Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Game Free Fire

Klaim Sekarang! Kode Redeem FF 2 Agustus 2026 Terbaru dan Cara Klaimnya

Minggu, 2 Agustus 2026 01:00 WIB

Temu Media di Bandung, Ledia Hanifa Bahas MBG hingga Pendidikan

Sabtu, 1 Agustus 2026 22:16 WIB

Dosen Ini Gunakan Trik untuk Bongkar 32 Mahasiswa yang Ketahuan Menyontek Pakai AI

Sabtu, 1 Agustus 2026 21:57 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Klaim Sekarang! Kode Redeem FF 2 Agustus 2026 Terbaru dan Cara Klaimnya
  • Temu Media di Bandung, Ledia Hanifa Bahas MBG hingga Pendidikan
  • Dosen Ini Gunakan Trik untuk Bongkar 32 Mahasiswa yang Ketahuan Menyontek Pakai AI
  • Daftar Lengkap 35 Cabang Olahraga yang Diikuti Kontingen Indonesia di Asian Games 2026
  • Ketika Negara Lain Punya Pahlawan Sendiri, Bogor Punya ‘The Sanitizer’ yang Bekerja dalam Senyap
  • Jalan Terjal Menuju Semifinal: Persija Bantai PSMS 4-1, Skenario El Clasico Kontra Persib di Depan Mata!
  • Duka Bertubi-tubi Hantam Pas Band, Kehilangan Beruntun dari Istri Personel hingga Trisnoize
  • Rumor Jay Idzes Diincar PSG, Benarkah Ada Ketertarikan dari Raksasa Prancis?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 2 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Jelang Deadline, Suara Rakyat Mengguncang: Salsa Tolak Keras Kenaikan BPJS

By Aga GustianaKamis, 4 September 2025 08:43 WIB5 Mins Read
Salsa Erwina
Salsa Erwina sosok yang tantang Ahmad Sahroni tentang tunjangan DPR. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Jelang tenggat waktu 5 September 2025, suara publik yang terangkum dalam gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat semakin nyaring. Salah satu yang ikut menyuarakan aspirasi tersebut adalah aktivis media sosial, Salsa Erwina Hutagalung, yang menegaskan agar pemerintah tidak menaikkan iuran BPJS Kesehatan di tengah kondisi ekonomi rakyat yang masih sulit.

“Bu Sri Mulyani sudah bilang pajak tidak naik di 2026, hidup bu! Tapi jangan sampai di 2025 justru dinaikkan, sama saja bohong. Dan satu lagi, jangan sampai BPJS juga naik, nanti bosku marah besar,” ujar Salsa dalam unggahan videonya di media sosial dikutip Kamis (4/9/2025).

Deadline 17 Tuntutan Jangka Pendek

Tenggat waktu pemenuhan 17 tuntutan jangka pendek akan jatuh pada 5 September 2025, hanya beberapa hari setelah gelombang demonstrasi mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil merebak sejak akhir Agustus.

Beberapa poin mendesak yang menjadi sorotan antara lain:

  • Pengungkapan tuntas kasus kematian Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas dalam aksi demonstrasi.
  • Hentikan kriminalisasi aksi damai dan bebaskan seluruh demonstran yang ditahan.
  • Pembekuan kenaikan tunjangan DPR serta transparansi penggunaan anggaran.
  • Komitmen partai politik memberi sanksi kepada kader yang arogan atau menghina masyarakat.
  • Upah layak untuk seluruh pekerja, termasuk guru, tenaga kesehatan, buruh, dan mitra ojek online.

“Skripsi sudah dijokiin, tinggal kalian jalankan saja. Rakyat sudah rapat, bikin alignment, bikin rancangan, kalian tinggal gerak mencapai apa tuntutan-tuntutan yang kita kasih gitu,” sindir Salsa.

Kritik untuk Partai Politik

Salsa juga menyinggung soal sikap partai politik, khususnya PDIP, yang dinilai lamban dalam memberikan sanksi pada kader yang dianggap merugikan rakyat.

