bukamata.id – Malam puncak penobatan Duta Budaya Indonesia 2026 yang dihelat di Bale Pangenggar, Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah, pada 21 Oktober 2026, menyisakan jejak cerita yang riuh di panggung utama maupun di jagat maya. Panggung nasional yang berdiri megah di kota budaya tersebut menjadi saksi bisu pembuktian prestasi dua putri daerah asal Sumatera Selatan. Namun, di balik kerlip lampu sorot dan kilauan mahkota, ajang ini juga memicu perdebatan hangat, sorotan tajam, hingga kritik tajam dari para pencinta pageant di media sosial.
Dua nama dari Bumi Sriwijaya menjadi pusat perhatian: Carissa Alya Shafira, siswi SMP berusia 13 tahun yang berhasil keluar sebagai The Winner Duta Budaya Indonesia 2026 sekaligus menyabet gelar Best Fotogenic, serta Winna Maharani, remaja berusia 15 tahun yang bertengger di posisi 3rd Runner Up dan memboyong penghargaan Best Costume 2026.
Meski keduanya sama-sama membawa pulang gelar membanggakan bagi Sumatera Selatan, perbandingan gestur di atas panggung hingga isu dinamika internal selama karantina mendadak viral dan menjadi konsumsi publik.
Mengenal Dua Putri Berbakat dari Bumi Sriwijaya
Untuk memahami lanskap kompetisi secara utuh, publik perlu melihat lebih dekat rekam jejak kedua perwakilan asal Palembang ini. Baik Carissa maupun Winna bukanlah figur baru dalam dunia seni, budaya, dan pemodelan remaja, meski keduanya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Carissa Alya Shafira: Sang Pemenang Utama dan Langkah Duta Muda
Carissa Alya Shafira lahir dan tumbuh di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, siswi SMP LTI IGM Palembang ini telah menunjukkan ketertarikan yang amat mendalam terhadap dunia seni pertunjukan dan pelestarian budaya lokal.
Sebelum melangkah ke ajang nasional di Solo, Carissa mengukir prestasi sebagai Runner Up II Duta Budaya Sumatera Selatan 2026. Kiprah seni perannya juga teruji tatkala ia dipercaya menjadi pemeran utama dalam film pendek/dokumenter bertajuk “The Dance of Gending Sriwijaya”, sebuah karya audio-visual yang mengangkat keagungan tarian tradisional khas Palembang.
Tak berhenti pada dunia panggung dan akting, Carissa mengusung program advokasi nyata bertajuk “Generasi Cinta Budaya”. Program ini difokuskan untuk mengenalkan kekayaan tradisi Sumatera Selatan kepada anak-anak sejak usia dini, termasuk aksi sosial yang secara konsisten ia lakukan di Panti Asuhan Berkah Ilahi. Komitmen dan visualnya yang menawan menghantarkannya meraih gelar The Winner Duta Budaya Indonesia 2026 serta penghargaan Best Fotogenic.
Winna Maharani: Model Remaja dan Inisiator Swara Budayo
Di sebelah podium Carissa, berdiri Winna Maharani. Gadis kelahiran 22 September 2011 yang baru saja genap berusia 15 tahun ini merupakan siswi kelas 9 di SMP LTI IGM Palembang. Winna memiliki rekam jejak yang cukup panjang di dunia pemodelan remaja. Ia bernaung di bawah bendera @bmodelschool dan bahkan telah mendirikan platform independen bernama @swarabudayo.winna.
Sebelum berkompetisi di tingkat nasional, Winna menyabet gelar Runner Up 3 sekaligus Duta Budaya Sumatera Selatan Favorite 2026. Pengalamannya di atas panggung fashion tidak perlu diragukan lagi; ia pernah tampil dalam ajang bergengsi ASEAN Fashion Festival 2026.
Melalui media sosial dan platform digital, Winna aktif mengedukasi anak muda mengenai sejarah dan nilai estetik kain songket, batik, serta ragam busana adat Sumatera Selatan. Di panggung nasional di Solo, keahlian memperagakan busana ini berbuah manis dengan raihan gelar Best Costume 2026 dan 3rd Runner Up Duta Budaya Indonesia 2026.
Kontras di Balik Podium: Gugup sang Juara vs Tenangnya Runner Up
Malam grand final yang disiarkan dan diabadikan dalam berbagai cuplikan video membawa publik pada satu momen krusial: sesi presentasi dan pidato kebudayaan di atas panggung. Potongan video berdurasi singkat yang beredar luas di media sosial menampilkan kontras yang sangat kentara antara gestur Carissa dan Winna.
Carissa Alya Shafira yang mengenakan selempang finalis tampil membawakan ulasan mengenai warisan kain khas daerahnya. Dalam potongan pidatonya, Carissa menyampaikan:
“Songket merupakan kain khas tradisional Palembang…”
Namun, raut wajah dan bahasa tubuh Carissa tidak bisa menyembunyikan rasa gugup yang memuncak. Di balik mikrofon, nada suara serta tatapannya merefleksikan ketegangan yang lazim dirasakan oleh seorang remaja 13 tahun yang berdiri di bawah tekanan panggung nasional.
Pemandangan berbeda terlihat pada Winna Maharani. Berdiri anggun dalam balutan busana adat bernuansa hijau dan emas yang mewah, Winna menyampaikan orasinya dalam bahasa Inggris dengan sangat tenang, artikulasi jelas, dan penguasaan panggung yang matang:
“The diamond motif symbolizes perfection, hope, and balance on this journey toward a better life. Thank you,” tutur Winna penuh percaya diri sambil menyatukan kedua telapak tangannya di dada memberikan salam penutup.
