Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Marc Klok hingga Beckham Putra Hilang dari Daftar, Ini Alasan John Herdman Rombak Timnas Indonesia

Sabtu, 19 September 2026 13:24 WIB

Xabi Alonso Kecewa Berat! Chelsea Remuk Redam Dihajar Brentford Tiga Gol Tanpa Balas

Sabtu, 19 September 2026 13:11 WIB

Pamer Lencana KPK, Oknum LSM Pemeras Ketua Kelompok Tani di Sukabumi Dicokok Polisi

Sabtu, 19 September 2026 12:07 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Marc Klok hingga Beckham Putra Hilang dari Daftar, Ini Alasan John Herdman Rombak Timnas Indonesia
  • Xabi Alonso Kecewa Berat! Chelsea Remuk Redam Dihajar Brentford Tiga Gol Tanpa Balas
  • Pamer Lencana KPK, Oknum LSM Pemeras Ketua Kelompok Tani di Sukabumi Dicokok Polisi
  • Bongkar Alasan Dikick dari Kemenkeu! Aksi ‘Koboy’ Purbaya Berakhir di Kolam Pancing, Siap Kejar Pilgub Jabar?
  • Innalillahi, Mantan Gubernur Jabar Danny Setiawan Tutup Usia
  • Proyek Kabel Gatot Subroto Bandung Amburadul, Internet IndiHome Mati Nyaris Sepekan dan Bikin Rugi
  • Gagal Bayar Denda, WNI Dibui Gara-gara Buang Puntung Rokok Sembarangan di Malaysia
  • Liburan Tanpa Ribet! 10 Destinasi Wisata Sukabumi Ini Bisa Dijangkau Cuma Naik Kereta Api
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 19 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Michael Octavian ‘Si Manusia Silver’: Remaja Pasar Baru yang Kini Melangkah di Atas Runway

By Aga GustianaJumat, 23 Januari 2026 09:50 WIB5 Mins Read
Michael O, atau sekarang lebih dikenal Mike Octavian. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Nama Michael Octavian belakangan dikenal publik sebagai “manusia silver yang jadi model”. Namun di balik label viral itu, Michael—atau Mike—adalah potret remaja Jakarta yang tumbuh di lingkungan sederhana, belajar mandiri sejak dini, dan menemukan jalannya sendiri melalui pengalaman hidup yang tak lazim bagi anak seusianya.

Mike lahir dan besar di Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Kawasan tua yang riuh, padat, dan sarat aktivitas ekonomi rakyat kecil. Sehari-hari, ia akrab dengan hiruk-pikuk pasar, suara kendaraan, dan ritme hidup yang menuntut kecekatan. Ayahnya bekerja sebagai sopir, sementara ibunya, Susan, berjualan ikan asin di pasar tradisional. Keluarga ini hidup sederhana, tanpa kemewahan, namun berkecukupan.

Sebagai anak, Mike tumbuh seperti remaja kebanyakan. Ia pendiam, tak banyak tingkah, dan lebih sering mengamati sekitar daripada menjadi pusat perhatian. Tak ada latar dunia hiburan atau fashion dalam hidupnya. Runway, desainer, dan agensi model adalah dunia yang terasa jauh—bahkan tak pernah ia bayangkan.

Lingkungan tempat tinggalnya turut membentuk pilihan hidup Mike. Di sekitar rumahnya, banyak remaja mencari uang sendiri dengan menjadi manusia silver di lampu merah. Aktivitas itu bukan hal tabu, melainkan realitas yang lumrah ditemui.

“Beneran manusia silver (bukan gimmick), ikut teman, teman di sekitar rumah cari uang di situ. Di daerah Pasar Baru,” kata Mike saat menjadi bintang tamu di acara Pagi Pagi Ambyar TransTV, Rabu (21/1/2026).

Keputusan Mike turun ke jalan bermula dari rasa ingin tahu dan keinginan mandiri. Ia tak ingin terus bergantung pada orang tua, meski keduanya masih bekerja dan berusaha mencukupi kebutuhan keluarga. Menjadi manusia silver bukan cita-cita, melainkan jalan yang ia pilih untuk belajar bertanggung jawab.

Baca Juga:  Dari Gerobak Sosis ke Runway JFW: Kisah Saeruroh, Perempuan Tegal yang Menantang Batas

Setiap hari, tubuhnya dilumuri cat berwarna silver. Ember kecil bekas cat menjadi teman setia. Ia berdiri di persimpangan lampu merah Pasar Baru, menunggu lampu berubah merah, lalu berjalan menghampiri kendaraan satu per satu. Terik matahari, aspal panas, dan pandangan orang-orang yang beragam—iba, acuh, hingga curiga—menjadi bagian dari kesehariannya.

Selama hampir satu tahun, Mike menjalani rutinitas itu. Penghasilannya tak seberapa, namun cukup untuk memberinya rasa bangga.

“Rp80–100 ribu sehari,” ujarnya.

Uang itu bukan sekadar nominal. Bagi Mike, itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Ia belajar mengatur uang, menahan lelah, dan memahami arti jerih payah.

Tak hanya soal fisik, menjadi manusia silver juga menguji mental. Ada rasa malu, takut, dan waswas, terutama saat razia petugas datang.

“Pernah (hampir kena razia Satpol PP) tapi lari,” kata Mike sambil tertawa.

Tawa itu terdengar ringan, namun menyimpan pengalaman yang membentuk kedewasaan Mike lebih cepat dari usianya. Ia tak memandang masa itu sebagai sesuatu yang memalukan. Justru sebaliknya.

“Karena di luar pengin jadiin pengalaman, jadi bisa lebih bersyukur karena ada orang yang lebih susah,” katanya.

