Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Jangan Tertipu! Video Tasya Gym Batang Ramai Dicari, Ini Faktanya

Senin, 4 Mei 2026 20:37 WIB
peredaran narkoba

Nekat! 13 Paket Narkoba Diselundupkan ke Lapas Banceuy Lewat Anus

Senin, 4 Mei 2026 20:07 WIB

Update Klasemen Terbaru Liga: Persib Jaga Jarak dari Borneo FC dan Persija

Senin, 4 Mei 2026 19:38 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Jangan Tertipu! Video Tasya Gym Batang Ramai Dicari, Ini Faktanya
  • Nekat! 13 Paket Narkoba Diselundupkan ke Lapas Banceuy Lewat Anus
  • Update Klasemen Terbaru Liga: Persib Jaga Jarak dari Borneo FC dan Persija
  • Heboh! Video Tasya Gym Batang Jadi Incaran, Ternyata Banyak Link Berbahaya
  • Pohon Tumbang di Cimahi Timpa PKL dan Siswa SD, 11 Orang Terluka
  • Persib Menang 1-0 atas PSIM, Kokoh di Puncak Klasemen
  • Jangan Tergoda! Link Video Viral Bandar Membara Ternyata Bisa Berujung Pidana
  • Viral! Pengeroyokan di Cileunyi Gunakan Ambulans Desa, 2 Pelaku Ditangkap
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 4 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kematian Raya Balita Sukabumi Jadi Cermin Suram di HUT ke-80 RI, Negara dan Masyarakat Sama-Sama Lalai

By SusanaSenin, 25 Agustus 2025 09:00 WIB6 Mins Read
Ilustrasi kasus Raya Sukabumi
Ilustrasi Kasus Raya, balita di Sukabumi menjadi kasus luar biasa di mata pengamat dan KPAI. (Foto: bukamata.id/M Rafki)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kabar meninggalnya Raya (4 tahun), balita asal Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengguncang publik.

Ia meninggal dunia pada 22 Juli 2025 dengan kondisi mengenaskan: tubuhnya dipenuhi cacing gelang (Ascaris lumbricoides).

Kasus ini memunculkan pertanyaan serius tentang kesehatan masyarakat, pengasuhan anak, hingga lemahnya kontrol sosial di lingkungannya.

13 Juli 2025: Masuk IGD RSUD Syamsudin

Raya pertama kali masuk IGD RSUD Syamsudin Sukabumi pada 13 Juli 2025 pukul 20.00 WIB. Saat itu ia sudah tidak sadarkan diri sejak sehari sebelumnya.

Tim medis berhasil menstabilkan kondisi syok yang dialami, namun penyebab penurunan kesadaran masih samar. Peristiwa mengejutkan terjadi ketika tiba-tiba cacing keluar dari hidung Raya. Dari situ dokter mulai menduga adanya infeksi cacingan berat (askariasis).

Untuk penanganan intensif, Raya dipindahkan ke ruang PICU. Pemeriksaan lanjutan mengonfirmasi bahwa ia terserang askariasis kronis, dengan sarang utama di usus. Namun, larva cacing sudah menyebar ke paru dan otak sehingga menyebabkan penurunan kesadaran.

22 Juli 2025: Upaya Medis Tak Berhasil

Meski berbagai perawatan dilakukan, kondisi Raya terus memburuk. Dokter Irfan dari RSUD Syamsudin menjelaskan bahwa pasien datang dalam kondisi sudah sangat terlambat.

“Obat yang diberikan tidak bisa seefektif itu. Pada akhirnya, Raya meninggal dunia pada 22 Juli 2025 pukul 14.24 WIB,” jelasnya.

Faktor Lingkungan dan Risiko Infeksi

Dari investigasi awal, diketahui bahwa Raya tinggal di rumah panggung sederhana dengan tanah terbuka di bawahnya. Di sana, keluarga juga memelihara ayam. Kondisi ini diduga memperbesar risiko infeksi cacing karena interaksi langsung dengan tanah dan kotoran ayam.

“Sepertinya pasien sering bermain di tanah tanpa alas kaki. Itu memperbesar risiko infeksi,” kata dokter Irfan.

Respon Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi

Agus Sanusi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, menegaskan bahwa meski Raya tidak memiliki identitas resmi, pelayanan kesehatan tetap diberikan.

Raya bahkan pernah mendapat Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa susu dan telur, serta obat cacing yang seharusnya dikonsumsi dua kali setahun. Namun, bantuan PMT yang seharusnya cukup untuk dua minggu, dikabarkan habis hanya dalam dua hari.

