Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Update Hari Ini! Kode Redeem Genshin Impact 28 Juni 2026, Buruan Klaim Primogems Gratis Sebelum Hangus

Minggu, 28 Juni 2026 02:00 WIB

Jadwal Piala Dunia 2026 Hari Ini: Siaran Langsung TVRI Laga Penentu Nasib Argentina, Inggris, dan Portugal

Minggu, 28 Juni 2026 01:00 WIB

Proyek Rahasia Skuad Garuda: John Herdman Kantongi 16 Nama Pemain Diaspora Baru untuk Timnas Indonesia

Sabtu, 27 Juni 2026 21:53 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Update Hari Ini! Kode Redeem Genshin Impact 28 Juni 2026, Buruan Klaim Primogems Gratis Sebelum Hangus
  • Jadwal Piala Dunia 2026 Hari Ini: Siaran Langsung TVRI Laga Penentu Nasib Argentina, Inggris, dan Portugal
  • Proyek Rahasia Skuad Garuda: John Herdman Kantongi 16 Nama Pemain Diaspora Baru untuk Timnas Indonesia
  • Bukan El Nino, Studi Ungkap Biang Kerok Utama yang Bikin Eropa Membara hingga 44 Derajat Celsius
  • Dua Gempa Dahsyat Guncang Venezuela, Alarm Bahaya ‘The Big One’ di San Andreas Kini Berstatus Kritis
  • Siap-siap Begadang! Ini Jadwal Siaran Langsung Piala Dunia Minggu 28 Juni 2026 di TVRI
  • Blunder Fatal? Niat Membantah, Anggota Dewan Malah Akui Bentak Dokter Icha
  • Vivo X Fold 6 Bawa Baterai Badak dan Kamera 200 MP, Simak Spesifikasi dan Harganya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 28 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kematian Munir dan Jalan Panjang Pencarian Keadilan yang Belum Usai

By Aga GustianaSenin, 8 September 2025 07:31 WIB3 Mins Read
Munir
Almarhum Munir. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Munir Said Thalib dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia (HAM) yang tak kenal kompromi. Ia juga tercatat sebagai salah satu pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Namun, perjalanan panjang perjuangannya terhenti tragis pada 7 September 2004, ketika ia meninggal dalam penerbangan Garuda Indonesia GA 974 rute Jakarta–Amsterdam.

Hari itu, Munir berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi. Pesawat yang ditumpanginya sempat transit di Bandara Changi, Singapura, sekitar pukul 00.40 WIB. Ia sempat terlihat duduk di Coffee Bean sebelum kembali melanjutkan penerbangan ke Amsterdam pukul 01.50 WIB.

Beberapa jam setelah pesawat lepas landas, Munir mengalami sakit perut hebat hingga bolak-balik ke toilet. Kru akhirnya memindahkannya dari kursi 40G ke kursi 1J agar mendapat perawatan lebih intensif. Padahal, ia berangkat dalam kondisi sehat. Ketika pesawat tiba di Bandara Schiphol, Belanda, pukul 10.00 waktu setempat, otoritas bandara segera melakukan pemeriksaan ketat dan melarang seluruh penumpang turun sampai investigasi awal selesai.

Hasil autopsi dari Institut Forensik Belanda (NFI) kemudian menemukan jejak racun arsenik dalam tubuh Munir, yang menguatkan dugaan bahwa ia menjadi korban pembunuhan. Jenazahnya dibawa kembali ke Indonesia pada 12 September 2004 untuk dimakamkan.

Baca Juga:  Teror Air Keras Sasar Petinggi KontraS: Andrie Yunus Diserang Usai Rekaman Podcast di YLBHI

Upaya Pengusutan yang Berliku

Istri Munir, Suciwati, sempat meminta otopsi ulang ke Mabes Polri, namun ditolak. Tekanan publik yang semakin besar mendorong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) pada 23 Desember 2004. Tim ini menilai penyelidikan kepolisian terlalu lamban serta menuding pihak Garuda Indonesia tidak transparan.

