bukamata.id – Di tengah derasnya arus konten media sosial yang datang silih berganti, sebuah video sederhana justru berhasil mencuri perhatian jutaan pasang mata.
Bukan karena efek visual atau tren yang sedang populer, melainkan karena sosok seorang nenek berusia 91 tahun yang dengan tenang memperkenalkan restoran keluarganya di Bandung menggunakan bahasa Belanda, lalu berpindah ke bahasa Jawa dengan sangat fasih.
Video tersebut dibagikan oleh sang cucu melalui akun TikTok @anne__mutiara dan kemudian ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Banyak warganet mengaku terpukau melihat kemampuan berbahasa sang nenek yang masih sangat lancar di usianya yang telah menginjak lebih dari sembilan dekade.
Namun, di balik kefasihan berbahasa itu, tersimpan perjalanan hidup yang jauh lebih menarik. Sosok yang akrab disapa Oma Phonie ternyata bukan hanya seorang nenek yang viral di media sosial, melainkan penjaga memori lintas benua yang kini berusaha mewariskan sejarah keluarganya melalui sajian kuliner.
Siapa Oma Phonie?
Oma Phonie merupakan perempuan kelahiran Paramaribo, Suriname, sebuah negara kecil di pesisir utara Amerika Selatan yang memiliki sejarah panjang dengan Kerajaan Belanda.
Suriname memiliki ikatan erat dengan Indonesia karena pada masa kolonial Belanda, ribuan orang Jawa dibawa ke negara tersebut sebagai pekerja kontrak. Hingga kini, keturunan Jawa masih menjadi salah satu komunitas terbesar di Suriname dan tetap mempertahankan bahasa, tradisi, hingga berbagai resep makanan khas Nusantara.
Oma Phonie lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Paramaribo. Baru pada usia sekitar 15 tahun, ia kembali ke Indonesia.
Meski telah puluhan tahun tinggal di Tanah Air, kenangan masa kecil di Suriname ternyata masih begitu melekat dalam ingatannya. Bahkan di usia 91 tahun, ia masih mampu berbicara dalam bahasa Belanda dengan sangat lancar.
Tak hanya itu, Oma Phonie juga fasih menggunakan bahasa Jawa, menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa ketiganya.
Keunikan inilah yang membuat banyak orang kagum saat menyaksikan videonya.
Viral karena Bahasa, Dikenal karena Ceritanya
Dalam video yang viral tersebut, Oma Phonie tidak sekadar memperkenalkan restoran.
Ia bercerita dengan intonasi yang tenang, penuh senyum, dan menggunakan bahasa Belanda seolah sedang mengajak penonton menyusuri perjalanan hidupnya. Setelah itu, ia berganti menggunakan bahasa Jawa tanpa terlihat kesulitan sedikit pun.
Banyak warganet mengaku bukan hanya kagum dengan kemampuan bahasanya, tetapi juga merasakan kehangatan dari cara Oma Phonie bertutur.
Kolom komentar pun dipenuhi pujian.
“Memori oma bagus banget,” tulis akun @stw***.
“Tar mau kasih liat nenekku ah, tuh nek nenek orang lain bisa Bahasa Belanda,” komentar akun @cof***.
“Cukup fluent ikii bahasa Belandanya omaa,” tulis akun @mhd***.
Tak sedikit pula yang mengaku baru mengetahui bahwa masih ada keturunan Jawa asal Suriname yang tetap mempertahankan kemampuan berbahasa Belanda hingga usia lanjut.
Menjaga Warisan Resep Sang Ibu
Di balik viralnya video tersebut, tersimpan misi yang jauh lebih besar.
Sang cucu bersama Oma Phonie mendirikan Ernestine Restaurant atau Seroja Ernestine, sebuah restoran yang mengangkat perpaduan cita rasa Belanda dan Jawa.
Restoran ini bukan sekadar tempat makan.
Lebih dari itu, restoran tersebut menjadi ruang untuk mengarsipkan berbagai resep keluarga yang diwariskan turun-temurun sejak Oma Phonie masih tinggal di Suriname.
Banyak resep yang berasal langsung dari sang ibu dan selama puluhan tahun hanya hidup dalam ingatan keluarga.
