bukamata.id – Warga dunia maya baru-baru ini digemparkan oleh kemunculan sebuah video pendek yang menjajakan layanan gaib komersial, mulai dari pelet hingga santet berbayar. Ironisnya, ritual mistis tersebut latar belakangnya memperlihatkan keindahan panorama tebing karang dan deburan ombak laut selatan yang diyakini kuat berada di kawasan wisata Pantai Karang Hawu, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
Di dalam rekaman berdurasi singkat yang berseliweran di berbagai platform digital itu, tampak jelas deretan sesajen di atas nampan, kepulan asap kemenyan yang pekat, buah kelapa muda, hingga mangkuk wadah dupa tersusun rapi di atas batu karang terjal yang langsung menghadap ke Samudra Hindia.
Tidak hanya itu, tayangan tersebut juga dibubuhi narasi teks daftar harga jasa ilmu hitam yang terbilang fantastis. Mulai dari layanan santet kematian yang dipatok seharga Rp3.000.000, santet membuat orang sakit senilai Rp2.000.000, santet pengganggu kejiwaan Rp1.000.000, hingga pelet pemikat sukma seperti puter giling seharga Rp400.000.
Warga Kenali Sudut Tebing Karang
Meskipun isi videonya mengundang kontroversi, sejumlah warga lokal langsung mengenali karakteristik lanskap tempat kejadian dalam video tersebut. Jaka, salah seorang warga Cisolok, mengakui sudut pengambilan visual sangat identik dengan salah satu titik di Karang Hawu.
“Dari lokasi ada kemiripan, diambil di salah satu sudut di Karang Hawu. Karena arahnya ke laut, pas kamera mengarah ke kanan terlihat perbukitan Puncak Habibie,” ungkap Jaka saat dimintai keterangan pada Kamis (17/9/2026).
Pernyataan serupa disampaikan oleh Nanan, seorang relawan yang sehari-hari beraktivitas di sekitar pesisir Karang Hawu. Menurut pengamatannya, posisi tebing batu dalam video terletak di bagian bawah sisi kanan yang mengarah ke area perkebunan kelapa.
“Kalau dilihat posisinya itu di tebing bawah, sebelah kanan yang mengarah ke kebun kelapa, yang ada rongga atau gua karang. Dulu zaman dulu sempat dipakai jualan kopi di atasnya, tapi sekarang sudah terkikis ombak. Sudah hampir 20 tahun lebih tidak ada aktivitas warga naik ke situ karena rawan tersapu ombak,” ujar Nanan memaparkan kondisi medan yang berbahaya.
Kendati demikian, Nanan mencurigai bahwa video viral tersebut hanyalah konten daur ulang atau hasil comot dari rekaman lama milik pihak lain yang sengaja disusupi tulisan provokatif demi mendulang atensi warganet atau melancarkan aksi penipuan online.
“Kayaknya itu video orang lain yang ditempeli tulisan (tarif santet). Di sini warga atau orang spiritual tidak pernah ada yang jualan jasa santet begitu, nggak ada. Di Karang Hawu mah orang datang paling hanya tawasulan, ziarah biasa,” tegasnya.
Kepala Desa Beri Reaksi Keras
Mengetahui wilayahnya terseret dalam narasi negatif perdagangan ilmu hitam, Kepala Desa Cisolok, Hendi Sunardi, langsung bereaksi keras. Ia secara terbuka mengecam dan membantah keberadaan praktik komersialisasi santet di destinasi wisata yang dipimpinnya.
“Jelas nggak setuju, mana ada kayak begitu. Kalaupun betul ada yang sengaja buka praktik seperti itu, nanti akan saya cari orangnya siapa. Itu sesat kalau sampai pasang tarif santet begitu,” kata Hendi saat dihubungi awak media.
Hendi menduga konten tersebut dibuat oleh oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan kemajuan teknologi digital untuk menyunting video pemandangan alam lalu menempelkan narasi fiktif demi mencari sensasi semata.
Ia menegaskan, Pantai Karang Hawu selama ini memiliki marwah yang sakral dan bersih dari praktik kejahatan mistis komersial. Kawasan tersebut murni difungsikan sebagai objek wisata alam sekaligus titik wisata religi bagi para peziarah yang hendak melakukan tawasul sesuai koridor yang wajar.
“Di sana mah murni wisata religi, syariat tawasul, bukan untuk hal-hal yang begitu. Terkait juru kunci di sana pun dari pihak desa dulu sifatnya hanya memberikan surat tugas agar tertib dan tidak liar. Jadi kalau ada narasi santet berbayar seperti itu, warga lokal tidak pernah ada,” pungkas Hendi menutup penjelasan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