Diam-diam dari Orang Tua

Meski mandiri, Mike memilih menyembunyikan pekerjaannya dari orang tua. Ia tahu ibunya tak akan setuju. Kekhawatiran orang tua bukan tanpa alasan—lampu merah adalah ruang publik yang keras dan penuh risiko.

Susan, sang ibu, mengenang masa itu dengan perasaan campur aduk antara takut, marah, dan bangga.

Baca Juga:  Kisah Haru Adik Yatim Piatu Jadi Sarjana Berkat Keringat Kakaknya yang Rela Jadi TKW

“Mike pertama (jadi manusia silver) umpet-umpetan dari mama papanya, saya dagang ikan asin di pasar, saya dengar ada razia, takutnya Michael (ketangkap) tapi ternyata dia kabur,” ujar Susan.

Saat mengetahui anaknya benar-benar turun ke jalan, Susan tak bisa menahan emosi.

“Saya marahin, gak usah (jadi manusia silver lagi) kita juga masih bisa (biayain) sedikit-sedikit, tapi mungkin dia mau mandiri,” katanya sambil menangis.

Bagi Mike, larangan itu justru mempertegas nilai keluarga yang ia pegang. Ia tak pernah berniat melawan orang tua, hanya ingin membuktikan bahwa ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Viral dan Identitas Baru

Takdir Mike berubah saat sebuah video sederhana mengabadikan dirinya di lampu merah. Video itu membawanya bertemu dengan Captain Barbershop, yang kemudian melakukan makeover dan mengunggahnya ke media sosial.

“Aku ada (di konten) Captain Barbershop untuk bikin video make over,” kata Mike.

Transformasi itu bukan sekadar soal penampilan. Rambut dipotong rapi, pakaian disesuaikan dengan postur tubuhnya yang tinggi—sekitar 180–181 sentimeter. Untuk pertama kalinya, Mike melihat dirinya dari sudut pandang berbeda.

Video tersebut viral. Tanpa disadari Mike, wajahnya mulai dikenal banyak orang. Bahkan, sejumlah pelaku industri fashion melihat potensi yang selama ini tersembunyi.

“Video aku viral, ada agency yang tertarik dengan Mike. Pas video viral itu, aku lagi minta-minta di lampu merah, ada yang videoin,” katanya sambil tertawa kecil, masih tak percaya.

Beberapa bulan kemudian, tawaran demi tawaran datang. Mike yang sebelumnya asing dengan dunia modelling, mulai belajar berjalan, berpose, dan memahami disiplin kerja profesional.

Baca Juga:  Kisah Haru Nur Rahmadani: Siswi di Sigi yang 'Merayu' Pengelola MBG Demi Kado Ulang Tahun Ayah

“(Setelah video itu viral) terus aku ditawarin jadi model. Sekitar beberapa bulan, ada agency yang tertarik,” katanya.

Tahun 2024 menjadi tonggak penting. Ia dipercaya berkolaborasi dengan jenama Signore, sebuah kesempatan besar bagi pendatang baru. Tak lama, Mike resmi bergabung dengan Humann Management.

“Gak sangka banget, aku gak tau video aku viral. Ada banyak teman support aku,” ujarnya.

Dari Lampu Merah ke Runway

Kini, identitas Mike perlahan bergeser. Ia bukan lagi sekadar anak Pasar Baru atau mantan manusia silver, melainkan model runway profesional. Namun sifatnya tetap sama—rendah hati, pemalu, dan sederhana.

“Aku sudah jalan di panggung Plaza Indonesia Fashion Week dan (pakai baju dari) desainer. Awalnya tegang, hati mah senang bisa jalan di panggung itu, tapi dengkul bergetar,” katanya berseloroh.

Perubahan terbesar terasa pada penghasilan. Jika dulu ia mengandalkan recehan di lampu merah, kini ia menerima bayaran berkali-kali lipat untuk sekali tampil.

“Alhamdulillah iya (bayaran berkali-kali lipat),” kata Mike malu-malu.

Bagi sang ibu, pencapaian ini adalah buah dari kerja keras dan doa.

“Alhamdulillah saya bangga, dari tadi keluar air mata, saya bangga, kerja keras dia berhasil, sukses ya nak,” kata Susan.

Michael Octavian adalah kisah tentang remaja yang menemukan jati diri melalui pengalaman hidup, bukan privilese. Dari Pasar Baru ke panggung mode, ia membawa masa lalu sebagai bagian dari identitasnya—bukan untuk dilupakan, melainkan untuk diingat sebagai fondasi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Kisah Inspiratif
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Liburan Tanpa Ribet! 10 Destinasi Wisata Sukabumi Ini Bisa Dijangkau Cuma Naik Kereta Api

Rekomendasi 10 Anime Pendek Terbaik yang Bisa Ditamatkan dalam Sehari, Cocok Buat Maraton Weekend!

Ngeri Dipalak Sejuta Sehari! Pengakuan Blak-blakan Korban Pungli Jogja yang Bikin Satu Indonesia Murka

8 Tahun Disimpan, Erin Ungkap Dugaan Perselingkuhan Andre Taulany dengan Sinden OVJ

Cari Bakso dan Mie Ayam Enak di Bandung? Ini 4 Rekomendasinya

Bikin Takjub! Aksi ‘Orator Cilik’ Asal Cilacap Bikin Satu Kelas Terpukau, Bakat Alaminya Luar Biasa

Terpopuler
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Proyek Kabel Gatot Subroto Bandung Amburadul, Internet IndiHome Mati Nyaris Sepekan dan Bikin Rugi
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
  • Karpet Merah Mobilitas Publik atau Kuburan Ekonomi Rakyat: Menelisik Polemik di Balik Megaproyek BRT Bandung Raya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.