Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Ini Rapat Apa Tempat Curhat? Dosa-dosa Politik Bupati Gowa yang Bikin 45 Anggota Dewan Kompak Mendepaknya!

Kamis, 13 Agustus 2026 08:28 WIB
Bansos

PKH dan BPNT Agustus 2026 Cair Bertahap, Segera Cek Status Penerima dan Saldo

Kamis, 13 Agustus 2026 05:00 WIB

Gila! Gemini Resmi Tembus 1 Miliar Pengguna, Persaingan dengan ChatGPT Makin Panas

Kamis, 13 Agustus 2026 04:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ini Rapat Apa Tempat Curhat? Dosa-dosa Politik Bupati Gowa yang Bikin 45 Anggota Dewan Kompak Mendepaknya!
  • PKH dan BPNT Agustus 2026 Cair Bertahap, Segera Cek Status Penerima dan Saldo
  • Gila! Gemini Resmi Tembus 1 Miliar Pengguna, Persaingan dengan ChatGPT Makin Panas
  • Bansos Beras 30 Kg Cair Lagi, Benarkah Bisa Diambil di Kopdes Merah Putih? Cek Caranya
  • Klaim Saldo DANA Gratis Rp250.000 Hari Ini 13 Agustus 2026, Cek Cara Ambil lewat Fitur Resmi dan Aplikasi Penghasil Uang
  • Kode Redeem FF Terbaru 13 Agustus 2026: Klaim Skin Weapon Elegan dan Voucher Gratis Sekarang!
  • Sanksi FIFA Resmi Dicabut, Persib Bisa Daftarkan Skuad Baru untuk Musim 2026/27
  • Hilang 12 Hari, Warga Tasikmalaya Ditemukan Meninggal di Sumur Tua yang Dihuni King Kobra
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 13 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Mahasiswa VS Bobotoh: Ketika Euforia Juara Persib Dianggap ‘Mengganggu’ Kaum Intelek!

By SusanaRabu, 27 Mei 2026 14:53 WIB5 Mins Read
Polemik ITBFess. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Jagat media sosial tengah dihebohkan dengan hilangnya akun menfess kampus ITBFess di platform X. Akun tersebut mendadak tidak dapat diakses setelah muncul unggahan anonim yang memicu kemarahan Bobotoh Persib Bandung.

Polemik bermula ketika sebuah kiriman anonim di ITBFess menyinggung aksi konvoi Persib Bandung usai memastikan gelar juara Super League 2025/2026. Dalam unggahan yang viral tersebut, muncul penyebutan terhadap Bobotoh dengan istilah yang dianggap merendahkan, seperti “hama”.

Narasi itu langsung menyebar luas di media sosial dan menuai reaksi keras dari para pendukung Persib. Situasi semakin memanas karena unggahan tersebut muncul bertepatan dengan momen euforia konvoi juara Persib pada Minggu, 24 Mei 2026.

Tidak sedikit warganet yang menilai unggahan tersebut berlebihan dan berpotensi memicu konflik sosial di tengah suasana perayaan kemenangan Maung Bandung.

Komentar Warganet Ramai Soroti Etika dan Cara Pandang terhadap Bobotoh

Kolom komentar media sosial pun dipenuhi berbagai tanggapan dari masyarakat. Sebagian besar menyoroti pentingnya etika dalam bermedia sosial dan meminta publik tidak menggeneralisasi seluruh komunitas Bobotoh maupun sivitas akademika kampus.

Beberapa komentar warganet yang ramai dikutip di Instagram @fjb.unisbray, di antaranya:

“Kadang kudu di balikeun deui, mahasiswa itu bukan kelas pada masyarakat, tapi proses kelas menuju masyarakat. Jadi belajarlah menempatkan pengetahuan dan adab,” tulis akun @sig***.

Komentar tersebut mendapat banyak dukungan karena dianggap mewakili keresahan publik terkait cara penyampaian opini di media sosial yang dinilai mulai kehilangan empati.

Ada pula warganet yang mencoba melihat sisi lain dari euforia Bobotoh saat konvoi juara Persib berlangsung.

“Kami mah ka barudak sakola, sok jang konvoi sing wareg, ngan ulah poho kana wanci, wancina sholat ya sholat, wancina dahar ya dahar, ulah ngaganggu ka nu sejen ulah ngaruksak fasilitas. Cukup sakitu ge. Hidup Persib,” tulis akun @new***.

Komentar itu memperlihatkan bahwa banyak Bobotoh sebenarnya memahami batasan dalam merayakan kemenangan. Euforia dianggap sah selama tidak merugikan masyarakat lain.

Sementara komentar lain menyinggung soal aktivitas kampus dan kemacetan yang selama ini juga dirasakan masyarakat sekitar.

“Wisudaan oge menganggu, macet di Tamansari, Ciumbuleuit, Ganesha. Tapi masyarakat ngarti. Tara nepika nyieun statement pikanyerieun kitu,” tulis akun @fau***.

Narasi tersebut kemudian berkembang menjadi diskusi yang lebih luas tentang toleransi di ruang publik Kota Bandung.

Tobias Ginanjar Bertemu Rektorat ITB

Di tengah polemik yang terus membesar, Ketua Umum Viking Persib Club, Tobias Ginanjar, memilih menempuh jalur komunikasi dengan pihak kampus.