“Tinggal PDIP sampai saat ini belum dipecat nih. Padahal partai-partai lain dengan legowo mereka sudah memecat kader-kadernya. Ini seperti makan gaji buta,” ucapnya.

Menurutnya, hal itu justru bisa menjadi “batu sandungan” bagi elektabilitas partai di Pemilu 2029 mendatang.

Desakan Segera Sahkan RUU Perampasan Aset

Selain kritik ke partai, Salsa juga mendorong DPR untuk segera mengesahkan RUU Perampasan Aset Koruptor, yang sudah lama diperjuangkan oleh berbagai pihak.

“Sudah bertahun-tahun Bapak Mahfud dan juga rekan-rekan di KPK memperjuangkan ini. Jadi udah ada draftnya, udah diobrolin, ya kan tinggal disahkan saja tuh,” kata Salsa.

“Kalau dipikir-pikir kok ini biangnya PDIP lagi nih yang menghambat, apa bener nih? mereka sebenarnya mendukung aspirasi rakyat? jadi kuciwa hati bos di sini,” lanjutnya.

RUU ini menjadi salah satu dari 8 Tuntutan Jangka Panjang yang ditargetkan selesai sebelum 31 Agustus 2026, bersamaan dengan agenda reformasi DPR, reformasi perpajakan, penguatan Komnas HAM, hingga evaluasi UU Cipta Kerja.

Rakyat Tunggu Jawaban Pemerintah

Gelombang aspirasi rakyat yang dikemas dalam 17+8 Tuntutan Rakyat muncul setelah serangkaian aksi demonstrasi besar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Makassar.

Aksi ini dipicu oleh kontroversi kenaikan tunjangan DPR serta insiden meninggalnya Affan Kurniawan. Tragedi tersebut memicu kemarahan publik dan memperkuat desakan agar pemerintah serta DPR benar-benar mendengarkan suara rakyat.

17 Tuntutan Jangka Pendek (Deadline 5 September 2025)

Berikut adalah sejumlah tuntutan rakyat yang ditulis dalam unggahan Salsa Erwina Bersama influencer lainnya kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, termasuk di dalamnya seruan untuk melakukan reformasi terhadap lembaga DPR RI:

  1. Bentuk tim investigasi independen atas kematian Affan Kurniawan dan korban lainnya selama demontrasi 28- 30 Agustus 2025 dengan mandat jelas dan transparan.
  2. Hentikan keterlibatan TNI dalam pengamanan sipil kembalikan TNI ke barak.
  3. Bebaskan semua demonstran yang ditahan dan hentikan kriminalisasi aksi damai.
  4. Adili aparat keamanan yang terbukti melakukan kekerasan, secara transparan.
  5. Stop kekerasan oleh kepolisian, dan taati SOP pengendalian massa yang sudah tersedia.
  6. Bekukan kenaikan gaji/tunjangan DPR, batalkan fasilitas baru (termasuk pensiun).
  7. Publikasikan anggaran DPR secara terbuka dan berkala (gaji, tunjangan, rumah, fasilitas DPR).
  8. Audit harta kekayaan anggota DPR melalui KPK.
  9. Dorong Badan Kehormatan DPR memeriksa anggota yang menghina suara rakyat.
  10. Partai harus memberi sanksi ke kader yang bersikap arogan dan tak etis yang memicu kemarahan publik.
  11. Umumkan komitmen publik partai untuk membela rakyat di masa krisis.
  12. Anggota DPR wajib berdialog dengan mahasiswa dan masyarakat sipil guna meningkatkan partisipasi bermakna.
  13. Tegakkan disiplin internal TNI, agar anggota TNI tidak ambil alih fungsi Polri.
  14. Komitmen publik TNI untuk tidak memasuki ruang sipil selama krisis demokrasi.
  15. Pastikan upah layak untuk seluruh angkatan kerja (guru, nakes, buruh, dan mitra ojol).
  16. Cegah PHK massal, dan lindungi pekerja kontrak.
  17. Buka dialog langsung dengan serikat buruh soal upah dan outsourcing.

