaskan bahwa penurunan kinerja memang nyata.

“Saya melihat memang ada dampak perubahan kebijakan fiskal dan politik anggaran. Belanja infrastruktur meningkat, tapi proses lelang dan persiapan yang tidak cepat membuat penyerapan belanja agak lambat,” kata Acuviarta kepada bukamata.id, Kamis (10/7/2025).

Ia juga menyoroti dampak kebijakan yang dinilai mengganggu aktivitas ekonomi, termasuk pembebasan pajak kendaraan bermotor yang dinilai melemahkan kepatuhan pajak.

Baca Juga:  Petani Indramayu Desak Dedi Mulyadi Hentikan PLTU: Kami Butuh Air Bukan Api!

“Tidak adanya aktivitas dinas luar, kunjungan sekolah, studi banding—itu berdampak. Pembebasan pajak kendaraan seharusnya untuk yang patuh bayar, bukan yang menunggak,” tegasnya.

Menurutnya, serba-serbi kebijakan tersebut berkontribusi terhadap pelemahan ekonomi, baik dari sisi mikro maupun makro. Sektor seperti ekspor dan usaha kecil pun turut terdampak.

Saran Kebijakan: Percepat Lelang dan Diversifikasi Penerimaan

Meski demikian, Acuviarta tetap melihat bahwa realisasi anggaran Jabar “masih berada di jalur yang benar” meskipun di bawah persentase tahun-tahun sebelumnya.

“Dibutuhkan percepatan yang lebih agresif, terutama terkait proses lelang atau pengadaan barang dan jasa,” jelasnya.

Ia menyarankan agar Pemprov Jabar tidak hanya mengandalkan pajak kendaraan, melainkan mengoptimalkan sektor lain seperti pajak air permukaan dan bahan bakar minyak.

Selain itu, implementasi Perpres No. 1 Tahun 2025 dinilai turut berpengaruh pada ritme belanja karena mendorong efisiensi dan realokasi anggaran.

“Pak Gubernur KDM sudah melakukan pembaharuan kebijakan fiskal, tapi implementasinya butuh waktu transisi,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

APBD Jabar Dedi Mulyadi ekonomi jawa barat HL Tito Karnavian
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Siaga Merah di Tanah Suci: Arab Saudi Keluarkan Peringatan Darurat Usai Hujaman Rudal Houthi

Sampah di Purwakarta Nyaris Sentuh 200 Ton Per Hari, Warga Diminta Mulai Pilah dari Rumah

Nenek di Sukabumi Ditemukan Tewas Saat Padamkan Kebun Bambu yang Terbakar

Penyu Raja Ampat Dibunuh di Depan Kamera: Dari Perburuan hingga WNA Diamankan di Bandara

Asap Kebakaran Punclut Makan Korban, 13 Warga Bandung Kena ISPA

Underpass Gatot Subroto Cimahi Ditargetkan Rampung Desember, Nilai Proyek Rp126 Miliar

Terpopuler
  • Aksi Sosial PT MBK Ventura di Purwakarta: Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dan Donor Darah untuk Warga
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Coolmax Viral, Benarkah Ada Video Utuh?
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Gemuruh GBLA Bikin Merinding, Balsa Sekulic Terpukau oleh Militansi Bobotoh Persib
  • Semarak HUT TNI ke-81, Ribuan Peserta Siap Ikuti Fun Run di Cimahi
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.