bukamata.id – Di tengah hiruk pikuk jalanan Yogyakarta yang dipenuhi denyut seni dan budaya, seorang pria asal Tulungagung menemukan jalan hidupnya lewat kamera dan mural. Namanya Farris, sosok seniman muda yang perlahan mencuri perhatian publik setelah kisah perjuangannya viral di media sosial.
Bukan sekadar fotografer atau muralis biasa, Farris menjadikan seni sebagai ruang bertahan hidup, tempat menyalurkan emosi, sekaligus medium untuk membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk terus berkarya.
Perjalanan hidupnya kini ramai diperbincangkan usai dibagikan akun Instagram itsgreenlight pada Rabu (13/5/2026). Banyak warganet tersentuh melihat bagaimana Farris mampu mengubah keterbatasan menjadi sumber kekuatan dan inspirasi.
Awal Mengenal Fotografi: Jatuh Cinta Sejak Punya Kamera Sendiri
Farris mengaku mulai mengenal dunia fotografi pada tahun 2017 saat masih duduk di bangku kuliah. Ketertarikannya muncul setelah dikenalkan oleh seorang teman kampus yang lebih dulu menekuni dunia kamera.
Dari situlah rasa penasaran tumbuh menjadi kecintaan mendalam.
“Pertama kenal fotografi tahun 2017. Awalnya dikenalkan teman kuliah. Sejak punya kamera sendiri, saya jatuh cinta sama fotografi, mengabadikan setiap momen dan tempat baru,” ujar Farris.
Bagi Farris, fotografi bukan hanya soal memotret objek atau mengejar hasil visual yang indah. Kamera menjadi cara dirinya memahami kehidupan, membaca emosi manusia, hingga menikmati detail kecil yang sering luput dari perhatian banyak orang.
Ia mulai aktif memotret suasana jalanan, aktivitas masyarakat, hingga berbagai sudut kota Yogyakarta yang penuh karakter artistik. Lambat laun, hasil jepretannya mulai dikenal dan dipercaya oleh berbagai klien.
Fotografi Jadi Jalan Hidup dan Sumber Penghidupan
Kecintaannya terhadap dunia fotografi berkembang menjadi profesi yang dijalani dengan sepenuh hati. Farris merasa seni visual memberinya ruang untuk hidup lebih bermakna.
Menurutnya, pekerjaan yang lahir dari passion memiliki rasa berbeda dibanding sekadar mencari penghasilan.
“Fotografi membuat saya mencintai pekerjaan dari hati. Selain menghidupi diri sendiri, saya juga bisa membuat karya yang bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Kalimat sederhana itu menjadi gambaran bagaimana Farris memandang karya bukan sekadar komoditas, melainkan bentuk kontribusi terhadap lingkungan sekitar.
Lewat kamera, ia membantu mengabadikan momen penting banyak orang. Dari dokumentasi acara, proyek kreatif, hingga pemotretan artistik, semua dijalani dengan kesungguhan.
Dari Coretan SMA Hingga Menjadi Muralis Profesional
Selain fotografi, Farris juga memiliki kecintaan besar terhadap seni gambar. Hobi menggambar yang ia tekuni sejak SMA perlahan berkembang menjadi profesi mural artist profesional.
Ketertarikannya pada mural bermula dari kebiasaan membuat ilustrasi dan eksplorasi visual di berbagai media. Sejak 2017, ia mulai serius menerima proyek mural.
Awalnya hanya membantu teman, namun seiring waktu karya-karyanya mulai menarik perhatian lebih luas hingga mendapatkan pesanan dari luar kota.
“Saya suka menggambar sejak SMA. Akhirnya menekuni mural secara profesional sejak 2017. Dari klien teman hingga order ke luar kota, mural tetap jadi kecintaan saya,” ungkapnya.
Kini, berbagai dinding kosong di sejumlah sudut kota berubah menjadi ruang ekspresi penuh warna lewat sentuhan tangan Farris.
Keterbatasan Fisik Tak Menghalangi untuk Berkarya
Di balik karya-karya visual yang memukau, tersimpan perjuangan besar yang jarang diketahui publik. Farris menjalani seluruh aktivitas kreatifnya di tengah keterbatasan fisik yang dimilikinya.
Namun alih-alih menyerah, ia justru menjadikan kondisi tersebut sebagai motivasi untuk terus bergerak maju.
Ia merasa bersyukur masih diberi kemampuan untuk berkarya dan menjalani hidup melalui bidang yang dicintainya.
“Saya bersyukur dengan bakat yang diberikan. Bisa bekerja di bidang seni dan fotografi sepenuh hati walau dengan keterbatasan fisik,” katanya.
Semangat itulah yang kemudian membuat banyak orang merasa tersentuh setelah melihat kisahnya beredar di media sosial.
Viral di Media Sosial, Warganet: “Sangat Menginspirasi”
Kisah Farris menuai banyak respons positif dari warganet. Banyak yang mengaku termotivasi melihat perjuangannya dalam berkarya.
Komentar dukungan membanjiri unggahan Instagram @itsgreenlight.
“Keren bang. Bisa dong kolaborasi project YouTube rewind,” tulis akun @mhm***.
“Sumpah kamu keren mas,” komentar akun @sak***.
“Sangat menginspirasi,” tulis akun @brk***.
“Semangat selalu mas, semangat berkarya,” tulis akun @bud***.
Respons hangat itu menunjukkan bahwa karya seni tidak hanya bicara soal estetika, tetapi juga tentang perjuangan, ketulusan, dan keberanian untuk terus hidup dengan cara yang dicintai.
Seni Jadi Bahasa Kehidupan
Bagi Farris, fotografi dan mural bukan hanya pekerjaan. Keduanya sudah menjadi bagian dari identitas dirinya.
Dari kamera ke kuas, dari jalanan Yogyakarta hingga dinding penuh warna, Farris membuktikan bahwa cahaya hidup bisa ditemukan lewat hal-hal sederhana yang dikerjakan dengan cinta.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi akhir perjalanan. Dalam banyak kasus, justru dari keterbatasan lahir kekuatan terbesar seseorang untuk terus bertahan dan menginspirasi banyak orang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









