bukamata.id – Dunia maya baru-baru ini digemparkan oleh kemunculan akun TikTok @nia.hajar_s yang menampilkan sosok penceramah bernama ‘Ustazah Hajar’. Akun yang telah mengantongi 1 juta pengikut dan mengumpulkan 12,1 juta suka tersebut mendadak jadi buah bibir. Pasalnya, figur pemuka agama yang tampak fasih berdakwah di depan mikrofon itu ternyata bukanlah manusia darah daging, melainkan produk rekayasa Artificial Intelligence (AI).
Kemiripan visual yang begitu mendekati kenyataan membuat banyak warganet terkecoh dan mengira sang ustazah adalah sosok nyata. Fenomena ini pun memicu riak kekhawatiran di masyarakat, khususnya terkait isu pertanggungjawaban moral. Publik cemas apabila narasi keagamaan atau tafsir yang disampaikan keliru, tidak ada figur konkret yang bisa dimintai klarifikasi.
Menanggapi kehebohan tersebut, pakar komunikasi digital dan pengamat budaya, Firman Kurniawan, memberikan konfirmasinya bahwa figur tersebut murni hasil fabrikasi teknologi. Ia pun membagikan tips sederhana untuk mengidentifikasi apakah sosok dalam video merupakan manusia asli atau tiruan digital, salah satunya lewat ketukan suara.
“Suaranya itu intonasinya sangat teratur, rapi. Kalau orang ngomong itu kan kadang ada jeda, ada mikir. Ini runtut dan temponya itu sangat teratur. Nah ini terlihat kalau itu fabrikasi, itu buatan artificial intelligence,” terang Firman.
Tiga Pemicu Menjamurnya Konten Rekayasa Digital
Menurut analisis Firman, ledakan konten berbasis kecerdasan buatan di media sosial saat ini didorong oleh tiga faktor utama. Pemicu pertama adalah faktor ekonomi, di mana akses terhadap teknologi ini kian ramah kantong. Banyak pengembang yang kini menyediakan fitur canggih tersebut secara cuma-cuma kepada publik.
Faktor kedua berkaitan dengan tingkat kemudahan pengoperasian. Firman menilai masyarakat awam tidak lagi membutuhkan pelatihan formal untuk membuat konten semacam ini. Cukup dengan mempelajari video panduan di YouTube secara otodidak, siapa pun kini bisa memproduksi visual digital yang komunikatif.
Terakhir, kualitas visual dan audio yang dihasilkan oleh sistem AI modern sudah berada di tahap yang sangat mengagumkan, sehingga batas antara realitas dan simulasi menjadi sangat tipis.
“Nah, itu tiga-tiganya itu memancing orang untuk menggunakan secara masif di berbagai macam kegiatan,” sambung Firman.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News







