bukamata.id – Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, memiliki mobil listrik futuristik bukan lagi sekadar impian, melainkan pilihan gaya hidup modern yang menjanjikan kenyamanan, efisiensi, dan keramahan lingkungan. Hyundai Ioniq 5, dengan desain crossover retro-futuristis yang memikat serta segudang fitur canggih, menjadi salah satu ikon mobil listrik paling diburu di Indonesia. Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu seindah gambar di brosur atau janji manis di ruang pamer (showroom).
Bagi selebritas internet dan kreator konten kuliner ternama, Aa Juju—yang populer lewat akun Instagram @makanlurrrr—pengalaman membeli Hyundai Ioniq 5 secara tunai (cash) justru berubah menjadi mimpi buruk yang menguras emosi, waktu, hingga kesehatan mentalnya. Berawal dari kebutuhan sederhana masyarakat kota: kenyamanan melakukan parkir paralel di pemukiman padat.
Janji Parkir Paralel yang Berbuah Keputusasaan
Bagi warga yang tinggal di kawasan Jabodetabek dengan ketersediaan lahan parkir yang makin terbatas, fitur parkir paralel bukan sekadar pemanis spesifikasi, melainkan syarat mutlak. Sebelum memutuskan memboyong Hyundai Ioniq 5 yang berbanderol ratusan juta rupiah tersebut, Aa Juju menegaskan bahwa dirinya telah menyampaikan kebutuhan spesifik ini kepada tenaga penjual (sales executive) Hyundai.
Tenaga penjual dengan meyakinkan menjamin bahwa kendaraan listrik flagship tersebut dapat diparkir secara paralel tanpa masalah. Berbekal keyakinan tersebut, transaksi pembelian secara tunai pun dilakukan.
Namun, kejutan tidak menyenangkan muncul tak lama setelah mobil digunakan. Fitur parkir paralel pada kendaraan listrik—yang pada dasarnya membutuhkan pengaturan sistem transmisi Shift-by-Wire serta suplai daya aksesoris yang stabil—justru memicu rantai masalah teknis.
“Ini mobil bikin gue sampai berobat ke psikolog karena bikin gue stres. Udah gitu aftersales-nya juga bikin gue stres,” ujar Aa Juju dalam sebuah unggahan video di media sosial miliknya yang mendadak tular (viral) dan telah ditonton jutaan kali.
Masalah berawal ketika mobil kerap diparkir dalam kondisi netral (parkir paralel). Sistem kelistrikan pendukung kendaraan tampaknya mengalami kompromi yang tidak terduga.
Rentetan Kendala Teknis: Dari Fast Charging hingga Aki Tekor
Kekecewaan Aa Juju tidak berhenti pada urusan parkir. Keluhan teknis mobil listrik bertengsi tinggi ini menjalar ke fungsi vital lainnya, yakni pengisian daya cepat (fast charging).
Dalam pengakuannya, ia tidak dapat memanfaatkan stasiun pengisian daya cepat (SPKLU fast charging), sebuah fitur utama yang menjadi keunggulan mobil listrik modern untuk mobilitas tinggi. Ia terpaksa bergantung pada pengisian daya lambat (slow charging) yang memakan waktu berjam-jam.
“Nah terus masalah pertama muncul, ini gue nggak bisa pakai fast charging, jadi gue bisanya itu pakai charging-an yang lama,” ungkapnya kecewa.
Puncak dari malapetaka teknis ini terjadi ketika kendaraan mendadak mati total dan tidak bisa dinyalakan sama sekali. Pihak teknisi resmi Hyundai yang dipanggil ke kediamannya memberikan vonis yang cukup mengejutkan: baterai pendukung 12-Volt (aki) mobil habis total dan harus diganti.
Di sinilah letak kejanggalannya. Dalam rekaman video yang beredar, terdengar penjelasan dari pihak yang diduga teknisi bahwa penggunaan baterai pada sistem mobil terlalu berlebihan saat diparkir netral, sehingga kendaraan justru disarankan untuk tidak terlalu sering diparkir secara paralel.
“Jadi mobil gue langsung ganti aki karena akinya tuh habis katanya. Jadi tuh mobil ini tuh nggak disaranin buat parkir paralel, gila nggak lu?” seloroh Aa Juju mengekspresikan keherannya.
Rangkaian kendala belum usai. Pascapenggantian aki, masalah baru muncul keesokan harinya ketika layar head unit atau pusat kendali hiburan dan informasi kendaraan kembali mengalami gangguan (glitch). Ironisnya, bukannya mendapat solusi tuntas dari layanan purna jual resmi, Aa Juju mengaku justru menemukan langkah penanganan sementara (troubleshooting) secara mandiri melalui pencarian internet dan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Sikap Defensif Dealer dan Perlakuan Tak Profesional
Lelah dengan penanganan jarak jauh yang dianggap tidak memberi kepastian, Aa Juju memutuskan mendatangi langsung dealer resmi Hyundai Fatmawati di Jakarta Selatan untuk meminta pertanggungjawaban dan penjelasan yang transparan.
Bukannya sambutan hangat atau permohonan maaf atas ketidaknyamanan unit bernilai ratusan juta rupiah, kedatangannya justru disambut dengan ketegangan. Ia berhadapan dengan salah satu oknum Supervisor (SPV) dealer setempat yang bersikap defensif.
Dalam rekaman video yang beredar luas di platform digital, oknum SPV tersebut tampak turut merekam Aa Juju menggunakan ponsel pintar dan berbicara dengan nada tinggi. Argumen yang dikeluarkan oknum tersebut justru memicu gelombang kritik dari netizen karena dinilai sangat tidak profesional dan melukai prinsip pelayanan pelanggan.