Kini, resep-resep itu dihidupkan kembali agar tidak hilang ditelan zaman.
Melalui restoran tersebut, keluarga berharap generasi berikutnya tidak hanya mengenal kisah Oma Phonie, tetapi juga dapat menikmati cita rasa yang menjadi bagian dari sejarah hidupnya.
Halaman Rumah yang Menyimpan Kenangan Suriname
Kenangan tentang kampung halaman ternyata tidak hanya hadir melalui makanan.
Di halaman rumah Oma Phonie, tumbuh berbagai tanaman yang bibitnya dibawa langsung dari Suriname.
Beberapa di antaranya bahkan masih terdengar asing bagi masyarakat Indonesia.
Ada cabai Madame Jeanette, cabai khas Suriname yang memiliki rasa pedas berpadu sedikit asam.
Ada pula terong antruwa, sayuran dengan cita rasa pahit yang biasa disantap bersama olahan ikan.
Tanaman-tanaman tersebut menjadi pengingat bahwa meski telah puluhan tahun tinggal di Indonesia, sebagian hati Oma Phonie masih tertinggal di Paramaribo.
Bahasa Belanda Masih Melekat dalam Ingatan
Menurut sang cucu, ketika berdiskusi mengenai berbagai resep masakan, Oma Phonie justru lebih mudah menjelaskan nama bumbu maupun sayur dalam bahasa Belanda.
Sering kali ia harus berhenti sejenak untuk mengingat padanan kata dalam bahasa Indonesia.
Hal itu bukan tanpa alasan.
Sejak kecil hingga remaja, bahasa sehari-hari Oma adalah bahasa Belanda dan Jawa.
Sementara bahasa Indonesia baru dipelajari setelah kembali menetap di Tanah Air.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana memori bahasa pertama seseorang dapat bertahan sangat lama, bahkan ketika usia terus bertambah.
Mengungkap Jejak Sejarah Ernestine Restaurant
Perjalanan keluarga Oma Phonie tidak berhenti pada cerita kuliner.
Bangunan yang kini menjadi lokasi Ernestine Restaurant di Jalan Ganesa Nomor 4, Bandung, ternyata juga menyimpan kisah sejarah yang menarik.
Berdasarkan penelusuran keluarga melalui arsip daring dan dokumen sejarah, bangunan tersebut diduga pernah berkaitan dengan keluarga Ernestine Wilhelmina dan Ernestine Helena, yang diketahui tinggal di Bandung pada sekitar tahun 1910 hingga awal 1940-an.
Melalui sebuah obituari daring, keluarga berhasil terhubung dengan Melissa, cucu dari Ernestine Helena.
Dari berbagai korespondensi yang dilakukan, diketahui bahwa Ernestine Helena memang pernah tinggal dan menikah di Bandung.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti yang memastikan apakah bangunan tersebut benar-benar pernah menjadi tempat tinggal keluarga tersebut.
Karena itu, keluarga masih membuka ruang bagi para sejarawan maupun pengarsip Kota Bandung yang memiliki dokumentasi atau foto-foto lama kawasan Jalan Ganesa pada periode 1920 hingga 1980-an.
Bukan Sekadar Restoran, tetapi Arsip Kehidupan
Bagi keluarga, Ernestine Restaurant bukan hanya tempat menjual makanan.
Restoran ini merupakan cara sederhana untuk menjaga agar kisah Oma Phonie tetap hidup.
Setiap resep, setiap bumbu, hingga setiap cerita yang disampaikan Oma menjadi bagian dari upaya mengarsipkan sejarah keluarga yang membentang dari Suriname hingga Bandung.
Di era ketika banyak tradisi keluarga perlahan menghilang, kisah Oma Phonie menjadi pengingat bahwa warisan tidak selalu berupa benda berharga.
Ia bisa hadir dalam sepiring makanan, sepotong cerita, atau bahasa yang tetap diingat dengan fasih meski usia telah mencapai 91 tahun.
Itulah yang membuat sosok Oma Phonie bukan sekadar viral karena mampu berbicara bahasa Belanda, tetapi juga menginspirasi banyak orang tentang pentingnya menjaga identitas, sejarah keluarga, dan warisan budaya agar terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










