Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Demo Jakarta

Siap-siap Macet! Ini Titik Demonstrasi Jakarta 20 Oktober dan Jalur Pintasnya

Selasa, 20 Oktober 2026 12:16 WIB

Ribuan Mahasiswa Demo di Bandung Hari Ini, Jalan Asia Afrika dan DPRD Jabar Jadi Sasaran

Selasa, 20 Oktober 2026 12:02 WIB

Jadwal Liga Champions 2026/2027 Pekan Ini: PSG vs Barcelona, Bayern vs Arsenal

Selasa, 20 Oktober 2026 11:43 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Siap-siap Macet! Ini Titik Demonstrasi Jakarta 20 Oktober dan Jalur Pintasnya
  • Ribuan Mahasiswa Demo di Bandung Hari Ini, Jalan Asia Afrika dan DPRD Jabar Jadi Sasaran
  • Jadwal Liga Champions 2026/2027 Pekan Ini: PSG vs Barcelona, Bayern vs Arsenal
  • Tiga Laga Menanti Persib, Ini Strategi Igor Tolic Hadapi Jadwal Padat
  • Harga Emas Antam Hari Ini 20 Oktober 2026 Turun Rp10.000, Cek Daftar Lengkap
  • Sama-Sama Tercekik Biaya Hidup! Warga Prancis Berani Runtuhkan Kota, Rakyat RI Cuma Sibuk Mode Bertahan?
  • Persib Mengancam di Posisi 5 Besar! Ini Kalkulasi Peluang Maung Bandung Geser Macan Kemayoran
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 20 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Iran Meledak! Rakyat Kelaparan, Rial Ambruk, Rezim Khamenei di Ujung Tanduk?

By SusanaRabu, 14 Januari 2026 08:00 WIB4 Mins Read
Mata uang Iran. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Iran menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam sejarah modernnya. Nilai mata uang nasional, rial, jatuh ke level terendah sepanjang masa, membuat harga kebutuhan pokok meroket dan mendorong rakyat turun ke jalan.

Krisis ini memicu gelombang protes besar-besaran yang menyatukan pedagang, mahasiswa, pekerja, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya.

Protes Dimulai dari Pedagang, Meluas ke Seluruh Rakyat

Gelombang kemarahan pertama muncul pada akhir Desember 2025, ketika pedagang dan pemilik toko di Teheran turun ke jalan menuntut perbaikan ekonomi.

Mereka menuduh pemerintah gagal mengelola situasi, terutama saat harga barang-barang impor seperti gandum, minyak goreng, dan obat-obatan meningkat tajam. Lima tahun kekeringan juga merusak produksi pangan lokal, membuat Iran semakin bergantung pada impor mahal.

Tidak lama kemudian, protes meluas ke mahasiswa, pekerja, dan kelompok masyarakat lain, dengan tuntutan yang semakin luas: selain perbaikan ekonomi, demonstran juga menuntut perubahan sistem Republik Islam yang dipimpin Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

“Krisis ini bukan hanya soal harga barang, tapi juga tentang rasa keadilan dan pemerintahan yang transparan,” kata seorang mahasiswa Universitas Teheran yang ikut berdemo.

Inflasi dan Kekurangan Barang Membakar Kemarahan Publik

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), inflasi di Iran diperkirakan mencapai 42 persen pada 2025, naik signifikan dari 33 persen pada 2024. Sebelum kenaikan harga terbaru, banyak warga Iran sudah kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Media lokal melaporkan pada 2022 bahwa setengah populasi mengonsumsi kalori di bawah standar minimum.

Kemarahan publik semakin meluas akibat polusi parah, kekurangan listrik dan gas, serta pengelolaan sumber daya alam yang buruk.

Pada Desember 2025, pemerintah menaikkan harga bensin dan mengubah subsidi bahan bakar, menambah beban biaya rumah tangga dan bisnis, memicu gelombang protes yang lebih besar.

Faktor di Balik Melemahnya Nilai Rial

Rial Iran telah tertekan bertahun-tahun akibat kombinasi sanksi Barat, korupsi sistemik, dan turunnya harga minyak dunia. Pada 2025, nilai rial melemah sekitar 45 persen terhadap dolar AS, memaksa warga menukar tabungan mereka ke mata uang asing, emas, atau properti.

Harga minyak Brent turun 18 persen menjadi sekitar 60 dolar AS per barel, jauh di bawah harga seimbang anggaran yang diperkirakan IMF sebesar 165 dolar AS per barel.

