Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Dugaan Manipulasi Riset di ISPPD Gegerkan Dunia Akademik, ITB Buka Suara

Kamis, 28 Mei 2026 13:23 WIB

Rumor Panas! Maxwell Souza Dikaitkan dengan Persib, Nasib Masih Abu-abu

Kamis, 28 Mei 2026 12:37 WIB

Tragis! Pria di Bandung Meninggal Usai Terjatuh ke Sumur Sedalam 19 Meter

Kamis, 28 Mei 2026 11:30 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Dugaan Manipulasi Riset di ISPPD Gegerkan Dunia Akademik, ITB Buka Suara
  • Rumor Panas! Maxwell Souza Dikaitkan dengan Persib, Nasib Masih Abu-abu
  • Tragis! Pria di Bandung Meninggal Usai Terjatuh ke Sumur Sedalam 19 Meter
  • Viral di TikTok dan X, Link Telegram Video Rok Hijau Jadi Buruan Warganet
  • Update Harga Emas Antam Hari Ini, Kamis 28 Mei 2026: Turun Drastis!
  • Crystal Palace Juara Eropa! Oliver Glasner Tutup Era dengan Gelar Bersejarah
  • Tinggalkan Kursi Pelatih, Bojan Hodak Bongkar Rahasia Persib Juara 3 Kali Beruntun
  • Skandal Riset Palsu, Peneliti Indonesia Tipu Ilmuwan Dunia Pakai AI Demi Jalan-jalan Gratis?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 28 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Larangan Study Tour Dikritik Travel, KDM: Kalau Objeknya Sekolah, Jangan Belajar Marketing!

By SusanaRabu, 26 Februari 2025 12:30 WIB2 Mins Read
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Foto: YouTube.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menanggapi kritik dari penyelenggara travel wisata yang merasa kebijakannya terkait larangan study tour telah berdampak pada usaha mereka.

Dalam pernyataannya, Dedi menegaskan bahwa kebijakan yang diambil bertujuan untuk melindungi dunia pendidikan dari praktik komersialisasi yang berlebihan.

Dedi Mulyadi menyatakan bahwa penyelenggara travel seharusnya fokus pada kegiatan wisata umum, bukan menjadikan siswa sebagai objek utama bisnis mereka.

Menurutnya, jika travel hanya mengandalkan perjalanan wisata sekolah, maka pendidikan bisa berubah menjadi ladang komersial yang mengesampingkan karakter dan tujuan utama pembelajaran.

“Saya tegaskan disini ya, travel itu kan penyelenggara kegiatan wisata kenapa harus menjadi objeknya anak sekolah, kalau mau menjadi objek anak sekolah berarti melakukan eksploitasi terhadap proses pendidikan kita, merubah pendidikan dari yang punya karakter menjadi pendidikan yang komersial,” ujar Dedi dikutip dari Instagram @dedimulyadi71, Rabu (26/2/2025).

Baca Juga:  Bey Yakin Dedi Mulyadi Bisa Wujudkan Ratusan Desa Berkembang Jadi Mandiri dan Maju

Lebih lanjut, ia menyoroti risiko yang muncul akibat minimnya standar kualitas dalam penyelenggaraan wisata sekolah.

Dedi menyinggung kasus kecelakaan bus yang membawa siswa SMK di Depok saat perjalanan wisata di Ciater, sebagai contoh buruk dari praktik ini.

“Kalau travel objeknya hanya anak sekolah, gak usah belajar marketing, itu cukup bertemu dengan kepala sekolah kasih diskon yang cukup jadi deh barang, meskipun kualitas penyelenggaraannya misalnya buruk, dan bis nya mengalami kecelakaan seperti kasus yang terjadi SMK di Depok di Ciater,” paparnya.

Baca Juga:  Tak Ingin Mubazir, Dedi Mulyadi Ingin Satu Produk Digital untuk Semua Layanan Publik

Dedi juga menekankan bahwa kebijakan ini bukan hanya untuk dunia pendidikan, tetapi juga bertujuan menekan angka kemiskinan.

Menurutnya, banyak orang tua dengan penghasilan pas-pasan terpaksa mengeluarkan biaya besar untuk kegiatan sekolah, yang akhirnya membebani ekonomi keluarga.

“Karena orang tua yang penghasilannya pas-pasan, dengan mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah yang menghabiskan anggran 4-5 juta itu bisa mendapat pada menurunnya angka kualitas hidupnya, bahkan mereka bisa pinjam kesana-kemari, ke pinjol, kemudian renternir, bank emok, kemudian bank keliling yang pada akhirnya menjadi pembebanan ekonomi dan angka kemiskinan jadi semakin meningkat,” ungkapnya.

Baca Juga:  Garut Dapat Rapor Merah! Putri Karlina Akui Tak Leluasa Sikat Pungli Karena Takut 'Offside'

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah telah menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk subsidi pendidikan. Namun, jika sekolah masih memberlakukan berbagai pungutan tambahan, maka subsidi tersebut kehilangan maknanya.

“Jika subsidi pendidikan tidak ada artinya karena banyak pungutan tambahan, lebih baik sekolah bayar saja,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi sekolah travel
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Dugaan Manipulasi Riset di ISPPD Gegerkan Dunia Akademik, ITB Buka Suara

Tragis! Pria di Bandung Meninggal Usai Terjatuh ke Sumur Sedalam 19 Meter

Skandal Riset Palsu, Peneliti Indonesia Tipu Ilmuwan Dunia Pakai AI Demi Jalan-jalan Gratis?

Dari Penarik Gerobak Jadi ‘Anak Emas’: Kisah Haru Sapi Matilda yang Bikin Netizen Mewek

Pengendara Motor Masuk Tol Purbaleunyi Berujung Kecelakaan, Polisi Lakukan Penyelidikan di KM 123 Bandung Barat

Teror Pocong di Bandung Barat Ternyata Hoaks AI, Polisi Ungkap Fakta Mengejutkan

Terpopuler
  • Tebing Keraton
    Menjelajahi Pesona “Swiss van Java”: 5 Destinasi Unggulan di Bandung Barat yang Wajib Dikunjungi
  • Viral Video ‘3 vs 1’ TKW Taiwan: Jebakan Link Phishing di Balik Konten Sensasional
  • Pengusaha Tasikmalaya Bawa Rp1,3 Miliar Cash, Nekat Tawar Ikan Koi Irfan Hakim dan Bos Hartono tapi Ditolak!
  • Bandung Siap-siap Macet Total! Ini Skema Pengalihan Jalan dan Rute Konvoi Juara Persib
  • Dicap Sensasional! Video TKW Taiwan 3 Vs 1 Viral, Netizen Ramai Cari Link Aslinya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.