Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bukan Cuma Al-Jabbar! Gedebage Bandung Kini Punya 5 Destinasi Wisata Hits yang Wajib Dikunjungi

Senin, 13 Juli 2026 06:00 WIB
Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Resmi Cair! Bansos PKH-BPNT Juli 2026 Mulai Disalurkan, Begini Cara Cek Penerima Lewat HP

Senin, 13 Juli 2026 03:00 WIB

Baru Kembali Berlatih, Luciano Guaycochea Langsung Kirim Sinyal Bahaya untuk Rival Persib

Senin, 13 Juli 2026 01:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bukan Cuma Al-Jabbar! Gedebage Bandung Kini Punya 5 Destinasi Wisata Hits yang Wajib Dikunjungi
  • Resmi Cair! Bansos PKH-BPNT Juli 2026 Mulai Disalurkan, Begini Cara Cek Penerima Lewat HP
  • Baru Kembali Berlatih, Luciano Guaycochea Langsung Kirim Sinyal Bahaya untuk Rival Persib
  • Densus 88 Geledah Kontrakan Pedagang Es Teh Usai Ledakan Dadaha
  • Luka Menalo Bongkar Alasan Pilih Persib, Pengakuannya soal Bobotoh Bikin Bangga!
  • Demi Viral Berujung Penjara? Lagu Vulgar Icha Chellow Akhirnya Diseret ke Jalur Hukum
  • Ledakan Keras Hancurkan Toko Bangunan di Purwakarta, Satu Korban Meninggal Dunia
  • Persib Punya Skuad Mewah, Adam Alis Pede Bisa Bersaing di Empat Kompetisi
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 13 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Larangan Study Tour Dikritik Travel, KDM: Kalau Objeknya Sekolah, Jangan Belajar Marketing!

By SusanaRabu, 26 Februari 2025 12:30 WIB2 Mins Read
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Foto: YouTube.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menanggapi kritik dari penyelenggara travel wisata yang merasa kebijakannya terkait larangan study tour telah berdampak pada usaha mereka.

Dalam pernyataannya, Dedi menegaskan bahwa kebijakan yang diambil bertujuan untuk melindungi dunia pendidikan dari praktik komersialisasi yang berlebihan.

Dedi Mulyadi menyatakan bahwa penyelenggara travel seharusnya fokus pada kegiatan wisata umum, bukan menjadikan siswa sebagai objek utama bisnis mereka.

Menurutnya, jika travel hanya mengandalkan perjalanan wisata sekolah, maka pendidikan bisa berubah menjadi ladang komersial yang mengesampingkan karakter dan tujuan utama pembelajaran.

“Saya tegaskan disini ya, travel itu kan penyelenggara kegiatan wisata kenapa harus menjadi objeknya anak sekolah, kalau mau menjadi objek anak sekolah berarti melakukan eksploitasi terhadap proses pendidikan kita, merubah pendidikan dari yang punya karakter menjadi pendidikan yang komersial,” ujar Dedi dikutip dari Instagram @dedimulyadi71, Rabu (26/2/2025).

Baca Juga:  KDM Sentil Wali Kota Bandung soal Teras Cihampelas: Berani Bereskan?

Lebih lanjut, ia menyoroti risiko yang muncul akibat minimnya standar kualitas dalam penyelenggaraan wisata sekolah.

Dedi menyinggung kasus kecelakaan bus yang membawa siswa SMK di Depok saat perjalanan wisata di Ciater, sebagai contoh buruk dari praktik ini.

“Kalau travel objeknya hanya anak sekolah, gak usah belajar marketing, itu cukup bertemu dengan kepala sekolah kasih diskon yang cukup jadi deh barang, meskipun kualitas penyelenggaraannya misalnya buruk, dan bis nya mengalami kecelakaan seperti kasus yang terjadi SMK di Depok di Ciater,” paparnya.

Baca Juga:  Hutan di Jabar Rontok Dibabat, Dedi Mulyadi: Atuh Habis Odah!

Dedi juga menekankan bahwa kebijakan ini bukan hanya untuk dunia pendidikan, tetapi juga bertujuan menekan angka kemiskinan.

Menurutnya, banyak orang tua dengan penghasilan pas-pasan terpaksa mengeluarkan biaya besar untuk kegiatan sekolah, yang akhirnya membebani ekonomi keluarga.

“Karena orang tua yang penghasilannya pas-pasan, dengan mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah yang menghabiskan anggran 4-5 juta itu bisa mendapat pada menurunnya angka kualitas hidupnya, bahkan mereka bisa pinjam kesana-kemari, ke pinjol, kemudian renternir, bank emok, kemudian bank keliling yang pada akhirnya menjadi pembebanan ekonomi dan angka kemiskinan jadi semakin meningkat,” ungkapnya.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Cecar Kades Wiwin Soal Nasi Kotak: Bikin Repot

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah telah menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk subsidi pendidikan. Namun, jika sekolah masih memberlakukan berbagai pungutan tambahan, maka subsidi tersebut kehilangan maknanya.

“Jika subsidi pendidikan tidak ada artinya karena banyak pungutan tambahan, lebih baik sekolah bayar saja,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi sekolah travel
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Resmi Cair! Bansos PKH-BPNT Juli 2026 Mulai Disalurkan, Begini Cara Cek Penerima Lewat HP

Densus 88 Geledah Kontrakan Pedagang Es Teh Usai Ledakan Dadaha

pembunuhan

Ledakan Keras Hancurkan Toko Bangunan di Purwakarta, Satu Korban Meninggal Dunia

Lansia di Cimahi yang Sempat Hilang Ditemukan Tewas di Sumur Sedalam 14 Meter

Jalan Diponegoro Bandung Resmi Ditutup Permanen, Ini Rute Alternatif Terbaru di Sekitar Gedung Sate

Mobil Hantam Tiang PJU di Jalan Dago Bandung, Polisi Selidiki Dugaan Pengemudi Mabuk

Terpopuler
  • Sosok Febrie Adriansyah, Sang Pemburu Jadi Buruan? Menguak Sisi Lain Kasus Korupsi yang Mengguncang Negeri!
  • Polemik Aksi Kamisan, Kehadiran Kelompok LGBT dalam Gerakan HAM Jadi Sorotan
  • Muhammad Farhan Dilarikan ke Rumah Sakit, Ini Kondisi Terbarunya
  • Selangor Malaysia Bidik Pasar Indonesia Lewat Promosi Wisata Medis di Bandung
  • Tragis! Tiga Warga Bandung Barat Tewas Diduga Akibat Ledakan Mortir
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.