Tobias mengungkapkan dirinya telah bertemu langsung dengan Rektor ITB beserta jajaran pimpinan kampus. Dalam pertemuan tersebut, Tobias meminta publik tidak menganggap ITB sebagai institusi yang anti terhadap Bobotoh atau Persib Bandung.

“Saya bertemu Rektor ITB dan beliau juga Bobotoh, Wakil Rektor dan Dekan-Dekan juga. Jadi jangan menggeneralisir ITB anti Bobotoh, ITB anti Persib,” ujar Tobias.

Menurut Tobias, pihak Viking Persib Club dan rektorat ITB memiliki pandangan yang sama bahwa unggahan bernada provokatif tersebut tidak bisa dibenarkan.

Ia juga menyebut pihak kampus telah berkomitmen untuk menindak pihak yang terlibat sesuai aturan internal.

ITB Sampaikan Permintaan Maaf

Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, turut menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi di media sosial.

Ia menegaskan bahwa kampus tidak pernah membenarkan ujaran yang bersifat provokatif maupun memecah belah masyarakat.

“Kami sama sekali tidak membenarkan dan menyesalkan, bahkan mengutuk pernyataan-pernyataan yang sifatnya provokatif,” ujarnya.

Menurut Tatacipta, media sosial sering kali membuat persoalan berkembang seperti bola salju hingga memicu konflik yang lebih luas di ruang publik.

Persib Bandung Bukan Sekadar Klub, tapi Identitas Warga Jawa Barat

Di balik polemik tersebut, banyak pihak menilai penting untuk memahami posisi Persib Bandung di tengah masyarakat Jawa Barat.

Bagi warga Bandung dan Jawa Barat, Persib bukan hanya klub sepak bola biasa. Persib telah menjadi simbol identitas, kebanggaan daerah, bahkan warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Pengamat sejarah Bandung, Hevi Fauzan, menyebut Persib lahir dari semangat nasionalisme masyarakat pribumi pada masa kolonial Belanda.

“Persib itu representasi masyarakat pribumi Sunda di tingkat nasional,” ujarnya.

Karena itulah, hubungan emosional masyarakat dengan Persib sangat kuat. Dukungan terhadap Maung Bandung tumbuh secara alami di lingkungan keluarga, dari ayah kepada anak, hingga cucu.

Konvoi Persib, Euforia yang Hanya Terjadi Saat Juara

Konvoi kemenangan Persib juga dianggap sebagai momen langka yang tidak terjadi setiap waktu. Perayaan besar itu hanya muncul ketika Persib berhasil menjadi juara.

Di tengah lautan biru dan kemacetan kota, ada banyak sisi positif Bobotoh yang jarang mendapat sorotan publik.

Salah satunya adalah aksi sejumlah Bobotoh yang membuka jalan bagi ambulans agar tetap bisa melintas di tengah padatnya konvoi.

Selain itu, banyak Bobotoh yang membantu mengatur lalu lintas secara spontan, menjaga sesama suporter, hingga berbagi makanan dan minuman di jalan.

Hal-hal seperti itu sering kali tenggelam oleh narasi negatif yang lebih cepat viral di media sosial.

Persib dan Bobotoh, Warisan yang Terus Hidup

Kecintaan terhadap Persib telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa Barat. Dari Stadion Siliwangi hingga Gelora Bandung Lautan Api, cerita tentang Persib terus diwariskan lintas generasi.

Bagi sebagian orang, Persib mungkin hanya klub sepak bola. Namun bagi Bobotoh, Persib adalah identitas, kenangan, sekaligus ruang emosional yang menyatukan jutaan orang di Tanah Pasundan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bobotoh disebut hama Bobotoh Persib ITBFess viral konvoi Persib juara Persib Bandung polemik ITB dan Bobotoh Rektor ITB Tobias Ginanjar viking persib club
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ini Rapat Apa Tempat Curhat? Dosa-dosa Politik Bupati Gowa yang Bikin 45 Anggota Dewan Kompak Mendepaknya!

Bansos

PKH dan BPNT Agustus 2026 Cair Bertahap, Segera Cek Status Penerima dan Saldo

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bansos Beras 30 Kg Cair Lagi, Benarkah Bisa Diambil di Kopdes Merah Putih? Cek Caranya

Hilang 12 Hari, Warga Tasikmalaya Ditemukan Meninggal di Sumur Tua yang Dihuni King Kobra

Goreng Saham Pakai Uang Umat? Polemik Panas Wakaf Istiqlal Masuk Bursa

gempa

Bukan Sekali! Dua Gempa Dangkal Guncang Bandung, Getarannya Dirasakan Warga Pangalengan

Terpopuler
  • Genap 1 Tahun, PRI Jawa Barat Tegaskan Komitmen Jadi Rumah Rakyat
  • MUSWIL VII KAHMI Jabar Tuntas, 7 Presidium Terpilih Bawa Mandat Baru
  • Teti Ratnasih Terpilih Pimpin FORHATI Jabar, Bawa Misi Besar Transformasi Keumatan
  • 10 Pohon Hilang di Jalan Riau Bandung, Pemkot Kecolongan? Pengamat Bongkar Lemahnya Pengawasan
  • FOTO: Lebih dari Sepak Bola: Momen Hangat Penuh Respek di Final Piala Presiden 2026
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.