Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
El Nino

Ribuan Hektare Sawah Sukabumi Terancam Puso: El Nino Picu Krisis Air di Lumbung Pangan Selatan

Jumat, 14 Agustus 2026 21:22 WIB

Modal Ngaku Intel dan Tuduh Bawa Narkoba, Pria Ini Gasak Uang Warga Rp600 Ribu

Jumat, 14 Agustus 2026 20:27 WIB

Persib Kena Sanksi Berat AFC, Denda Rp3,57 Miliar dan Dua Laga Tanpa Penonton

Jumat, 14 Agustus 2026 20:14 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ribuan Hektare Sawah Sukabumi Terancam Puso: El Nino Picu Krisis Air di Lumbung Pangan Selatan
  • Modal Ngaku Intel dan Tuduh Bawa Narkoba, Pria Ini Gasak Uang Warga Rp600 Ribu
  • Persib Kena Sanksi Berat AFC, Denda Rp3,57 Miliar dan Dua Laga Tanpa Penonton
  • Suarakan Jeritan Warga Garut Selatan, Band Metal VoB Soroti Jalan Rusak 10 Tahun
  • Spesial Kemerdekaan, Naik Bandros di Bandung Cuma Bayar Rp8 Pakai QRIS
  • Prabowo Sebut ‘Biadab’ Tapi MBG Lanjut Terus? Tragedi Keracunan Massal Karo Bikin Gempar!
  • Terungkap! Detik-detik Honda Ferio Tabrak Aiptu Asep Suhara hingga Terpental 8 Meter
  • Persib Tak Full Team Lawan Sabah FC, 5 Pemain Timnas Masih Absen
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 14 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Kaki Diamputasi saat Selebrasi? Kisah Bangkit Muhammad Fadli: Dari Aspal MotoGP ke Emas Asia

By SusanaSenin, 6 April 2026 19:25 WIB4 Mins Read
Muhammad Fadli Imammuddin, atlet sepeda para-cycling Indonesia. Foto: Instagram @pqwellness.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Nama Muhammad Fadli Imammuddin bukan sekadar atlet sepeda para-cycling Indonesia. Ia adalah simbol perubahan, keteguhan, dan kemampuan manusia untuk bangkit dari titik paling gelap dalam hidup.

Di usia 41 tahun, Fadli kembali mengibarkan Merah Putih di level Asia. Pada ajang Asian Para Track Championship 2026 di Tagaytay City, Filipina, ia meraih medali emas pada nomor men elite 1km time trial klasifikasi C4 dengan catatan waktu 1:12.095.

Namun di balik podium tertinggi itu, tersimpan perjalanan panjang penuh luka, kehilangan, dan kebangkitan luar biasa.

Kemenangan yang Tidak Datang dengan Mudah

Dalam balapan tersebut, Fadli harus menghadapi persaingan ketat. Ia mengalahkan Abdalla Albalooshi yang finis kedua, serta Abror Ibrayimov di posisi ketiga.

Namun, yang paling berat bukanlah lawan di lintasan, melainkan dirinya sendiri, mengendalikan emosi, tekanan, dan kondisi tubuh yang telah melalui perjalanan panjang pasca cedera.

Setelah kemenangan itu, Fadli menegaskan bahwa hasil tersebut bukan sekadar soal kecepatan, tetapi tentang ketenangan, fokus, dan rasa syukur.

Dari Dunia MotoGP ke Tragedi yang Mengubah Hidup

Sebelum dikenal sebagai atlet para-cycling, Fadli merupakan seorang pebalap motor berbakat Indonesia. Ia pernah bersaing di level nasional hingga Asia, bahkan mencicipi atmosfer Moto2 Kejuaraan Dunia MotoGP bersama tim JiR saat menggantikan pembalap utama yang cedera.

Kariernya di dunia balap motor bukan perjalanan singkat. Ia adalah juara nasional Supersport 600cc, dan dikenal sebagai salah satu talenta terbaik Indonesia di lintasan aspal.

Namun segalanya berubah pada tahun 2015.

Di Sirkuit Sentul, momen kemenangan berubah menjadi tragedi. Setelah finis sebagai juara dalam salah satu seri balapan Asia Road Racing Championship, Fadli mengalami kecelakaan serius ketika ditabrak dari belakang oleh pebalap lain.

Dampaknya fatal. Cedera parah di kaki kiri memaksanya menjalani operasi panjang, rekonstruksi, hingga akhirnya keputusan terberat dalam hidupnya harus diambil: amputasi kaki kiri pada awal 2016.

Keputusan Paling Berat: Kehilangan Kaki, Kehilangan Identitas Lama

Amputasi bukan hanya kehilangan fisik. Bagi Fadli, itu adalah kehilangan identitas sebagai pebalap motor profesional yang telah ia bangun sejak usia remaja.

