Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Pelecehan Seksual

Modus Pinjam Uang Rp20 Ribu, Pria Bermotor Nekat Pamer Alat Kelamin ke Siswi di Bogor

Jumat, 23 Oktober 2026 13:29 WIB

Agnez Mo Resmi Jadi Artis Indonesia Pertama yang ‘Bertakhta’ di Hollywood Lantai 3!

Jumat, 23 Oktober 2026 13:17 WIB

Tragis! Pemotor Tewas Usai Terjatuh dan Terlindas Truk Boks di Cileunyi

Jumat, 23 Oktober 2026 13:10 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Modus Pinjam Uang Rp20 Ribu, Pria Bermotor Nekat Pamer Alat Kelamin ke Siswi di Bogor
  • Agnez Mo Resmi Jadi Artis Indonesia Pertama yang ‘Bertakhta’ di Hollywood Lantai 3!
  • Tragis! Pemotor Tewas Usai Terjatuh dan Terlindas Truk Boks di Cileunyi
  • Panas Ekstrem Picu Kebakaran Lahan di Bandung, Warga Diminta Waspada
  • French Open 2026: 8 Wakil Indonesia Serbu Perempat Final
  • Persib Kalah 0-1, Igor Tolic Akui Timnya Dihukum Satu Kesalahan
  • Kabar Baik Pemburu Emas, Harga Antam Hari Ini Turun Rp10 Ribu
  • Persib Tak Punya Waktu Meratap, Igor Tolic Pacu Fisik Skuad Jelang Kontra Garudayaksa FC
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 23 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kebijakan Dedi Mulyadi Picu Penolakan Daerah, Pakar: Ada Masalah Koordinasi Antarpemerintah

By Aga GustianaSelasa, 24 Juni 2025 14:00 WIB3 Mins Read
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi dan para bupati/wali kota. Foto: bukamata.id/ M Rafki.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ketegangan politik mewarnai hubungan antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan sejumlah pemerintah kabupaten/kota di bawahnya. Sejumlah kepala daerah secara terbuka menyatakan sikap berbeda terhadap kebijakan-kebijakan kontroversial Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang dinilai sentralistik dan kurang mempertimbangkan kondisi lokal.

Mulai dari larangan rapat di hotel, kebijakan penggunaan barak militer untuk siswa bermasalah, hingga pembatasan study tour, perbedaan sikap antara Gubernur dan kepala daerah kabupaten/kota semakin memperlihatkan retaknya koordinasi dalam tata kelola pemerintahan di Jawa Barat.

Wali Kota Bandung Dukung Hotel Lokal, Tolak Larangan Rapat

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, secara terbuka menolak larangan gubernur terkait penggunaan hotel untuk kegiatan dinas. Ia menyebut kebijakan itu dapat merugikan sektor perhotelan yang sedang dalam proses pemulihan pascapandemi.

“Hotel-hotel bintang tiga ke bawah paling terdampak pandemi. Pemerintah Kota Bandung memilih tetap menggelar rapat di hotel agar ekonomi lokal bisa bergerak kembali,” ujar Farhan.

Baca Juga:  Jabar Jadi Provinsi dengan PHK Terbanyak, Ini Kata Dedi Mulyadi

Sementara itu, Gubernur Dedi Mulyadi bersikukuh bahwa rapat ASN harus dilakukan di gedung pemerintah demi efisiensi anggaran daerah.

Kritik Tajam terhadap Kebijakan Barak Militer untuk Siswa Nakal

Kebijakan kontroversial lainnya—mengirim siswa bermasalah ke barak militer—juga menuai penolakan dari sejumlah kepala daerah. Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, justru mengeluarkan instruksi untuk memperkuat pendidikan karakter melalui kegiatan keagamaan.

Senada, Bupati Pangandaran, Citra Pitriyama, memilih pendekatan preventif dengan mengaktifkan patroli Satpol PP di jam sekolah untuk mengawasi siswa yang berkeliaran. Di Kabupaten Bandung, Bupati Dadang Supriatna mendorong program Magrib Mengaji sebagai alternatif pembinaan.

