bukamata.id – Pemerintah Provinsi Jawa Barat merampungkan revitalisasi kawasan Gedung Sate yang mengintegrasikan area Gedung Sate, Jalan Diponegoro, hingga Lapangan Gasibu, Kota Bandung.
Kawasan yang kini diberi nama Pasanggrahan Panca Rasa tersebut resmi dibuka untuk masyarakat bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).
Penataan kawasan menghadirkan nuansa tempo dulu dengan sentuhan arsitektur tradisional Nusantara. Konsep tersebut terlihat dari sejumlah elemen baru yang mengubah wajah kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu.
Jalan Diponegoro yang sebelumnya menggunakan aspal kini dilapisi batu andesit. Di sisi barat dan timur kawasan juga terdapat gapura yang memperkuat kesan kawasan heritage.
Sementara itu, area Lapangan Gasibu di sisi utara Gedung Sate ditata menyerupai pelataran berbahan bambu. Area tersebut menjadi bagian dari konsep baru kawasan yang terinspirasi dari alun-alun pada masa kerajaan di Nusantara.
Dari sisi anggaran, revitalisasi dan penataan kawasan Plaza Gedung Sate yang terintegrasi dengan Jalan Diponegoro dan Lapangan Gasibu mencapai sekitar Rp15,8 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Jawa Barat.
Jika ditambah dengan penataan gerbang dan pilar pada tahap sebelumnya, total anggaran penataan kawasan tersebut mencapai sekitar Rp35,6 miliar.
Proyek revitalisasi berlangsung sejak April dan rampung pada Agustus 2026.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, nama Pasanggrahan Panca Rasa dipilih untuk menggambarkan konsep kawasan sebagai ruang berkumpul masyarakat.
“(Namanya) Pasanggrahan Panca Rasa. Pasanggrahan, ya orang bilang pelataran. Di situ ada pelataran tuh yang dikomersialkan, nah pelataran tuh tempat berkumpul kan alun-alun. Pasanggrahan tuh dulu tempat berkumpulnya orang pakai kuda, daerah kerajaan, makanya tadi ada kudanya,” kata Dedi seusai upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia.
Menurut Dedi, konsep tersebut terinspirasi dari alun-alun kota pada masa lampau yang menjadi ruang berkumpul masyarakat.
Sementara itu, istilah Panca Rasa memiliki makna filosofis tersendiri. Dedi menjelaskan, lima rasa tersebut berkaitan dengan fungsi pancaindra dan hati manusia.
“Ya Panca Rasa itu artinya, punya lima rasa. Punya mata harus melihat, punya telinga harus mendengar, punya hidung harus menghisap, punya lidah harus berucap, punya hati harus ikhlas,” tuturnya.
Dibuka untuk Masyarakat
Dedi menyampaikan kawasan Pasanggrahan Panca Rasa kini dapat dikunjungi masyarakat. Ia mengapresiasi berbagai respons yang muncul selama proses penataan, termasuk kritik terhadap proyek tersebut.
“Ya hatur nuhun (terima kasih), saya juga mengucapkan terima kasih bukan hanya yang merespons positif, pada yang mengkritik pun saya mengucapkan terima kasih,” ungkapnya.
Ia menegaskan, masyarakat dipersilakan menggunakan dan menikmati kawasan tersebut. Namun, pengunjung diminta menjaga kebersihan dan tidak menginjak area rumput yang telah ditata.
“Sudah dibuka, ini dibuka per hari ini. Tetapi rumputnya jangan diinjak ya. Mudah-mudahan, karena yang harus diperbaiki itu bukan hanya mentalitas pejabat, rakyat juga harus diperbaiki,” pungkas Dedi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