Baca Juga:  BPS Catat Kondisi Ekonomi Jabar Januari 2025 Relatif Stabil

Selain itu, pola asuh juga mengalami penurunan. Awalnya kondisi kesehatan Raya dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) normal, namun seiring waktu Raya lebih banyak diasuh oleh neneknya.

“Pola asuh yang menurun menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi Raya,” ujar Agus.

Reaksi Gubernur Jawa Barat

Kabar meninggalnya Raya baru sampai ke telinga Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi pada 18 Agustus 2025. Ia menyatakan kegeramannya bahwa kasus semacam ini masih terjadi di Jawa Barat.

“Saya meminta maaf atas kejadian ini. Tidak seharusnya anak meninggal hanya karena cacingan,” tegasnya.

Dedi juga menginstruksikan investigasi menyeluruh terhadap aparat desa, bidan, puskesmas, dan dinas kesehatan. Ia menegaskan bila terbukti ada kelalaian, sanksi tegas akan diberikan.

Sosiolog: Kontrol Sosial dan Edukasi Masyarakat Mulai Luntur

Sosiolog Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Garlika Martanegara, menilai kasus Raya bukan sekadar persoalan medis, melainkan cerminan dari masalah sosial yang lebih dalam. Menurutnya, faktor edukasi, kontrol sosial masyarakat, hingga peran layanan kesehatan menjadi sorotan utama.

Garlika menyebut, cacingan pada anak-anak di daerah sebenarnya bukan hal baru. Namun, kasus Raya menjadi luar biasa karena kondisinya sudah parah dan diperparah dengan situasi keluarga yang rentan.

“Kalau bicara kesehatan, kasus cacingan itu bukan kasus satu dua di daerah. Warga biasanya sudah paham dan tahu obat apa yang harus diberikan, seperti kombantrin yang bisa dibeli di warung. Tapi untuk kasus Raya ini sangat jarang terjadi, bahkan saya pernah dengar kondisi serupa justru di Afrika,” ungkap Garlika saat dihubungi bukamata.id, Minggu (24/8/2025).

Raya sendiri diketahui tinggal bersama orang tua yang memiliki kondisi sulit, sang ibu yang berstatus ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dan sedang menjalani perawatan TBC, serta rumah keluarga yang nyaris roboh sebelum mendapat bantuan warga.

Baca Juga:  Kabar Gembira, Pemprov Jabar Tegaskan Tak Ada Kenaikan Pajak Kendaraan dan BBNKB

“Miris, karena orang tuanya dalam keadaan sangat lemah. Di sinilah seharusnya peran kontrol sosial masyarakat hadir, tapi ternyata tidak berjalan optimal,” tambah Garlika.

Kontrol Sosial yang Melemah

Menurut Garlika, kasus ini memperlihatkan adanya penurunan empati dan simpati sosial di tengah masyarakat. Ia menilai tetangga atau warga sekitar seharusnya bisa lebih peduli, minimal melapor ke pihak desa atau puskesmas saat melihat kondisi keluarga Raya yang sudah memprihatinkan.

“Kontrol sosial ini seolah hilang. Warga baru bergerak ketika rumah hampir roboh. Kalau rumahnya tidak roboh, bisa jadi kasus kesehatan parah keluarga ini tetap tidak diketahui. Ini menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya mulai luntur,” katanya.

Tiga Masalah Utama: Edukasi, Layanan Kesehatan, dan Kontrol Sosial

Lebih jauh, Garlika menyebut ada tiga masalah utama yang bisa dipetik dari kasus Raya, pertama kurangnya Edukasi Kesehatan.

Pengetahuan dasar kesehatan masih minim di kalangan masyarakat pedesaan. Edukasi dari pemerintah perlu dilakukan dengan cara yang sesuai kultur dan tingkat pendidikan warga.

“Cara mengedukasi masyarakat dengan pendidikan rendah tentu berbeda dengan mereka yang menengah atau tinggi. Paling tidak, keluarga tahu bahwa kalau sakit tidak cukup ditangani sendiri, tapi harus segera ke puskesmas,” jelasnya.

Yang kedua, pasifnya layanan Kesehatan masyarakat. Posyandu dan puskesmas seharusnya lebih aktif, apalagi di daerah pedesaan. Menurut Garlika, pelayanan kesehatan masyarakat di desa mestinya lebih sering menyelenggarakan penyuluhan maupun pemeriksaan rutin dibanding di kota.

