bukamata.id – Ada masa ketika dunia Muhammad Al-Faizih hanya sepetak kamar kos sempit berdinding biru di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Di kamar itu, sebuah kamera CCTV yang terpasang di pojok atas dinding menjadi saksi bisu kesunyian anak laki-laki yang saat itu baru berusia 1 tahun 7 bulan.
Melalui layar ponsel pintar yang digenggam sang ayah di atas stang sepeda motor, terekam momen-momen yang mengiris hati siapapun yang melihatnya. Faiz kecil terlihat meminum botol susunya seorang diri, berguling ke kanan dan ke kiri di atas kasur bermotif kartun, lalu matanya yang polos berulang kali menatap nanar ke arah pintu kayu. Ketika rasa lelah dan kantuk menghampiri, tubuh mungilnya terkulai lelap tepat di dekat celah pintu—menunggu sosok yang paling ia cintai kembali.
Sosok itu adalah Tri Rama Dandi (26), ayah tunggal yang berjuang menembus tebalnya debu jalanan dan teriknya matahari demi menjemput rezeki sebagai pengemudi ojek online.
Hari ini, narasi kesunyian di balik pintu kos itu telah berubah menjadi hamparan keajaiban. Anak kecil yang dulu setia menunggu ayahnya pulang dari menarik orderan, kini menggandeng tangan sang ayah berdiri di ketinggian Jabal Uhud hingga bersujud bersama di bawah megahnya payung raksasa Masjid Nabawi, Madinah. Sungguh, Faiz tidak hanya tumbuh, tetapi juga membukakan jalan bagi ayahnya untuk melangkah sejauh ini.
Sunyi di Kamar Kos dan Keringat di Jalanan
Kisah perjuangan Rama dan Faiz bermula dari hancurnya sebuah bahtera rumah tangga. Di usianya yang masih sangat muda, Rama harus menerima kenyataan pahit: rumah tangganya berakhir dan ia harus membesarkan Faiz seorang diri tanpa didampingi sosok istri maupun bantuan pengasuh.
Sebagai single parent di perantauan tanpa sistem pendukung (support system) yang memadai, pilihan yang dimiliki Rama sangatlah terbatas. Untuk bertahan hidup, ia mengandalkan sepeda motornya untuk menarik orderan ojek online. Namun, dilema besar selalu menghantuinya setiap kali aplikasi di ponselnya berbunyi: bagaimana dengan Faiz?
Demi menyiasati keadaan, Rama memasang kamera CCTV yang terhubung langsung ke ponselnya. Saat menerima pesanan berjarak dekat—kurang dari tiga kilometer—ia terpaksa meninggalkan Faiz sebentar di kamar kos yang terkunci dari luar.
“Sistem kerja saya mobile. Setiap selesai satu order, saya langsung kembali ke kos untuk mengecek anak,” tutur Rama mengenang masa-masa sulit tersebut.
Jantung Rama kerap berdegup kencang tiap kali melaju di jalanan. Di sela-sela membelah kemacetan, matanya sesekali melirik layar ponsel untuk memastikan Faiz baik-baik saja. Jika pesanan yang masuk berjarak lebih dari tiga kilometer, Rama tak sanggup meninggalkan putranya. Ia akan memakaikan jaket dan helm kecil pada Faiz, lalu mengajaknya mengarungi jalanan, menembus angin malam dan panasnya terik matahari.
Rama tak menampik bahwa ia pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Tekanan ekonomi, rasa kesepian, dan rasa bersalah karena harus meninggalkan anak balitanya sendirian sempat membuat harapannya pupus. Namun, setiap kali ia membuka pintu kos dan melihat mata bening Faiz menyambutnya dengan senyuman tulus, rasa lelah itu menguap. Faiz bukan sekadar beban tanggung jawab; Faiz adalah alasan tunggal bagi Rama untuk terus bernapas dan bertahan hidup.
Getaran Syukur yang Mengguncang Warganet
Rekaman CCTV yang memperlihatkan ketabahan Faiz kecil di dalam kamar kos akhirnya beredar di media sosial dan menjadi viral. Jutaan pasang mata menyaksikan betapa santun dan tenangnya balita itu menunggu ayahnya tanpa menangis meraung-raung. Gelombang empati, simpati, dan doa mengalir deras dari jutaan warganet.
Banyak orang tersentuh melihat ketulusan ikatan antara ayah dan anak ini. Doa-doa baik meluncur dari berbagai pelosok negeri, menguatkan hati sang ayah yang tengah berjuang.
“Seorang Ayah yang baik. Bismillah semoga sehat untuk kalian berdua dan diridhoi oleh Allah SWT Aamiin Ya Allah…,” ujar salah satu netizen mendoakan.
