bukamata.id – Sebuah karya seni tak selalu lahir dari sapuan kuas dan warna-warni cat. Buktinya, seniman lokal Dhony Riz justru memanfaatkan sesuatu yang setiap hari hadir di sekitar manusia, yakni sinar matahari.
Melalui akun Instagram @dhonyriz, Dhony memperlihatkan proses pembuatan sejumlah potret menggunakan teknik yang tidak biasa. Ia tidak melukis permukaan kayu dengan cat, melainkan membakarnya secara perlahan menggunakan panas matahari yang difokuskan melalui kaca pembesar.
Teknik tersebut dikenal sebagai solar pyrography atau kerap disebut solar painting. Metode ini memanfaatkan energi panas dari sinar matahari yang dikumpulkan lensa hingga terpusat pada satu titik.
Titik panas tersebut kemudian digunakan untuk menggores sekaligus menggelapkan permukaan kayu. Dengan mengatur posisi lensa, durasi pembakaran, serta pergerakan titik fokus, seniman dapat membentuk garis, bayangan, hingga gradasi warna yang menyerupai sebuah lukisan.
Salah satu karya Dhony yang mencuri perhatian adalah potret Chester Bennington, vokalis grup musik Linkin Park yang meninggal dunia pada 2017.
Potret tersebut menjadi menarik bukan hanya karena sosok yang digambarkan, tetapi juga karena proses pembuatannya. Wajah Chester dibentuk melalui jejak bakaran pada permukaan kayu, tanpa menggunakan setetes pun cat.
Membakar Kayu dengan Panas Matahari
Dalam teknik solar pyrography, kaca pembesar berfungsi seperti alat untuk mengonsentrasikan energi matahari. Ketika sinar matahari melewati lensa, cahaya dikumpulkan pada satu titik sehingga menghasilkan panas yang cukup tinggi untuk membakar permukaan media.
Kayu menjadi salah satu media yang banyak digunakan karena perubahan warna akibat pembakaran dapat menghasilkan karakter visual yang khas.
Semakin lama titik fokus berada pada satu bagian, warna permukaan kayu dapat berubah semakin gelap. Sebaliknya, pembakaran yang lebih singkat atau lebih ringan dapat menghasilkan warna cokelat tipis yang kemudian dimanfaatkan sebagai bayangan dan gradasi.
Karena itu, teknik ini membutuhkan kontrol yang sangat presisi.
Kesalahan kecil ketika menggerakkan kaca pembesar dapat mengubah bentuk garis atau membuat bagian tertentu menjadi terlalu gelap. Berbeda dengan lukisan menggunakan aplikasi digital, bagian yang sudah terbakar tentu tidak bisa begitu saja dikembalikan ke kondisi semula.
Kondisi tersebut membuat proses pengerjaan solar pyrography membutuhkan kesabaran sekaligus konsentrasi tinggi.
Harus Berhadapan dengan Terik Matahari
Tantangan lain datang dari sumber panas yang digunakan. Karena mengandalkan matahari, seniman tidak hanya dituntut teliti terhadap media, tetapi juga harus menyesuaikan proses dengan kondisi lingkungan.
Posisi matahari terus berubah sehingga titik fokus lensa ikut bergeser. Perubahan awan dan intensitas cahaya juga dapat memengaruhi panas yang diterima permukaan kayu.
Artinya, proses membuat satu gambar bukan sekadar soal mengarahkan kaca pembesar ke papan kayu. Setiap gerakan harus diperhitungkan agar garis dan tingkat kegelapan yang dihasilkan tetap sesuai dengan rancangan.
Tak heran jika proses Dhony membuat potret dengan teknik tersebut kemudian mendapatkan perhatian warganet.
Komentar mengenai proses pembuatan karya itu muncul di kolom komentar unggahan Instagram @ussfeeds.
“Gak salfok sm hasilnya tapi effort abangnya ditengah teriknya matahari kudu fokus lan sabar.. Joss,” tulis akun @ezz***.
“Kesabaran dan presisi tingkat tinggi..” tulis akun @tem***.
Sementara akun @rav*** menyoroti tingkat kesulitan teknik tersebut.
“Respect sama seniman kayak gini,kalau salah ga bisa undo,harus cari jalan lain agar tetep bisa lanjut,” tulisnya.
Dhony Riz dan Seni yang Memanfaatkan Energi Matahari
Dhony Riz dikenal melalui karya-karyanya yang menggunakan teknik pembakaran dengan memanfaatkan energi matahari. Potret Chester Bennington menjadi salah satu karya yang membuat teknik tersebut kembali mendapat perhatian di media sosial.
Keunikan karyanya terletak pada cara sebuah gambar dibuat. Jika pada umumnya potret dikerjakan menggunakan pensil, tinta, cat, atau perangkat digital, Dhony menggunakan panas matahari sebagai “alat gambar”.
Teknik ini sekaligus menunjukkan bahwa energi matahari dapat dimanfaatkan menjadi bagian dari proses kreatif.
Dalam praktiknya, seniman harus menentukan bagian mana yang perlu dibakar lebih lama untuk menciptakan bayangan dan bagian mana yang cukup diberi jejak panas tipis untuk menghasilkan area terang.
Perbedaan intensitas tersebut kemudian membentuk dimensi pada wajah dan objek yang digambar.
Bukan Teknik Baru
Meski terlihat unik, solar pyrography bukanlah teknik seni yang sepenuhnya baru.
Salah satu seniman yang dikenal menggunakan teknik tersebut adalah Jordan Mang-osan, seniman asal Cordillera, Filipina. Ia dikenal mengembangkan karya pirografi dengan memanfaatkan sinar matahari untuk menggambar berbagai objek, termasuk lanskap, budaya, dan kehidupan masyarakat di wilayah dataran tinggi.
Teknik yang digunakan Jordan memiliki prinsip serupa, yakni memanfaatkan kaca pembesar untuk memusatkan sinar matahari hingga menghasilkan panas yang mampu membakar permukaan media.
Konsep sederhananya adalah mengubah cahaya menjadi panas, kemudian mengubah panas tersebut menjadi garis dan warna pada media.
Ketika Matahari Menjadi “Kuas”
Solar pyrography pada akhirnya menawarkan cara pandang berbeda terhadap proses berkarya.
Kaca pembesar bukan sekadar benda untuk memperbesar objek. Di tangan seniman, benda tersebut menjadi instrumen yang mengendalikan panas. Matahari bukan hanya sumber cahaya, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembentukan gambar.
Sementara kayu yang biasanya menjadi material bangunan atau furnitur, dapat berubah menjadi media visual yang menyimpan potret seseorang melalui jejak pembakaran.
Karya Dhony memperlihatkan bahwa keterbatasan alat justru dapat melahirkan pendekatan kreatif yang berbeda. Tidak ada warna yang dituangkan dari botol cat dan tidak ada kuas yang menyapu permukaan kayu.
Yang ada adalah sinar matahari, sebuah lensa, sebidang kayu, serta ketelitian untuk mengatur titik fokus.
Di situlah tantangan sekaligus daya tarik solar pyrography. Setiap garis yang muncul merupakan hasil dari perhitungan waktu, panas, jarak, gerakan, dan kondisi cahaya.
Kesalahan tidak mudah diperbaiki. Karena itu, setiap bagian dari potret yang berhasil terbentuk menjadi rekaman dari kesabaran sang seniman dalam mengendalikan energi matahari.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