“Pertanyaan mendasar, kenapa masyarakat masih bingung harus melapor ke mana ketika sakit? Di sinilah letak lemahnya peran layanan kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Kemudian yang ketiga, melemahnya control sosial. Rasa peduli antarwarga dinilai semakin berkurang. Padahal, masyarakat sejatinya adalah garda terdepan untuk mencegah masalah sosial maupun kesehatan sebelum terlambat.

Garlika juga menyinggung soal potensi alam Jawa Barat yang kaya. Menurutnya, kasus gizi buruk atau kesehatan anak yang parah seharusnya tidak perlu terjadi di wilayah ini.

Baca Juga:  Yakin Produksi Penuhi Target, Bey Minta Satgas Pangan Selaraskan Data

“Alam Jabar itu sangat menunjang. Mau nanam sayur apapun pasti tumbuh, mau bikin kolam ikan lele, mujair, gurame juga pasti bisa. Jadi seharusnya masalah gizi tidak muncul kalau dikelola dengan baik,” paparnya.

Pesan untuk Masyarakat dan Pemerintah

Di akhir pernyataannya, Garlika menekankan pentingnya kembali menghidupkan kepedulian sosial antarwarga.

“Kita ini makhluk sosial. Cobalah lebih peduli minimal kepada tetangga kiri, kanan, depan, belakang. Itu bisa mencegah banyak hal, mulai dari masalah kesehatan parah hingga potensi kriminalitas,” ujarnya.

Sementara untuk pemerintah daerah, ia berpesan agar lebih aktif dalam memberikan edukasi dan pelayanan kesehatan langsung ke masyarakat, bahkan jika perlu door to door.

“Kalau soal biaya pengobatan, pemerintah sudah ada program. Masalahnya, apakah program itu benar-benar sampai ke pelosok? Nah ini yang harus dijamin,” pungkasnya.

KPAI: Negara Gagal Hadir, Mendesak RUU Pengasuhan Anak

Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra, menilai kasus Raya memperlihatkan gagalnya sistem perlindungan anak di keluarga rentan.

Salah satu masalah krusial adalah ketiadaan nomor kependudukan (NIK), yang membuat Raya tidak bisa mengakses program kesehatan maupun bantuan sosial.

“Ketika Raya tidak punya NIK, gugur semua kewajiban negara. Padahal anak tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Ini bukti nyata adanya kekosongan kebijakan,” ujar Jasra.

Ia menyebut kasus Raya menunjukkan lapisan penderitaan beruntun: orang tua ODGJ, TBC, kemiskinan, stigma, hingga penelantaran layanan publik. Sayangnya, semua baru terungkap setelah Raya meninggal.

KPAI mendesak pemerintah dan DPR segera mengesahkan RUU Pengasuhan Anak, yang sudah 15 tahun mandek. RUU ini diharapkan menjadi payung hukum bagi anak yang tumbuh di keluarga dengan orang tua ODGJ, miskin, atau tanpa dukungan sosial memadai.

“Kematian Raya jangan jadi sekadar berita. Ini lonceng keras bagi negara untuk segera hadir. RUU Pengasuhan Anak adalah kebutuhan darurat, bukan wacana,” tegas Jasra.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

balita Cacingan HL jawa barat Raya Sukabumi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

peredaran narkoba

Nekat! 13 Paket Narkoba Diselundupkan ke Lapas Banceuy Lewat Anus

Pohon Tumbang di Cimahi Timpa PKL dan Siswa SD, 11 Orang Terluka

Viral! Pengeroyokan di Cileunyi Gunakan Ambulans Desa, 2 Pelaku Ditangkap

Bukan Sekadar Ramalan? Bedah Sosok Tirta Siregar dan Sosok yang ‘Membisikkan’ Pesan Misterius

Viral CCTV Begal Astanaanyar! Dua Pelaku Tertangkap, Dua Masih Buron

Definisi Hilang Jalur VIP! Bocah Ini Malah Jadi ‘Artis’ Dadakan di Polres Labuhanbatu

Terpopuler
  • Link Video Viral Vell Blunder Durasi Panjang, Waspada Modus Phising!
  • Link Video Bandar Batang Viral! Waspada Phising
  • Link Video Bandar Batang Membara Viral, Pemeran Sengaja Jual-Beli Konten?
  • Viral ‘Video Bandar Membara’ di Media Sosial, Warganet Cari Link Asli No Sensor
  • Link Video Viral Batang Membara: Diiming-iming Cuan Rp250 Juta Lewat Telegram
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.