Rupanya, pintu-pintu langit terbuka lebar menyambut doa tulus dari orang-orang yang tersentuh oleh perjuangan mereka. Berkat perhatian luas dan kebaikan berbagai pihak yang tergerak oleh ketabahan mereka, takdir membawa Rama dan Faiz ke babak baru yang tak pernah membayang di benak Rama sebelumnya: kesempatan untuk menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.
Jejak Langkah di Tanah Suci: “Gara-Gara Kau Nak…”
Video dokumentasi perjalanan mereka di Tanah Suci menampilkan kontras yang begitu haru. Tak ada lagi dinding biru kos yang sempit atau celah pintu kayu yang dingin. Perubahan drastis ini tak luput dari sorotan publik yang terus mengikuti perjalanan hidup mereka.
“MaasyaAllah ih kemarin2 liat fyp adek ditinggal sendiri krna ayahnya bekerja skrg lg tiduran dilantai madinah yaa Allah,” ungkap seorang netizen yang tak mampu menahan rasa harunya.
Di bawah langit malam Kota Madinah, berdiri megah Jabal Uhud dengan latar belakang gemerlap lampu kota yang indah. Rama memeluk erat Faiz dari belakang. Di atas puncak bukit bersejarah itu, keduanya menatap hamparan pemandangan malam. Faiz yang kini makin menggemaskan tampak bersandar hangat di dada ayahnya—dada yang dulu selalu berdebar cemas saat meninggalkannya narik ojek.
Momen paling menyentuh hati terekam saat keduanya berada di pelataran Masjid Nabawi. Di bawah naungan payung-payung raksasa yang ikonik, Rama rebahan di atas karpet bersama Faiz yang mengenakan pakaian gamis dan peci hitam mungil. Dengan tatapan penuh kasih sayang dan mata yang berkaca-kaca, Rama memegang jemari kecil putranya.
“Terima kasih ya, Nak… Terimakasih banyak ya…” bisik Rama lembut kepada Faiz sambil mencium pipi dan kening buah hatinya itu.
Rama lalu berbaring terlentang sambil mengangkat tubuh Faiz ke udara, mengelitikinya hingga tawa riang balita itu pecah di tengah kedamaian Kota Madinah. Rama menatap putranya dalam-dalam dan berbisik penuh haru, “Bisa sampai di sini gara-gara kau, Nak… Karena kau, Panda bisa sampai di sini…”
Suasana magis itu berlanjut saat waktu shalat tiba. Di balik pendar sinar matahari sore yang menerobos celah payung Masjid Nabawi, Rama melaksanakan shalat. Faiz duduk dengan tenang di samping sajadah ayahnya, sesekali memegang tasbih kecil dan memperhatikan setiap gerakan ruku dan sujud sang ayah. Saat Rama bersujud lama menumpahkan seluruh air mata syukurnya ke lantai Masjid Nabawi, Faiz berjalan mendekat, menyentuh kepala ayahnya dengan jemari mungilnya, seolah hendak menenangkan dan membisikkan bahwa semua badai telah berlalu.
Melihat momen indah penuh haru tersebut, warganet pun mengamini keajaiban rezeki yang dibawakan oleh sang buah hati.
“Definisi anak membawa rezeki yang sesungguhnya. Semoga berkah dunia akhirat ya nak,” ujar netizen merangkum kisah perjuangan ayah dan anak tersebut.
Sejauh Ini Melangkah, Bersama Pergi dan Pulang
Kisah Faiz dan Rama adalah bukti nyata bahwa kasih sayang dan ketulusan seorang orang tua tak akan pernah sia-sia. Faiz yang dulu setia menunggu ayahnya pulang di balik pintu kos, kini menjadi ‘pintu rezeki’ dan alasan utama bagi ayahnya untuk mengepakkan sayap lebih tinggi.
Dulu, jarak dipisahkan oleh kilometer jalanan Kolaka yang harus ditempuh Rama demi sesuap nasi. Kini, jarak itu telah berubah menjadi ribuan kilometer penerbangan menuju tanah para nabi. Faiz tidak lagi menunggu di balik pintu; ia kini melangkah bersama ayahnya, menggenggam erat tangan pria yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi dirinya.
Bagi Rama, perjalanan hidupnya bersama Faiz masih sangat panjang. Namun satu hal yang kini ia yakini: sejauh apa pun jalan yang harus ditempuh di masa depan, ia tidak akan pernah ragu lagi. Sebab di sampingnya, ada Faiz—malaikat kecil yang tidak hanya menunggunya di rumah, tetapi juga menuntun langkahnya menuju keberkahan hidup yang tak terhingga.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