TPF menemukan adanya indikasi pemalsuan surat tugas pilot Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto, yang saat itu ikut dalam penerbangan. Pollycarpus akhirnya dijatuhi hukuman 14 tahun penjara pada 20 Desember 2005. Sementara itu, Direktur Utama Garuda Indonesia Indra Setiawan divonis satu tahun penjara karena menempatkan Pollycarpus sebagai extra crew di penerbangan Munir.

Baca Juga:  Komnas HAM Catat Ada 2.305 Kasus Dugaan Pelanggaran HAM Sepanjang 2024

Meski demikian, dugaan keterlibatan pejabat Garuda maupun Badan Intelijen Negara (BIN) tidak pernah benar-benar terbukti di pengadilan. Hingga kini, kasus tersebut dinilai tidak tuntas.

Janji yang Tak Pernah Usai

Di era pemerintahan Joko Widodo, janji untuk menuntaskan kasus Munir kembali digaungkan. Namun, hingga dua periode kepemimpinannya berakhir, kebenaran tetap belum terungkap. Kini, di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, harapan keluarga dan aktivis HAM semakin menipis.

Komnas HAM saat ini melanjutkan penyelidikan melalui tim ad hoc untuk menentukan apakah kasus Munir dapat digolongkan sebagai pelanggaran HAM berat. Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, menyebut pihaknya sudah memeriksa sejumlah saksi dari kalangan aktivis, maskapai Garuda, hingga aparat penegak hukum. Hasil penyelidikan tersebut nantinya akan diserahkan ke Kejaksaan Agung.

Baca Juga:  KontraS Soroti Citra Pemerintah yang Seolah Patuh dalam Pemenuhan dan Penegakan HAM

Aksi Mengenang Munir

Dua puluh satu tahun setelah kepergiannya, kasus Munir tetap menjadi luka terbuka. Pada 4 September 2025, Suciwati bersama ratusan massa kembali menggelar Aksi Kamisan ke-876 di depan Istana Merdeka, Jakarta. Dengan berpakaian hitam, mereka mengangkat spanduk dan poster bertuliskan tuntutan agar negara segera menuntaskan kasus pembunuhan Munir.

“Peringatan ini bukan hanya mengenang, tapi juga mengingatkan publik bahwa negara belum menyelesaikan kasus ini,” tegas Suciwati. Ia juga menilai, pergantian presiden dari waktu ke waktu tidak membawa perubahan nyata.

Selain mengenang Munir, aksi tersebut juga menyoroti kondisi HAM terkini, termasuk kasus tewasnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang terlindas kendaraan taktis Brimob. Menurut Suciwati, situasi HAM di Indonesia masih jauh dari kata membaik.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Aksi Kamisan HAM Indonesia kasus Munir Komnas HAM KontraS Munir pembunuhan Munir tragedi Munir
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bukan El Nino, Studi Ungkap Biang Kerok Utama yang Bikin Eropa Membara hingga 44 Derajat Celsius

Ilustrasi gempa

Dua Gempa Dahsyat Guncang Venezuela, Alarm Bahaya ‘The Big One’ di San Andreas Kini Berstatus Kritis

Blunder Fatal? Niat Membantah, Anggota Dewan Malah Akui Bentak Dokter Icha

Mau Jaga Toko atau Ikut Perang? Tragedi Latihan Militer Koperasi Desa, 5 Nyawa Jadi Korban!

Gunakan Besi hingga Rokok, Taufik Hidayat Lampiaskan Amarah ke YTR Gegara Cemburu dan Stres Kerja

Lari ke Berbagai Daerah demi Kelabuhi Petugas, Taufik Hidayat Sempat Menggelandang dan Tidur di SPBU

Terpopuler
  • Viral Handuk Putih Anak vs Ibu, Warganet Berburu Link Asli! Ternyata Isinya Bikin Kaget
  • Viral! Video ‘Handuk Putih Ibu dan Anak’ Bikin Netizen Penasaran, Ini Faktanya
  • Cut Salwa Jadi Trending Topic, Benarkah Ada Video 10 Menit? Ini Fakta yang Terungkap
  • Jangan Klik Link Ini! Tren Viral TikTok ‘Handuk Putih’ Picu Ancaman Phishing Serius
  • Api Mendadak Berkobar di RM Tamagochi Bandung, Diduga Berawal dari Meja Konsumen
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.