Penguasaan bahasa Inggris yang fasih serta gestur tubuh yang santai dari Winna langsung menyedot simpati publik. Perbedaan mencolok inilah yang memicu gelombang komentar dari warganet. Banyak yang mempertanyakan mengapa peserta yang tampak gugup dan terbata-bata justru keluar sebagai pemenang utama (The Winner), sedangkan peserta yang tampil nyaris tanpa cela harus puas berada di posisi runner up.
Gelombang Reaksi Netizen: Dari Sindiran Hingga Dugaan Kejanggalan
Ruang komentar di berbagai media sosial dan portal berita pageant mendadak penuh dengan analisis dan kritik pedas dari publik. Sebagian netizen menilai bahwa fenomena “jawaban bagus tapi tak jadi pemenang” sudah sering terjadi dalam berbagai kontes kecantikan maupun duta budaya.
“Udah biasa itu kak. Kemarin Ais juga gitu di Mr Internasional.. Jawaban bagus, cas cis cus. Eh, mentok juara 3,” tulis seorang netizen membandingkan hasil ajang ini dengan kompetisi internasional lainnya.
Tak berhenti pada penilaian panggung, warganet juga menyoroti kebijakan penyelenggara yang dinilai kurang terbuka terhadap liputan media atau portal pageant independen.
“Pantesan @dutabudayaindonesia gak mau undang portal biar kayak gini-gini gak terekspos tapi jangan sedih banyak portal yang akan tau. Berbenah setiap tahun bukannya makin oke makin jatuh. Semoga makin banyak yg daftar ya bukan makin sedikit,” sindir netizen lainnya.
Tensi perdebatan makin memuncak ketika muncul tuduhan mengenai dugaan ketidaktransparanan dalam proses penilaian selama karantina, perubahan rencana yang mendadak, hingga ketidakjelasan regulasi kategori usia. Beberapa warganet yang mengaku memantau langsung jalannya karantina menyuarakan kekecewaan mereka:
“Pada intinya, bukan tidak menerima kekalahan. Namun, melawan kecurangan. Bisa bilang begini karena memang banyak saksi dari karantina. Bagaimana plan berubah tiba2, dlsb. Jikalau memang penilaian ONLY karantina, just say, di malam final ini enjoy show aja ya guys karena winner sudah ada. Keanehan sudah dimulai dari vote. Kok bisa ada Usia remaja, bahkan masih SMP masuk ke kloter dewasa? Ketika kami menanyakan, jawabnnya itu ketentuan dari regionalnya, nasional hanya tinggal menerima. Like, HAH?,” celetuk warganet dalam komentar panjang yang meragukan kredibilitas sistem kompetisi.
Kritik terkait penggabungan peserta usia SMP ke dalam kloter dewasa menjadi salah satu poin yang paling banyak dipertanyakan. Mengingat Carissa (13 tahun) dan Winna (15 tahun) masih tergolong usia remaja/sekolah menengah, publik menilai ada ketidaksesuaian standar operasional prosedur antara panitia tingkat daerah dan panitia tingkat nasional.
Rangkuman Prestasi Sumatera Selatan di Duta Budaya Indonesia 2026
Terlepas dari riuhnya kontroversi dan dinamika penilaian juri, fakta mencatat bahwa kontingen dari Provinsi Sumatera Selatan berhasil mendominasi panggung utama di Solo. Berikut adalah rekapitulasi pencapaian dua wakil muda Palembang tersebut:
- Carissa Alya Shafira (13 Tahun / SMP LTI IGM Palembang):
- The Winner Duta Budaya Indonesia 2026
- Best Fotogenic Duta Budaya Indonesia 2026
- Winna Maharani (15 Tahun / SMP LTI IGM Palembang):
- 3rd Runner Up Duta Budaya Indonesia 2026
- Best Costume Duta Budaya Indonesia 2026
Refleksi Bagi Dunia Pageant dan Pelestarian Budaya
Peristiwa yang terjadi pada malam puncak Duta Budaya Indonesia 2026 di Bale Pangenggar Solo memberi pelajaran berharga bagi industri pageant dan ajang pemilihan duta di Tanah Air.
Di satu sisi, keberanian Carissa Alya Shafira dan Winna Maharani untuk berdiri di panggung nasional pada usia yang sangat muda patut diacungi jempol. Keduanya membuktikan bahwa generasi Z dan Alfa memiliki kepedulian yang nyata terhadap kelestarian warisan tradisi seperti Kain Songket Palembang dan Tarian Gending Sriwijaya.
Di sisi lain, riuhnya suara netizen menjadi pengingat keras bagi pihak penyelenggara. Keterbukaan sistem penilaian, ketegasan regulasi usia, serta profesionalisme selama masa karantina hingga malam puncak adalah kunci utama untuk menjaga kehormatan sebuah ajang kebudayaan. Tanpa transparansi, gelar dan mahkota yang disematkan akan selalu dibayangi oleh prasangka dan perdebatan publik.
Kini, tugas berat berada di pundak Carissa Alya Shafira sebagai The Winner dan Winna Maharani sebagai 3rd Runner Up. Di luar hiruk-pikuk komentar netizen, pembuktian sesungguhnya terletak pada karya dan kontribusi nyata mereka dalam menggemakan kebudayaan Indonesia sepanjang masa jabatan mereka.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