8 Tuntutan Jangka Panjang (Deadline 31 Agustus 2026)

  1. Bersihkan dan Reformasi DPR besar-besaran

Lakukan audit independen yang diumumkan ke publik. Tinggikan standar prasyarat anggota DPR (tolak mantan koruptor) dan tetapkan KPI untuk evaluasi kinerja. Hapuskan perlakuan istimewa, di antaranya pensiun seumur hidup, transportasi dan pengawalan khusus dan dipajak APBN

  1. Reformasi Partai Politik dan Kuatkan Pengawasan Eksekutif

Partai politik harus mempublikasikan laporan keuangan pertama dalam tahun ini dan DPR harus memastikan oposisi berfungsi sebagaimana mestinya.

  1. Susun Rencana Reformasi Perpajakan yang Lebih Adil

Pertimbangkan kembali keseimbangan transparan APBN dari pusat ke daerah; batalkan rencana kenaikan pajak yang memebratkan rakyat dan susun rencana reformasi perpajakan yang lebih detail.

  1. Sahkan dan Tegakkan UU Perampasan Aset Koruptor

DPR harus segera mengesahkan RUU Perampasan Aset dalam sidang tahun ini untuk menunjukkan komitmen serius memberantas korupsi, diiringi dengan penguatan independsi KPK dan UU Tipikor.

  1. Reformasi Kepolisian agar Profesional dan Humanis

DPR harus merevisi UU kepolisian. Desentralisasi fungsi polisi: ketertiban umum, keamanan, dan lalu lintas dalam 12 bulan sebagai langkah awal.

  1. TNI kembali ke Barak, Tanpa Pengecualian

Pemerintah harus mencabut mandat TNI dan proyek sipil seperti pertanian skala besar (food estate) tahun ini, dan DPR harus mulai revisi UU TNI.

  1. Perkuat Komnas HAM dan Lembaga Pengawasan Independen

DPR harus merevisi UU Komnas HAM untuk memperluas kewenangannya terhadap kebebasan berepkspresi. Presiden harus memperkuat Ombdsman serta Kompolnas.

  1. Tinjau Ulang Kebijakan Sektor Ekonomi dan Ketenagakerjaan

Tinjau serius kebijakan PSN dan prioritas ekonomi dengan melindungi hak masyarakat adat dan lingkungan. Evaluasi UU Ciptakerja yang memberatkan rakyat khususnya buruh, evaluasi audit tata kelola Danantara dan BUMN.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

17+8 Tuntutan BPJS Deadline 5 September demonstrasi dpr Kenaikan BPJS pemerintah Prabowo Salsa Erwina Tuntutan Rakyat
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Temu Media di Bandung, Ledia Hanifa Bahas MBG hingga Pendidikan

Viral Lautan Manusia Antar Jenazah Kades Pegiringan Pemalang, Terungkap Amalan Semasa Hidup

Daftar Harga Terbaru BBM Nonsubsidi Pertamina, Resmi Turun Per 1 Agustus 2026

Tanggal 1 Agustus Jatuh Hari Sabtu, Apakah Gaji Pensiunan PNS Tetap Cair? Ini Jawaban Taspen

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos Kemensos Tahap 3 2026 Cair! Cek NIK KTP Sekarang, Ada PKH dan BPNT Rp600 Ribu

Tantan Sulthon Bukhawan Resmi Maju Calon Ketua PWI Jabar, Bawa Program 1.000 UKW Gratis untuk Wartawan

Terpopuler
  • Rindang Jadi Beton! 9 Pohon di Cihapit Ditebang Demi Lapangan Padel?
  • Fakta Baru Satpam Tewas Terborgol di Waduk Jatiluhur: Polisi Tegaskan Belum Ada Tersangka
  • Dikenalkan Bos Hartono, Ini Sosok Dr. Veronica yang Bikin Irfan Hakim Penasaran Soal Akupunktur Telinga
  • Bandung Tak Lagi Aman? Sisi Gelap Geng Begal Malam Hari dan Tekanan Ekonomi Modern!
  • Rahasia Persib Tak Terkalahkan Terungkap, Igor Tolic Sebut Faktor Ini Jadi Kunci Lolos ke Semifinal
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.