Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Menalo Brace, Klok Gol Indah! Persib Tempel Ketat Persija

Minggu, 1 November 2026 18:02 WIB
Ilustrasi video syur

Bisnis Live Pornografi Raup Rp 750 Juta, Polda Jabar Tangkap 2 Tersangka

Minggu, 1 November 2026 17:30 WIB

Persib Menggila! Unggul 3-0 atas Kalteng FC di Babak Pertama

Minggu, 1 November 2026 16:29 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Menalo Brace, Klok Gol Indah! Persib Tempel Ketat Persija
  • Bisnis Live Pornografi Raup Rp 750 Juta, Polda Jabar Tangkap 2 Tersangka
  • Persib Menggila! Unggul 3-0 atas Kalteng FC di Babak Pertama
  • Diduga Mabuk, Pemotor 15 Tahun Hilang Kendali di Jalan AH Nasution
  • Mutombo Absen, Persib Tak Mau Ambil Risiko Jelang Lawan Kalteng FC
  • Diduga Microsleep! Brio Seruduk 3 Kendaraan di Depan UIN Bandung
  • Marc Klok Comeback! Persib Siap Hajar Kalteng FC demi Puncak Klasemen
  • Mojang Bandung Adjeng Wulandari, Buktikan Prestasi dan Organisasi Bisa Berjalan Beriringan
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 1 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Ekonomi Terpukul, Anggaran Terbatas: Jawa Barat Hadapi Tahun Fiskal yang Berat

By Aga GustianaSenin, 14 Juli 2025 09:00 WIB3 Mins Read
Ilustrasi, Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi disorot Mendagri usai pendapatan dan belanja daerah merosot. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghadapi tantangan dalam capaian kinerja keuangan di pertengahan tahun 2025. Di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi, provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia ini tergeser ke posisi ketiga secara nasional dalam hal realisasi pendapatan dan belanja daerah.

Sorotan ini datang langsung dari Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (7/7/2025), yang disiarkan melalui kanal YouTube Kemendagri.

“Dulu Jawa Barat nomor satu, sekarang Kang Dedi Mulyadi (KDM) kalah sama Ngarso Dalem Sri Sultan. Dan Pak Lalu Iqbal dari NTB sekarang di atas Jawa Barat,” ujar Tito, dikutip Rabu (9/7/2025).

Menurut data Kemendagri, hingga Juni 2025, Jawa Barat mencatat realisasi pendapatan sebesar 44,72 persen dan realisasi belanja 38,79 persen. Meski tetap tinggi secara nasional, capaian ini belum mampu mempertahankan dominasi yang sebelumnya diraih Jabar dalam pengelolaan anggaran.

Kewajiban Masa Lalu Membayangi Anggaran

Menanggapi hal ini, Gubernur Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa beban utang masa lalu menjadi penyebab utama terkurasnya kapasitas fiskal daerah.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Bakal Ubah Lokasi Longsor Cisarua Jadi Hutan Permanen

“Banyak yang tanya, berapa anggaran Jabar tahun ini? Rp31 triliun. Tapi jangan dikira semuanya bisa dipakai. Kami harus bayar dulu utang PEN, BPJS, operasional Kertajati, sampai Masjid Al Jabbar,” ungkap Dedi melalui unggahan Instagram-nya, Kamis (10/7/2025).

Ia juga menambahkan bahwa sekitar sepertiga dari APBD tidak bisa digunakan untuk program baru karena tersedot ke berbagai kewajiban, termasuk masalah sosial seperti ijazah siswa swasta yang tertahan akibat tunggakan.

“Uangnya terbatas, tapi kebutuhan rakyat tetap harus dilayani. Jalan harus bagus, bencana harus ditangani, anak sekolah harus bisa lanjut, santri tetap dapat beasiswa. Itu komitmen saya,” tegasnya.

Sekda Jabar Bantah Isu Penurunan Drastis

Di tengah perdebatan publik, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, meluruskan kabar yang menyebutkan bahwa kinerja APBD Jabar anjlok drastis. Ia menyebut informasi itu sebagai hoaks yang marak di media sosial.