Bupati Cirebon Tolak Larangan Study Tour Tanpa Dasar Hukum

Di Cirebon, Bupati Imron Rosyadi menegaskan bahwa larangan study tour tidak memiliki kekuatan hukum mengikat, karena hanya berupa imbauan dari Penjabat Gubernur sebelumnya.

Baca Juga:  Pindah Dapur ke Jalanan, Begini Cara Unik Emak-emak Sentil Bobroknya Sistem SPMB Jabar 2026

“Kami akan menilai manfaat dan risikonya. Kalau banyak mudarat, baru bisa ditiadakan. Tapi selama tidak ada regulasi formal, kegiatan tetap bisa berjalan dengan pengawasan,” katanya.

Pakar Kebijakan Publik: Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Butuh Dialog Terbuka

Merespons dinamika ini, pakar kebijakan publik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, menilai perbedaan sikap ini sebagai dampak dari lemahnya koordinasi antarpemerintah dan minimnya ruang dialog.

“UU No. 23 Tahun 2014 sudah jelas mengatur pembagian kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. Ketika gubernur memaksakan kebijakan yang menyentuh wilayah operasional daerah tanpa konsultasi, maka wajar jika terjadi resistensi,” jelas Kristian.

Menurutnya, pelarangan rapat di hotel memang bertujuan efisiensi, tetapi di daerah seperti Bandung dan Pangandaran, industri perhotelan merupakan penyumbang utama Pendapatan Asli Daerah (PAD). Mengalihkan semua kegiatan ke kantor pemerintah bisa berdampak pada sektor pariwisata dan lapangan kerja.

Baca Juga:  Sentimen Suku Kental dan Boros Anggaran, Wacana Provinsi Sunda Dinilai Belum Mendesak

Terkait pendekatan militeristik pada siswa nakal, Kristian menilai kebijakan itu tidak menyentuh akar persoalan. “Studi-studi pendidikan menunjukkan bahwa pendekatan represif berisiko memperburuk kondisi psikologis anak dan berpotensi melanggar UU Perlindungan Anak. Evaluasi berbasis data perlu dilakukan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti larangan study tour yang dinilai terlalu top-down dan kurang mempertimbangkan realitas ekonomi daerah. Di daerah seperti Cirebon, yang menggantungkan sebagian PAD dari sektor pariwisata pendidikan dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), larangan ini justru bisa menurunkan kinerja ekonomi lokal.

Kesimpulan: Reformasi Butuh Koordinasi, Bukan Instruksi Sepihak

Kristian menekankan bahwa upaya reformasi administratif di tingkat provinsi tidak akan berhasil jika dilakukan secara sepihak. “Kebijakan yang adil dan efektif hanya bisa lahir dari proses dialog, keterlibatan publik, dan evaluasi berbasis bukti. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota harus duduk bersama, bukan saling berhadapan,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

ASN barak militer Dedi Mulyadi jawa barat kebijakan publik Pemprov Jabar study tour
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Pelecehan Seksual

Modus Pinjam Uang Rp20 Ribu, Pria Bermotor Nekat Pamer Alat Kelamin ke Siswi di Bogor

Tragis! Pemotor Tewas Usai Terjatuh dan Terlindas Truk Boks di Cileunyi

Panas Ekstrem Picu Kebakaran Lahan di Bandung, Warga Diminta Waspada

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

PKH Tahap 4 dan PIP Oktober 2026, Ini Besaran Bantuan dan Cara Ceknya

Pasokan Air Baku Anjlok 40 Persen, Perumda Tirtawening Kirim Tangki Air Gratis ke Warga

deportasi

Gunakan Uang Kas Desa Buat Judi Slot, Oknum Kades di Sukabumi Divonis 3 Tahun Penjara

Terpopuler
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • Flexing Nikah Berbuah Hujatan! Nasib Tragis Juan dan Evelyn hingga Gulung Tikar dari Youtube!
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.