Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

7 Kuliner Legendaris Khas Bandung Barat, Wajib Mampir ke Sentra Pembuatannya!

Selasa, 6 Oktober 2026 06:00 WIB

Jelang Port FC vs Persib, Rekor Maung Bandung Bikin Deg-Degan: Belum Pernah Menang!

Selasa, 6 Oktober 2026 05:00 WIB

Bikin Kalap! 5 Restoran AYCE Bandung dengan Korean BBQ hingga Shabu-Shabu

Selasa, 6 Oktober 2026 04:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • 7 Kuliner Legendaris Khas Bandung Barat, Wajib Mampir ke Sentra Pembuatannya!
  • Jelang Port FC vs Persib, Rekor Maung Bandung Bikin Deg-Degan: Belum Pernah Menang!
  • Bikin Kalap! 5 Restoran AYCE Bandung dengan Korean BBQ hingga Shabu-Shabu
  • BSU Rp900 Ribu hingga Bansos Beras 30 Kg, Ini Bantuan Pemerintah Oktober 2026
  • Lagi Cari Tempat Liburan? Ini 10 Destinasi Wisata Paling Populer dan Instagramable di Bandung Barat
  • Jelang Tiga Laga Kandang Persib Bandung, Polisi Minta Bobotoh Jaga Ketertiban dan Jadi Tuan Rumah yang Baik
  • SEJARAH! Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Puasa Gelar 35 Tahun Berakhir
  • Akhiri Puasa Gelar 35 Tahun! Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup Usai Bekuk Thailand Lewat Adu Penalti
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 6 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Karhutla Ancam Kalimantan, 1.487 Titik Panas Terdeteksi hingga Udara Masuk Zona Berbahaya

By SusanaJumat, 21 Agustus 2026 18:39 WIB4 Mins Read
Karhutla Kalimantan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendeteksi 1.487 titik panas di sejumlah wilayah Pulau Kalimantan hingga Kamis (20/8/2026). Data tersebut terpantau melalui satelit NOAA-20 dan menjadi peringatan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode kemarau.

Titik panas atau hotspot tidak selalu berarti telah terjadi kebakaran. Namun, keberadaannya dapat menjadi indikator adanya area dengan suhu permukaan yang tinggi dan berpotensi berkembang menjadi kebakaran apabila kondisi lingkungan mendukung.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan titik panas paling banyak ditemukan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

“Sementara itu di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terdeteksi 74 titik, serta Kalimantan Utara sebanyak tiga titik,” kata Berton dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Sebaran 1.487 Titik Panas di Kalimantan

Berdasarkan pemantauan BNPB melalui satelit NOAA-20, titik panas tersebar di seluruh provinsi di Pulau Kalimantan.

Berikut rinciannya:

  • Kalimantan Tengah: 767 titik panas
  • Kalimantan Barat: 560 titik panas
  • Kalimantan Selatan: 74 titik panas
  • Kalimantan Timur: 74 titik panas
  • Kalimantan Utara: 3 titik panas

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi. Dari total 1.487 titik panas yang terdeteksi di Kalimantan, lebih dari separuhnya berada di provinsi tersebut.

Kondisi ini membuat pengawasan terhadap wilayah yang rawan karhutla perlu terus diperkuat, terutama ketika cuaca kering dapat membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar.

Kualitas Udara Banjarbaru Memburuk

Ancaman karhutla tidak hanya terlihat dari banyaknya titik panas. Dampak asap juga mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kalimantan.

Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kualitas udara dalam 24 jam terakhir dilaporkan memburuk akibat meningkatnya konsentrasi partikulat halus atau PM2.5.

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 WITA.

Angka tersebut berada dalam kategori Berbahaya dan telah melewati ambang batas 250,5 mikrogram per meter kubik untuk kategori tersebut.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan karhutla dapat berkembang menjadi ancaman terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat, terutama apabila kebakaran menghasilkan asap dalam jumlah besar dan berlangsung dalam waktu lama.

Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Kalimantan

Kabut asap juga mulai mengganggu aktivitas transportasi udara di sejumlah wilayah Kalimantan.

Di Kalimantan Tengah, kabut asap akibat karhutla menyebabkan penerbangan dari dan menuju Bandara Haji Muhammad Sidik Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, dibatalkan selama dua hari terakhir.

Sementara itu, aktivitas penerbangan di Bandara Singkawang, Kalimantan Barat, juga dihentikan sementara pada Jumat (21/8/2026).

Penghentian sementara aktivitas penerbangan dilakukan karena kabut asap semakin tebal sehingga jarak pandang berada di bawah batas aman untuk operasional penerbangan.

Gangguan tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat merembet ke berbagai aktivitas masyarakat. Selain memengaruhi kualitas udara, kabut asap juga berpotensi mengganggu kesehatan, mobilitas, transportasi, hingga aktivitas ekonomi.

Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan

Meluasnya dampak karhutla membuat kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan, terutama selama periode kemarau.

Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran lebih besar. Pencegahan menjadi penting karena api yang awalnya muncul dari area terbatas dapat meluas ketika kondisi lahan kering dan angin mendukung penyebaran api.

Karhutla juga dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kesehatan. Asap yang dihasilkan dapat mengganggu pernapasan, sementara kerusakan ekosistem dan terganggunya aktivitas ekonomi dapat menjadi dampak lanjutan.

BNPB meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan kejadian kebakaran di wilayahnya.

“Apabila masyarakat mengetahui atau melihat kejadian kebakaran, segera lapor kepada otoritas daerah setempat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efektif,” pungkas Berton.

Dengan terdeteksinya 1.487 titik panas di Kalimantan, pengawasan terhadap kawasan rawan karhutla perlu terus dilakukan. Terlebih, dampaknya mulai terlihat pada kualitas udara dan aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas di lapangan, tetapi juga membutuhkan kewaspadaan masyarakat agar titik api tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

BSU Rp900 Ribu hingga Bansos Beras 30 Kg, Ini Bantuan Pemerintah Oktober 2026

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos Oktober 2026 Mulai Cair! 6 Bantuan Ini Siap Disalurkan, Cek Daftarnya

960 Gas Portable Sehari! Polisi Bongkar Pabrik Oplosan LPG 3 Kg di Bandung

Sempat Terdengar Teriakan, Pria Jatuh dari Flyover Kopo hingga Meninggal

Dulu Serba Pink, Sekarang Makeup?! Penampilan Terbaru Ustaz Riza Muhammad Kembali Disorot Warganet

Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
  • Aturan Dibuat untuk Dilanggar? Menguliti Tiga Dosa Administratif Pengadaan Publikasi Purwakarta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.