“Saya tanya balik, sejago-jagonya sales, ada enggak di luar sana yang menjelaskan sampai sedetail itu?” cetus sang SPV membela diri, sembari berdalih bahwa urusan teknis mendalam merupakan ranah teknisi dan bukan kewajiban seorang tenaga penjual.
Sikap melimpahkan kesalahan ini langsung direspons tegas oleh Aa Juju. Baginya, sales adalah garda terdepan (frontliner) pabrikan yang meyakinkan calon pembeli hingga mereka rela menggelontorkan dana yang tidak sedikit.
Ia menyoroti implikasi yang lebih luas: bagaimana jika kejadian ini menimpa konsumen awam yang tidak memiliki platform media sosial besar atau masyarakat biasa yang telah menabung bertahun-tahun demi membeli mobil impian pertama mereka?
Gelombang Sorotan dan Komentar Netizen
Video pengakuan dan konfrontasi tersebut langsung memicu perhatian luas di media sosial. Ribuan netizen membanjiri kolom komentar dengan nada geram, menyoroti penanganan krisis yang dinilai amat buruk hingga janji manis tenaga penjual.
- “Ini penanganannya udah salah.. harusnya terima dulu keluhannya .. cek ke team sales yg menyampaikan informasi pada saat menjual .. kalau memang ada kesalahan komunikasi minta maaf dulu.. baru cari jalan tengahnya.. bisa hancur brandnya kalau gini handlenya.. apalagi customernya punya banyak followers. Bisa tutup ini brand,” ujar netizen menyayangkan standar Customer Relations dealer tersebut.
- “sepertinya @hyundaimotorindonesia harus benar2 evaluasi tentang kriteria penilaian karyawan terbaiknya,” sindir netizen lain terkait kualitas pelayanan internal.
- “Ini semua terjadi karena sales over claim 🤣🤣 kita pelanggan mana tau, kami punya masalah dan kita beli solusi yg sales tawarkan..,” komentar netizen menyoroti janji manis prapenjualan yang tidak sesuai kenyataan.
Pelajaran Mahal untuk Industri Mobil Listrik dan Tanggapan Resmi HMID
Kasus yang dialami Aa Juju menjadi cermin besar bagi pesatnya adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Penjualan mobil modern yang makin mengandalkan teknologi perangkat lunak (software-defined vehicles) menuntut kesiapan ekosistem yang utuh—bukan hanya keandalan produk, tetapi juga edukasi produk yang jujur dari tenaga penjual serta kesiapan layanan purna jual (aftersales service).
Merespons polemik yang kian memanas di ruang publik, PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) akhirnya buka suara secara resmi. Pihak Agen Pemegang Merek (APM) menyampaikan permohonan maaf terbuka atas ketidaknyamanan yang dialami oleh konsumennya.
Head of Brand Interactive Hyundai Motors Indonesia, Rouli Sijabat, menyatakan bahwa pihak manajemen telah menerima laporan tersebut dan sedang melakukan investigasi menyeluruh.
“Atas nama Hyundai Indonesia, kami menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas ketidaknyamanan dan situasi yang dialami oleh pelanggan kami, baik terkait pengalaman penggunaan produk maupun layanan dari tim sales & aftersales kami,” tegas Rouli.
HMID berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh serta mengambil tindakan penanganan yang tepat sesuai kebutuhan pelanggan demi menyelesaikan permasalahan pada unit Hyundai Ioniq 5 tersebut.
Akar Masalah Teknis Fitur Parkir Paralel pada Mobil Listrik Modern
- Sistem Transmisi & Penguncian:
- Mobil Konvensional (ICE): Menggunakan tuas mekanis dan parking pawl atau rem tangan manual yang tidak memerlukan daya listrik aktif saat mesin mati.
- Mobil Listrik (EV): Menggunakan transmisi elektronik Shift-by-Wire dan Electronic Parking Brake (EPB).
- Kebutuhan Daya Mode Netral (N):
- Mobil listrik memerlukan modul komputer (ECU) dan sensor yang tetap aktif untuk menjaga sistem transmisi berada di posisi netral saat parkir paralel.
- Penyebab Utama Aki Tekor:
- Saat mobil dimatikan dalam posisi netral, arus listrik 12V terus tersedot oleh komputer kendaraan. Sementara itu, sistem pengisian dari baterai utama (High Voltage) terputus saat kontak mati. Hal ini menyebabkan aki 12V mengalami deep discharge dan habis total dalam waktu singkat.
Edukasi Konsumen dan Pentingnya Transparansi Layanan
Fenomena ini menegaskan pentingnya edukasi menyeluruh kepada konsumen sebelum meminang kendaraan berteknologi tinggi. Konsumen berhak mendapatkan informasi yang akurat mengenai keterbatasan teknis maupun cara pengoperasian yang benar, bukan sekadar janji manis demi mengejar target penjualan harian.
Kejadian ini diharapkan menjadi titik balik bagi para produsen otomotif, khususnya pemain di industri kendaraan listrik, untuk:
- Meningkatkan pemahaman teknis bagi seluruh garda depan (sales dan customer service).
- Memperbaiki respons dan kepekaan empati tenaga purna jual saat menghadapi masalah konsumen.
- Menyediakan panduan yang lebih intuitif mengenai fitur-fitur spesifik seperti parkir paralel pada unit EV.
Bagi Aa Juju dan publik otomotif Indonesia, kasus ini bukan sekadar tentang perbaikan unit mobil, melainkan tentang hak konsumen untuk mendapatkan transparansi, rasa aman, dan kepuasan atas investasi kendaraan yang telah dibayarkan secara tuntas.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








