bukamata.id – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa Barat menyampaikan bahwa peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS di wilayah tersebut sebagian besar disebabkan oleh hubungan sesama jenis, khususnya antar laki-laki.
Pernyataan ini disampaikan oleh Landry Kusmono, Pengelola Program KPA Provinsi Jawa Barat, pada Senin, 28 Juli 2025. Ia menjelaskan, data tersebut diperoleh dari laporan layanan kesehatan yang menerima pengakuan langsung dari pasien mengenai riwayat penularan.
“Kalau laki sama laki-laki itu lebih banyak memang. Pengakuan teman-teman itu yang mengakui di layanan bahwa mereka berhubungan seks dengan laki-laki lainnya,” terang Landry.
Sementara itu, untuk kategori perempuan dengan orientasi sesama jenis, hingga kini belum ditemukan pengakuan yang menyatakan bahwa penularan terjadi melalui hubungan seksual dengan sesama perempuan.
“Kalau perempuan sama perempuan itu belum ada yang mengakui di layanan bahwa mereka terkena dari hubungan seksual sesama jenis perempuan,” jelasnya.
Landry juga menyoroti lonjakan signifikan dalam jumlah kasus HIV di Jawa Barat selama lima tahun terakhir. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, tercatat 10.239 kasus baru sepanjang tahun 2024, naik dua kali lipat dibandingkan tahun 2020.
“Di tahun 2020 itu hanya 5.666. Nah, di tahun 2024 itu angka kasusnya menjadi 10.239. Jadi ada peningkatan 100 persen, temuan kasus barunya begitu,” ungkap dia.
Ia menegaskan bahwa mayoritas penularan HIV berasal dari aktivitas seksual berisiko, bukan dari penggunaan jarum suntik atau faktor lainnya.
“Ya, 80 persen dari hubungan seksual, Kang,” cetus Landry.
Dalam penjelasannya, ia juga memaparkan bahwa kelompok usia produktif menjadi yang paling rentan terhadap penyebaran virus ini. Pada tahun 2024, sebanyak 63 persen kasus tercatat pada rentang usia 25 hingga 49 tahun, setara dengan sekitar 6.000 orang.
“Kemudian 20 persennya itu di usia 20 sampai 24 tahun, itu sekitar 2.164 orang. Di atas 50 tahun 8 persen, dan usia 15–19 tahun sekitar 6,2 persen atau 600-an kasus,” tuturnya.
Situasi ini menjadi perhatian serius bagi KPA dan instansi terkait, mengingat penyebaran HIV semakin menyasar kelompok muda dan dewasa produktif. Edukasi dan layanan kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan dinilai penting untuk menekan angka penyebaran di masa mendatang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