“Warga Jawa Barat itu istimewa, aya-aya wae, hoaks muncul di beranda media sosial seolah-olah belanja APBD Jabar merosot, pendapatan anjlok. Itu tidak benar, alias kabar bohong,” tegasnya di akun Instagram @hermansuryatman.

Baca Juga:  Didesak Bubarkan Komite Sekolah, Dedi Mulyadi Siap Lakukan Reformasi Pendidikan

Herman menyebut realisasi belanja Jabar per 4 Juli 2025 mencapai 38,79 persen—jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 31,81 persen. Menurutnya, posisi ketiga nasional tetap menjadi prestasi yang layak diapresiasi.

“Memang bulan ini DIY dan NTB berada di atas kita. Tapi tidak terlalu jauh. Kita masih top tiga nasional,” imbuhnya.

Pandangan Ekonom: Penurunan Tak Bisa Ditepis

Namun, narasi positif dari Pemprov Jabar mendapat catatan kritis dari Ekonom Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, yang menegaskan bahwa penurunan kinerja memang nyata.

“Saya melihat memang ada dampak perubahan kebijakan fiskal dan politik anggaran. Belanja infrastruktur meningkat, tapi proses lelang dan persiapan yang tidak cepat membuat penyerapan belanja agak lambat,” kata Acuviarta kepada bukamata.id, Kamis (10/7/2025).

Ia juga menyoroti dampak kebijakan yang dinilai mengganggu aktivitas ekonomi, termasuk pembebasan pajak kendaraan bermotor yang dinilai melemahkan kepatuhan pajak.

Baca Juga:  Janji Perbaikan Jembatan Cicangor Meleset, Dedi Mulyadi Disebut 'Asbun'

“Tidak adanya aktivitas dinas luar, kunjungan sekolah, studi banding—itu berdampak. Pembebasan pajak kendaraan seharusnya untuk yang patuh bayar, bukan yang menunggak,” tegasnya.

Menurutnya, serba-serbi kebijakan tersebut berkontribusi terhadap pelemahan ekonomi, baik dari sisi mikro maupun makro. Sektor seperti ekspor dan usaha kecil pun turut terdampak.

Saran Kebijakan: Percepat Lelang dan Diversifikasi Penerimaan

Meski demikian, Acuviarta tetap melihat bahwa realisasi anggaran Jabar “masih berada di jalur yang benar” meskipun di bawah persentase tahun-tahun sebelumnya.

“Dibutuhkan percepatan yang lebih agresif, terutama terkait proses lelang atau pengadaan barang dan jasa,” jelasnya.

Ia menyarankan agar Pemprov Jabar tidak hanya mengandalkan pajak kendaraan, melainkan mengoptimalkan sektor lain seperti pajak air permukaan dan bahan bakar minyak.

Selain itu, implementasi Perpres No. 1 Tahun 2025 dinilai turut berpengaruh pada ritme belanja karena mendorong efisiensi dan realokasi anggaran.

“Pak Gubernur KDM sudah melakukan pembaharuan kebijakan fiskal, tapi implementasinya butuh waktu transisi,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

APBD Jabar Dedi Mulyadi ekonomi jawa barat HL Tito Karnavian
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi video syur

Bisnis Live Pornografi Raup Rp 750 Juta, Polda Jabar Tangkap 2 Tersangka

Diduga Mabuk, Pemotor 15 Tahun Hilang Kendali di Jalan AH Nasution

Diduga Microsleep! Brio Seruduk 3 Kendaraan di Depan UIN Bandung

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos November 2026 Cair! Satu Keluarga Bisa Dapat Rp1,5 Juta Lebih

Detik-detik Kirmir Cihampelas Jebol, Warga Panik Air Masuk Rumah

Berani Lawan Arus? Sang Gladiator Turun Gunung Bongkar Blunder Artis di Bundaran HI

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Berkas Kasus UU ITE Bambang Soeharto Hampir Rampung, Simalango Law Firm Soroti Langkah Tersangka Lapor Balik Saksi
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.