bukamata.id – Sebuah video berdurasi sekitar 36 detik membuat nama Raja Ampat kembali menjadi sorotan. Bukan karena keindahan lautnya, melainkan karena dugaan perburuan penyu yang terekam kamera.
Dalam video tersebut, seorang penyelam warga negara asing (WNA) terlihat berada di kawasan perairan Raja Ampat sambil membawa perlengkapan spearfishing. Ia kemudian tampak mengarahkan alat tersebut ke seekor penyu yang berada di dekat terumbu karang.
Penyu itu diduga menjadi sasaran hingga akhirnya mati.
Peristiwa yang disebut terjadi di kawasan Piaynemo, Raja Ampat, pada 9-11 September 2026 tersebut memicu kemarahan publik. Terlebih, muncul pula dokumentasi lain yang memperlihatkan seekor penyu dalam kondisi mati dan diduga dimasak.
Namun, keterkaitan seluruh dokumentasi tersebut masih perlu dibuktikan melalui penyelidikan resmi.
WNA Diduga Buru Penyu di Kawasan Raja Ampat
Sosok WNA yang dikaitkan dengan video tersebut kemudian diketahui bernama Wei Shang, seorang instruktur selam asal China.
Wei Shang diamankan petugas Imigrasi Makassar di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin ketika hendak meninggalkan Indonesia menggunakan penerbangan AirAsia AK335 dengan rute Makassar-Kuala Lumpur.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Makassar, Abdi Widodo Subagio, membenarkan adanya tindakan terhadap WNA tersebut.
Langkah itu dilakukan setelah adanya permintaan dari Pemerintah Kabupaten Raja Ampat untuk mencegah yang bersangkutan meninggalkan wilayah Indonesia.
Rencananya, Wei Shang akan dikembalikan ke Raja Ampat untuk menjalani proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Status Wei Shang dalam perkara ini masih sebagai terduga. Dugaan keterlibatannya dalam kematian penyu harus dibuktikan melalui proses penyelidikan dan penegakan hukum.
Masyarakat Adat Raja Ampat Lebih Dulu Melapor
Kasus ini juga mendapat perhatian serius dari masyarakat adat setempat.
Patroli DPL Mansaur dari masyarakat adat Raja Ampat sebelumnya mengirimkan surat bernomor 002/PMADPL-M/IX/2026. Surat tersebut berisi permintaan agar aparat menahan dan memproses hukum seorang WNA yang diduga melakukan aktivitas spearfishing hingga menyebabkan kematian penyu.
Dalam laporan itu, nama Wei Shang disebut sebagai pihak yang diduga berada di lokasi kejadian.
Ia diketahui memiliki sertifikasi AIDA International sejak 18 Agustus 2015 pada tingkat instructor trainer dan tercatat masih aktif pada 2025.
Laporan masyarakat adat juga menyebut dugaan kejadian berlangsung di kawasan Piaynemo. Wei Shang disebut menginap di Keruwo Homestay.
Seluruh informasi tersebut kini menjadi bagian yang perlu diverifikasi dalam proses penanganan kasus.
Video Penyu Mati Bikin Kasus Makin Disorot
Perhatian publik semakin besar setelah beredar dokumentasi yang menunjukkan seekor penyu dalam kondisi mati dan diduga kemudian dimasak.
Jika seluruh dokumentasi tersebut terbukti berkaitan dengan peristiwa yang sama, kasus ini bukan sekadar persoalan pelanggaran terhadap satwa laut.
Peristiwa tersebut juga menimbulkan pertanyaan besar tentang aktivitas wisatawan di kawasan konservasi yang seharusnya menjadi ruang perlindungan bagi keanekaragaman hayati.
Raja Ampat selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan laut paling kaya biodiversitas di dunia. Keindahan terumbu karang dan kehidupan bawah lautnya justru menjadi alasan utama kawasan tersebut menjadi tujuan wisata penyelaman dari berbagai negara.
Prilly Latuconsina Ikut Soroti Kasus Penyu Raja Ampat
Kasus tersebut turut mendapat perhatian dari aktris sekaligus penyelam, Prilly Latuconsina.
Pada 15 September 2026, Prilly membagikan ulang unggahan di Threads yang berisi permintaan masyarakat adat terkait penahanan dan proses hukum terhadap WNA tersebut.
Unggahan itu membuat kasus dugaan perburuan penyu semakin luas diperbincangkan di media sosial.
Sorotan dari figur publik tersebut sekaligus kembali mengingatkan bahwa aktivitas wisata bahari tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab terhadap lingkungan.
Penyu Bukan Sekadar Satwa Laut
Di balik video singkat yang viral, ada persoalan ekologis yang jauh lebih besar.
Penyu merupakan salah satu satwa laut yang telah bertahan selama jutaan tahun. Keberadaannya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, termasuk ekosistem padang lamun dan terumbu karang.
Ancaman terhadap penyu tidak hanya berasal dari perubahan lingkungan.
Perburuan, tangkapan sampingan, kerusakan habitat, pencemaran laut, hingga aktivitas manusia juga menjadi ancaman yang dapat mengurangi populasi satwa tersebut.
Karena itu, kematian seekor penyu di kawasan konservasi tidak semata-mata menjadi persoalan hilangnya satu individu satwa.
Ada persoalan perlindungan ekosistem dan kepatuhan terhadap aturan konservasi yang ikut dipertaruhkan.
Raja Ampat dan Ujian bagi Wisata Bahari
Raja Ampat memiliki lebih dari 1.500 pulau dan dikenal sebagai salah satu kawasan dengan kekayaan hayati laut luar biasa.
Terumbu karang menjadi habitat berbagai jenis ikan dan biota laut sekaligus memiliki fungsi penting bagi ekosistem pesisir.
Namun, kekayaan tersebut juga membuat Raja Ampat menjadi tujuan wisata yang sangat diminati.
Semakin banyak wisatawan datang, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan aktivitas pariwisata berjalan dengan prinsip keberlanjutan.
Kasus dugaan perburuan penyu ini menjadi pengingat bahwa wisatawan datang ke Raja Ampat bukan untuk mengambil apa yang ada di dalam laut, melainkan menikmati sekaligus menjaga kekayaan alam yang dimilikinya.
Kini, dugaan kematian penyu tersebut memasuki tahap yang lebih serius setelah WNA yang dikaitkan dengan kasus diamankan di bandara.
Publik tinggal menunggu hasil penyelidikan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di bawah laut Piaynemo dan apakah seluruh dokumentasi yang beredar benar-benar berkaitan dengan satu rangkaian peristiwa.
Yang jelas, seekor penyu telah menjadi pusat perhatian setelah momen tragisnya terekam kamera dan kasus tersebut kini berujung pada penanganan seorang WNA di pintu keluar Indonesia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