Selain itu, sistem kurs ganda dan nilai tukar khusus untuk pihak tertentu memicu korupsi dan rasa ketidakadilan. Meskipun Iran memiliki cadangan minyak besar, sanksi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya membatasi ekspor resmi.

Sanksi ini dimulai setelah Revolusi Islam 1979, diperluas untuk menekan program nuklir, dan kembali diperkuat setelah keluarnya AS dari kesepakatan nuklir 2015.

Dampak Sanksi dan Ketergantungan pada Impor

Akibat sanksi, investasi asing dan teknologi modern hampir tidak masuk ke Iran. Banyak perusahaan dan merek internasional hengkang, industri domestik melemah, infrastruktur rusak, pertanian terhambat kekurangan air, dan sebagian besar barang konsumsi diproduksi oleh perusahaan milik negara atau yayasan besar yang dekat dengan kekuasaan.

Ekspor minyak tetap menjadi tulang punggung ekonomi, sebagian besar dijual ke China melalui jalur perdagangan tidak resmi dengan diskon besar.

Protes Berbeda dari Masa Lalu

Berbeda dengan protes sebelumnya seperti kematian Mahsa Amini (2022) atau jatuhnya pesawat Ukraina (2020), protes 2026 dipicu oleh krisis ekonomi nyata: inflasi tinggi dan kebutuhan pokok yang tidak terjangkau. Akses media sosial yang semakin mudah membuat warga lebih berani menyuarakan kritik terhadap elit penguasa.

Pemimpin Tertinggi Khamenei menuntut tindakan keras terhadap “perusuh”, sementara aparat keamanan menangkap banyak demonstran. Aktivis HAM melaporkan setidaknya 36 orang tewas.

Namun, media pemerintah tetap menayangkan liputan protes dengan sensor ketat, menandakan sedikit kelonggaran kontrol. Presiden Masoud Pezeshkian bahkan mengakui tuntutan demonstran sah dan meminta aparat tidak menyerang aksi damai.

Gelombang Protes Meluas dan Slogan Bergeser

Aksi yang awalnya menuntut perbaikan ekonomi kini berubah menjadi gerakan politik yang menantang sistem penguasa. Slogan awal “Kami lapar!” bergeser menjadi “Mati bagi diktator!” dan dukungan terhadap oposisi di pengasingan mulai muncul.

Gelombang protes meluas ke lebih dari 285 lokasi di seluruh 31 provinsi, termasuk kota besar seperti Mashhad, Isfahan, dan Tabriz. Aliansi lintas kelas muncul antara mahasiswa, buruh, dan pedagang yang sebelumnya jarang bersatu.

Ancaman Tekanan Internasional

Situasi Iran tidak bisa dilepaskan dari geopolitik global. Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih dan kebijakan “Maximum Pressure 2.0” meningkatkan tekanan. Dalam pernyataan terbaru, Trump memperingatkan: “Jika mereka terus membantai rakyatnya sendiri, Amerika tidak akan tinggal diam.”

Sebagai respons, pemerintah Iran memutus total koneksi internet di beberapa wilayah dan mengerahkan Garda Revolusi ke titik vital.

Namun, ada indikasi keretakan di internal pemerintahan, antara pendekatan represif Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad dan pengakuan Presiden Pezeshkian atas tuntutan rakyat yang sah.

Masa Depan Iran di Ujung Tanduk

Sejarah menunjukkan revolusi yang dipicu kelaparan sulit dipadamkan hanya dengan kekerasan. Jika Teheran tidak mampu menstabilkan nilai rial atau mendapatkan bantuan internasional, gelombang protes Januari 2026 bisa menjadi awal dari keruntuhan sistemik yang telah bertahan hampir setengah abad.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Demo Jakarta

Siap-siap Macet! Ini Titik Demonstrasi Jakarta 20 Oktober dan Jalur Pintasnya

Ribuan Mahasiswa Demo di Bandung Hari Ini, Jalan Asia Afrika dan DPRD Jabar Jadi Sasaran

Sama-Sama Tercekik Biaya Hidup! Warga Prancis Berani Runtuhkan Kota, Rakyat RI Cuma Sibuk Mode Bertahan?

Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga

Ancaman Asap Karhutla Belum Usai, Kasus ISPA Lampaui 300 Ribu Orang: Ini Daerah yang Paling Terdampak

Bantuan Subsidi Upah 2026 Total Rp900 Ribu, Kapan Cair ke Rekening Pekerja?

Terpopuler
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
  • Flexing Nikah Berbuah Hujatan! Nasib Tragis Juan dan Evelyn hingga Gulung Tikar dari Youtube!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.