bukamata.id – Rencana besar Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi untuk menyatukan ikon Jabar, Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu, Kota Bandung kini tengah menjadi sorotan tajam.
Proyek yang mengusung konsep penyatuan kawasan melalui penataan estetika ini menuai beragam reaksi, terutama mengenai urgensi penggunaan anggaran di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Visi Estetika Sang Gubernur
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Kamis (16/4/2026), Dedi Mulyadi membagikan video ilustrasi yang memperlihatkan megahnya kawasan Gedung Sate jika nantinya menyatu tanpa sekat dengan Lapangan Gasibu.
Dalam takarir unggahannya, ia menekankan pentingnya harmonisasi ruang kota.
“Kalau bisa disatukan, kenapa harus dipisahkan. Diperindah, kenapa mesti resah?” tulis KDM, sapaan akrabnya, dalam postingan tersebut.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar dikabarkan telah menyiapkan dana sebesar Rp15,82 miliar untuk merealisasikan penataan kawasan ini.
Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan nilai visual serta daya tarik wisata di pusat Kota Bandung.
“In This Economy”: Suara Resah Masyarakat
Meski menawarkan keindahan visual, rencana tersebut tidak lepas dari kritik pedas warganet. Sebagian besar masyarakat mempertanyakan prioritas pemerintah dalam mengalokasikan dana publik yang mencapai belasan miliar rupiah tersebut.
Salah satu komentar yang menarik perhatian datang dari akun @kresnayogha, yang mewakili keresahan publik mengenai dampak langsung dari pembangunan ini.
Warga menilai proyek ini lebih bersifat kosmetik daripada solutif. Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, pembangunan fisik yang dianggap tidak memiliki dampak ekonomi langsung bagi rakyat kecil dipandang terlalu memaksakan.
“Yang bikin resah masyarakat adalah urgensinya pak. In this economy, uang sebanyak itu dipakai untuk pembangunan yang tidak berdampak langsung kepada masyarakat rasanya terlalu memaksakan,” tulis @kresnayogha saat berkomentar dalam postingan Dedi Mulyadi.

Muncul desakan agar anggaran sebesar Rp15,82 miliar tersebut dialihkan untuk sektor yang lebih mendesak, seperti perbaikan infrastruktur jalan yang rusak, pendidikan, atau penguatan daya beli masyarakat.
“Masyarakat akan senang jika anggaran sebanyak itu di realokasi untuk kepentingan-kepentingan yang lebih mendesak,” tandasnya.
Dilema Ikon Kota
Gedung Sate dan Gasibu memang merupakan wajah dari Jabar. Namun, tantangan bagi pemerintah saat ini adalah membuktikan bahwa kemegahan arsitektur bisa berjalan selaras dengan kesejahteraan warga.
Bagi masyarakat, pertanyaan “kenapa mesti resah?” yang dilontarkan Dedi Mulyadi terjawab dengan satu kata: Prioritas.
Di mata publik, sebuah kota tidak hanya butuh diperindah, tetapi juga perlu memastikan setiap rupiah yang keluar dari kas daerah benar-benar menjawab kebutuhan dasar warganya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