Ia menjalani masa-masa sulit operasi, pemulihan panjang, dan tekanan psikologis yang tidak ringan. Namun di tengah kondisi itu, ia menemukan alasan untuk tetap bertahan: keluarga.

Kehadiran anak pertamanya menjadi titik balik emosional yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Dari situ, Fadli mulai menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu tentang apa yang hilang, tetapi tentang apa yang masih bisa diperjuangkan.

Bangkit dari Nol: Dari Kaki Prostetik ke Sepeda Kompetitif

Setelah amputasi, Fadli tidak langsung kembali ke dunia olahraga. Ia harus belajar berjalan ulang menggunakan kaki prostetik, menghadapi rasa sakit, kehilangan keseimbangan, hingga proses adaptasi yang tidak mudah.

Namun semangat kompetisi yang sudah mengalir sejak muda tidak pernah benar-benar hilang.

Ia mulai beralih ke sepeda, olahraga yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari latihan fisik saat masih menjadi pebalap motor. Perlahan, sepeda bukan lagi sekadar alat latihan, tetapi menjadi arena baru untuk membuktikan diri.

Tahun 2017 menjadi awal baru ketika ia dipanggil untuk memperkuat Indonesia di ajang para-cycling internasional.

Awal Baru di Paracycling dan Jalan Menuju Prestasi Asia

Perjalanan Fadli di dunia para-cycling tidak instan. Ia harus beradaptasi dengan kategori klasifikasi C4, memahami teknik baru, dan membangun kembali daya saing di level internasional.

Namun kerja keras itu membuahkan hasil. Ia mulai mengumpulkan medali di berbagai ajang, termasuk ASEAN Para Games 2025.

Puncaknya terjadi di Asian Para Track Championship 2026, ketika ia berhasil meraih emas dan kembali berdiri di podium tertinggi Asia.

Lebih dari Sekadar Medali: Kisah Ketahanan Mental

Bagi Fadli, kemenangan bukan hanya tentang catatan waktu atau posisi di podium. Ini adalah perjalanan melawan rasa sakit, kehilangan, dan ketidakpastian hidup.

Ia pernah berada di puncak dunia balap motor, jatuh ke titik terendah akibat kecelakaan, lalu bangkit kembali di dunia olahraga yang berbeda.

Kisahnya menjadi bukti bahwa karier tidak selalu berakhir ketika satu jalan tertutup. Terkadang, itu adalah awal dari jalan lain yang lebih bermakna.

Penutup: Dari Kehilangan Menuju Kemenangan

Perjalanan Muhammad Fadli adalah gambaran nyata bahwa manusia bisa jatuh, kehilangan, bahkan hancur, tetapi tetap memiliki kesempatan untuk bangkit.

Dari aspal MotoGP hingga lintasan para-cycling Asia, ia membuktikan bahwa semangat tidak bisa diamputasi.

Emas di Filipina bukan akhir, melainkan pengingat bahwa perjuangan paling besar bukan melawan lawan, tetapi melawan diri sendiri.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

asian para track championship 2026 atlet difabel indonesia kisah inspiratif atlet kisah m fadli muhammad fadli imammuddin para cycling indonesia pebalap moto2 indonesia
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Spesial Kemerdekaan, Naik Bandros di Bandung Cuma Bayar Rp8 Pakai QRIS

Bukan Sekadar HP! Honor Robot Phone Meluncur Mengusung Gimbal Mekanik Terkecil di Dunia

Buruan! 10 Promo Makan Murah HUT RI ke-81 di Bandung, Ada Buy 1 Get 1

Kode Redeem ML 14 Agustus 2026 Terbaru, Ada Diamond dan Skin Gratis Hari Ini

Ilustrasi emas antam

Harga Emas Antam Hari Ini 14 Agustus 2026 Anjlok Rp36 Ribu, Cek Harga Terbarunya

Jomblo Auto Mengheningkan Cipta! Momen Manis Bule Cantik Australia Datang ke Lombok Demi Si Hitam Manis

Terpopuler
  • Genap 1 Tahun, PRI Jawa Barat Tegaskan Komitmen Jadi Rumah Rakyat
  • MUSWIL VII KAHMI Jabar Tuntas, 7 Presidium Terpilih Bawa Mandat Baru
  • Teti Ratnasih Terpilih Pimpin FORHATI Jabar, Bawa Misi Besar Transformasi Keumatan
  • 10 Pohon Hilang di Jalan Riau Bandung, Pemkot Kecolongan? Pengamat Bongkar Lemahnya Pengawasan
  • FOTO: Lebih dari Sepak Bola: Momen Hangat Penuh Respek di Final Piala Presiden 2026
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.